Tag

, , , , ,

Dolan ke Da Nang

Dolan ke Da Nang, Vietnam Tengah

Voila…ini blog sampai lumutan karena jarang update. Nah ini mumpung ada teman bertanya, eh kalau ke Da Nang Vietnam, apa sih yang menarik?

Dolan ke Viet Nam? Apa sih menariknya, bukankah negara ini baru bangkit dari puing-puing perang. Apalagi ke Da Nang, Vietnam tengah. Kota no 3 di Vietnam sesudah Ho Chi Minh City dan Saigon. Terbayang kan rankingnya.

Namun suatu perjalanan adalah pencarian. Selalu ada yang menarik dari perjalanan. Dasar emak kebun mudah sekali merasa tertarik sesuatu. Tidak selalu hal muluk-muluk, sederhanapun tetap menarik.

Menyadari sulitnya menjaga mood menulis. Perjalanan ini saya sajikan dalam rangkuman jurnal meski sangat singkat. Mari siap jalan-jalan.

H1 Perjalanan, singgah di KL

Pagi baru beranjak, kami sejumlah emak dan beberapa bapak meluncur ke Semarang. Menumpang burung besi AA melayang ke KL. Yuup lewat tengah hari mendarat di KL, usai urus bagasi dan imigrasi bergegas mencari thotholan siang di kawasan bandara.

Lanjut dengan bus menuju ke KL central, kami menginap di kawasan ini. Pilihan para pedolan ringan, KL central yang terintegrasi antara terminal bus, stasiun pun pertokoan dan penginapan.

Sudah ada aba-aba usai masukkan barang ke kamar lanjut jalan yaak. Wokeh, urus pindah kamar segala karena aroma rokok yang menyengat, lumayan mendapat kamar yang sedikit samar aroma nikotennya.

Riuhnya Jl Alor Bukit Bintang, KL

Mari menuju lajuan monorel dolan ke salah satu pusat keramaian di areal Bukit Bintang. Tujuan pertama ke kawasan Jl Alor. Yup kawasan yang terkenal sebagai pusat kuliner. Aneka pilihan tersedia. Mendamparkan diri pada gerai makanan Thai, makin lengkap incip jajan ketan mangga. Loh makan di KL serasa di RT Gajah Putih.

Perjalanan balik ke hotel tak selancar berangkatnya. Maklum aneka ‘gangguan’ jajaran toko besar yang terlewati. Ini baru hari pertama loh, belum sampai tujuan pulak.

H2, Perjalanan KL ke Da Nang.

Masih gelap kami bergegas ke bandara dengan mobil carteran biar tidak terlalu ribet. Sarapanpun dilakukan di bandara, peserta segera terburai ke aneka sudut. Ada yang menarik di KLIA2 pagi ini, sistem komputerisasi jadwal penerbangan terganggu. Jadwal disajikan dengan tulisan tangan. Tak ada niatan untuk viral-viralan, selalu maklum dapat terjadi gangguan sistem. Utamanya semua lancar.

Penerbangan ke Da Nang nan lancar. Begitu memasuki kawasan udara sekitar Da Nang, mata nyalang melihat fisiografi kawasan dari atas. Bermula dari hutan-hutan di bagian pedalaman, memasuki areal pantai baru pemukiman yang relatif jarang. Bersiap Da Nang adalah kota yang tidak terlalu besar.

Da Nang….kami datang…

Bandara yang relatif simple tata letak fungsionalnya. Mulai bertemu dengan aksara dan bahasa lokal. Selamat datang di Da Nang. Kami di jemput oleh tur lokal dengan bus dan diantar drop ke hotel. Pinggir kali, yuup kami menginap di Hotel Salem Riverside. Nama Da Nang berasal dari bahasa Cham yaitu Da Nak yang artinya pembukaan sungai besar. Sungai Han yang cantik.

Usai chekin, kembali seruan bergema yook kita makan siang ke pasar lokal. Menggunakan beberapa grabcar kami mulai petualangan. Pasar Han menjadi jujugan. Satupun dari kami belum pernah dolan ke sini termasuk pemandu wisata dari rumah.

Pasar Han di Da Nang….

Saatnya menjajal makanan lokal. Semangkuk mie putih dengan ayam jadi pilihan emak kebun. Nambah jus apokat yang tampil segar menggiurkan. Perut penuh semangat lihat pasarpun dimulai. Beberapa sahabat mulai dengan aneka cindera mata.

Emak kebun jelalatan dengan produk lokal, mulai dari caping, aneka hasil laut yang tertata rapi bersih. Kelompok sayur yang segar. Rasanya ini pasar lokal dengan tatanan tak kalah dengan super market.

Dagangan di Pasar Han, Da Nang

Emak kebun, meraup biji lotus (lotus seed) oleh-oleh khas Vietnam. Saat teman-teman mengomentari koq lotus seed lumayan mahal, dengan gaya kebun si emak berceloteh. Buibu, satu tangkai bunga yang menghasilkan hanya belasan biji lotus loh. Ukurannyapun sangat ringan. Nah untuk menghasilkan 1 kg biji, berapa luasan tanamannya, berapa tenaga pengolahnya, hehe.

Dari pasar lanjut ke mall, Big C…hehe jauh-jauh nge mall juga. Jujugannya adalah pia durian. Mangga kalau dilanjut dengan kopi lokal Vietnam yang juga terkenal. Selama manteman masih sibuk memindahkan pia ke troli, emak kebun malah terdampar di kios bunga.

Pia durian…lezat…

Malamnya, saat teman-teman berburu ke mall di dekat hotel, emak kebun bersama seorang sahabat memilih menyusuri pinggir kali. Sungguh aliran kanal yang dipermak bagus. Sepanjang tepiannya untuk wisata kuliner tertata rapi. Jembatan-jembatan yang melintang didandani dengan aneka tema.

Han riverside…Da Nang

Berbekal telunjuk dan lembar mata uang ikut mencakung dipinggiran sungai. Menikmati makanan lokal yang bahkan tak tahu namanya. Mencicip seperti kerupuk bersalut pasta bumbu, lalu jagung rebus ditumis dengan sayuran dan semacam teri. Kagum dengan esok harinya bekas jualan tidak terlihat, karena kembali bersih.

H3, Ba Na Hills

Usai sarapan aneka pilihan di hotel, seperti biasa selalu memilih jenis makanan setempat, perjalanan dimulai, difasilitasi tur lokal. Menyusur pantai Da Nang, kemudian menanjak ke stasiun cable car yang akan membawa kami ke Bana Hills.

Berhenti sejenak di taman kota yang dirancang seperti little world tidak berbeda dengan wisata kekinian di sekitar kita. Bedanya ini gratis karena fasilitas umum.

Sun World, Da Nang

Sun world, negeri matahari pagi ini berjejal dengan bus-bus wisata dan kendaraan pengunjung. Mendaki tangga berjalan berseling tangga undakan biasa kami menuju ke stasiun. Bagi pengunjung yang menginap di hotel Mercure yang berada di puncak bukit, tiket cable car sudah tercakup.

cable car menuju French village, Da Nang

Keunikan Bana Hills adalah replika kampung Prancis. Yuup, mengingat bahwa Da Nang adalah kota pelabuhan yang dahulu menjadi jajahan Prancis. Para pendatang dari Prancis kebanyakan bermukim di puncak bukit yang sejuk.

Nah kini, reruntuhan tersebut dibangun kembali dengan menghidupkan rasa Prancis. Lah ini dolan Da Nang rasa French Village hehe. Pemandu wisata mengakui ada nuansa Genting Highland, Kuala Lumpur, Malaysia untuk menghidupkan Bana Hills, bedanya tanpa taburan kasino.

Menikmati pendakian dengan cable car melintasi hutan primer dengan lansekap alami. Terlihat tebing padas, aliran air, vegetasi lebat. Baru sadar saat memperhatikan ke arah kaki, kami menaiki cable car yang beralas kaca transparan (glass floor) sehingga serasa tak berdasar. Biasanya saya hindari hehe…jadilah pengalaman pertama.

cable car, glass floor, uji nyali

Perancis rasa Vietnam di Da Nang

Kami langsung menuju puncak dengan stasiun yang menawan. Penataan lansekap, sajian taman mawar. Sajian pertunjukan terjadwal hampir tanpa jeda membuat wisata Bana Hills sangat hidup. Moga bisa membuat postingan khusus Bana Hills. Makan siang dilaksanakan di Arapang resto yang menyediakan lebih dari 70 menu. Dengan membayar tarif tertentu, pengunjung bebas mencicip sekenyangnya. Aneka menu lokal menggoda untuk dijajal.

Golden bridge di Da Nang

Jelang sore kami beranjak ke stasiun dibawahnya. Nyamperi golden bridge, jembatan keemasan dengan pola disangga tangan. Masih tetap berjubel pengunjung. Lanjut ke taman Le Jardin D’Amour yang keren cantiknya. Selama buibu asyiik pepotoan di taman cantik, bersama sahabat kebun, kami menyusuri penyimpanan anggur kuna wine cellar. Konon ini satu-satunya yang asli peninggalan Prancis di Bana Hills yang dibangun pada th 1923.

H4, menuju dan menginap di Hoi An

Marble mountain di Da Nang

Singgah sejenak di Marble montain di perjalanan. Da Nang pandai menjual potensi lokalnya. Tempat ibadah di puncak bukitpun jadi tujuan wisata. Tenang tanpa pendakian, tersedia lift di sebelah bukit dan disambung dengan jembatan ke areal wisata. Kota Da Nang terlihat dari atas.

Hoi An, yuup inilah salah satu alasan emak kebun mengikuti dolan Da Nang ini. Hoi an adalah Situs Budaya Warisan Dunia UNESCO. Berupa ancient town kota kecil tua. Disinilah berpadu budaya Vietnam, Jepang dan China.

Hoi An, UNESCO world heritage di tepian Thu Bon river

Hoi An merupakan kota pelabuhan dagang tersohor pada zamannya. Kini tetap dipelihara keasliannya. Berada di sekitar kanal Thu Bon River dengan deretan bangunan mungil nan renta. Beberapa teman mengatakan, halah seperti Semarang kota tua atau kota tua Jakarta. Nah bagaimana upaya meraih pengakuan UNESCO itu kuncinya.

Thu Bon river di malam hari, Hoi An

Menjadi daya pikat wisatawan dari seluruh penjuru dunia. Malamnya, saat manteman mencari mall di sekitar tempat menginap hotel Kiman yang bergaya Jepang. Bersama seorang sahabat kebun, kami malah kembali ke pinggir sungai di kawasan kota tua. Tenang saja, Hoi An menjamin keamanan kota demi turis. Tetap loh ya waspada. Pulangnya kami naik taksi argo kembali hotel. Biasa, teman-teman dolan hafal gaya emak kebun yang sering meninggalkan kawanan tuk blusukan memenuhi rasa kepo dari bacaan tempat dolan.

H5, Da Nang Citytour

Pantai dengan perahu waskom khas Vietnam

Kembali ke Da Nang dari Hoi An yang hanya sekitar 1 jam perjalanan. Menuju semenanjung Son Tra jauhnya 10 Km dari jantung kota Da Nang ke arah Timur Laut. Membujuk pemandu tur lokal berhenti sejenak di pantai tuk menikmati perahu bundar mirip waskom yang khas. Kembali hamparan hijau tersaji dari semenanjung apik ini.

Memandang Da Nang dari semenanjung Son Tra

Saatnya wisata kota. Salah satu kunjungan adalah Than Dua. Olala kerajinan bambu. Uniknya bukan kerajinan perabot namun serat bambu diolah menjadi benang dan menjadi aneka model fashion.

Bamboo cloth…Da Nang

Lanjut makan siang dan menuju pasar lokal yaitu Con Market, pasar tradisional yang dikemas sebagai pusat wisata. Alamak panasnya Con Market di bulan Agustus. Hampir seluruh peserta balik kanan graak memilih mall Big C di sebelahnya yang sejuk.

Con Market di Da Nang

Tertinggal duo emak kebun yang malah asik menyusuri Con Market.Lantai atas adalah grosir kain dan pakaian. Lantai bawah grosir aneka kebutuhan rumah tangga. Kami menelusup ke areal food court yang resik juga pasar hasil bumi.

Traditional market di Da Nang

Salah satu keunikan Da Nang adalah pink church, gereja dengan nuansa merah jambu menyembul dari lingkungan yang sangat berbeda. Banyaknya pengunjung mengindikasikan populernya tempat ini yang memang instagramabel buat pemain medsos.

Pink church, Da Nang

Geliat pasar Han di Da Nang

Kembali ke pasar Han yang pernah kami kunjungi saat datang. Kali ini geratakan ke lantai atas. Menikmati kain-kain khas pakaian tradisional Vietnam Ao dai yang dikenakan para perempuan. Setelan celana panjang dengan tunik panjang dengan hiasan bordir bagus sekali. Bisa memilih pakaian jadi siap pakai, membeli kain dan langsung dijahitkan sesuai ukuran, hanya menunggu sekitar 1 jam atau membeli kain untuk dijahitkan di rumah.

Dragon bridge, kemewahan pinggir kali Da Nang

Bukan merlion…fish statue Da Nang

Mari kembali ke pinggir sungai Han, nikmati Dragon bridge di sore hari yang berdampingan dengan DHC Marina dengan Fish statue, ala-ala merlion di Singapore. Terpana dengan menata sungai menjadi kawasan wisata menangguk perekonomian lokal.

H6, saatnya kembali ke KL

Pagi hari diisi dengan packing, disela melipir ke mall terdekat merendengi manteman yang menghabiskan sisa uang VND Vietnam Dong hehe… Secara harga, barang-barang di Da Nang relatif terjangkau, juga nilai mata uang rupiah yang lebih tinggi, memudahkan mengontrol belanjaan. Kalau gaya emak kebun belum berubah, sekedar penikmat penggembira.

Usai makan siang, kami dihantarkan ke Bandara Udara Internasional Da Nang, usai sudah dolan Da Nang. Melewatkan senja di penerbangan kembali ke KL.

H7, kembali ke kampung halaman

Saatnya pulang dari dolan Da Nang

Saatnya pulang, mengambil penerbangan pagi dari KL ke Yogyakarta. Meski sebentar dolan ke Da Nang cukup berkesan. Nah, selalu mendapat pembelajaran, panorama di sekitar kita tak kalah indah. Bahkan lebih indah menurut kaca mata emak kebun. Tinggal pengelolaan dan kemasan narasi wisata yang disentuh. Salam dolan