Tag

, , , ,

Lembayung Senja

Lembayung Senja

Lembayung Senja

Saat spektrum warna langit beralih dari benderang ke oranye keemasan, barisan lidah berdecak kagum. Mengiringi golden moment saat bola raksasa jingga keemasan turun ke peraduan, para pemburu dan penikmat senja terkesiap terserap rasa sukma. Usai pentas merah jingga keemasan, tetiba langitpun meredup, spektrum warna langit berubah ke merah biru keunguan entah mana yang mendahului ataupun mendominasi, kosmik mikropun berubah serasa aliran angin tersendat, suhu atmosfer bergoyang turun, ada aura tak terkatakan menelusup ke jiwa.

senja.....

senja…..

Saat kami kecil, spektrum merah jingga keemasan diperkenalkan oleh Ibu Bapak sebagai candik ayu. Para bidadari menghendaki anak-anak asuhannya sudah mandi tampil ayu bersih, duduk di halaman bersama orang tua. Kami mengikuti semacam ritual ini dengan takzim dan menjadi kristal kenangan manis kebersamaan keluarga maupun bagian keluarga besar alam. Saat lembayung senja menaungi, orang tua menggengam tangan kami menuntun masuk ke rumah, ibu mendekap adik yang masih kecil, seraya berucap “saatnya candik ala, betara Kala mencari mangsa anak yang masih bermain di luar, anak kecil perlu didekap agar tidak rewel, setiap anak cantik bagus dijaga peri bidadari agar tidak dimangsa sang kala” Saatnya mikro kosmik bergoyang menuju keseimbangan ratri/malam, setiap titah menyadari siang dan malam, waktu kerja dan rehat, tetap bekerja saat tubuh perlu rehat hanya menyediakan diri menjadi mangsa sang kala [si bocah kecilpun tak pernah berucap tanya, lah kalau orang kerja shift malam bagaimana, pastinya sang titah belajar bijak menata waktu]

membingkai lembayung senja

membingkai lembayung senja

Bagi seorang pejalan, menikmati candik ayu adalah kemewahan, berkat tiada tara telah diizinkanNya menikmati putaran masa dari fajar, gempita tengah hari, hingga saat lingsiring surya. Menghadapi candik ala sang lembayung senja kerap menghadirkan secuil gelisah bagi sang pejalan. Bayangan berjalan sendirian di kegelapan, di dinginnya malam, balutan rasa sepi yang membuatnya bergetar. Tawaran singgah, “mari sahabat pejalan, tinggallah bersama-sama kami, sebab hari tlah menjelang malam dan matahari hampir terbenam” disambutnya dengan syukur tiada terkira sering bersama dengan tetesan air mata gembira.

Lembayung senja....abide with me...

Lembayung senja….abide with me

Pejalan…..bukankah setiap kita juga pejalan….. Bersyukur diizinkanNya melintas “hari” dari fajar, pagi, agak siang, tengah siang, sore, pun senja. Bersyukur atas aneka spektrum warna kehidupan, anugerah luar biasa saat menikmati spektrum senja sang candik ayu, bonus istimewa kala memasuki lembayung senja. Tawaran tinggallah bersama kami, hari tlah hampir malam adalah nyanyian merdu bagi sang pejalan.

Bagi perjalanan nyata untaian sang waktu, masa lembayung senja bukan fatamorgana, dia ada dan nyata. Bersyukur atas kebersediaan berbagi hati dari sang penyedia tawaran singgah, entah itu sanak keluarga, kerabat ataupun sekumpulan jiwa yang terbeban berbagi tempat singgah. Berbagi rumah singgah tak selalu mudah, hanya kebesaran hati sang penawar maupun penerima tawaran yang mampu menjembataninya.  Pun keberanian sang pejalan yang berangkat dari kerendahhatian menyeru permohonan …untuk tinggal bersama…lembayung senja melingkupiku adalah perwujudan ikrar penyerahan diri pengakuan ketiadaberdayaan…Abide with me… Setiap kita diberi kesempatan menyeru ….abide with me..tinggal sertaku….di setiap ‘lembayung senja’ kita.

Selamat menikmati dan mensyukuri perjalanan entah pagi, siang, sore, bahkan lembayung senja…..