Tag

, ,

Gorong-gorong Lawang Sewu

Lawang Sewu ikon Kota Semarang, siapa yang tak kenal? Sejarah maupun keindahan arsitektura bangunannya mempesona banyak pengunjung. Ada yang tertarik dengan gorong-gorongnya? Yook bersama saya blusukan di bawah tanah gedung B….

Gedung B Lawang Sewu (kanan)

Gedung B Lawang Sewu (kanan)

Fungsi gorong-gorong
…….. Bangunan Lawang Sewu yang dahulu disebut Wilhelminaplein adalah bekas kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS (Perusahaan kereta Api Belanda). Mulai dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada sekitar tahun 1907. Ciri khas bangunan perkantoran jaman Belanda, diawali dengan rancangan yang sangat memperhatikan kondisi lingkungan. Menyadari Kota Semarang memiliki curah hujan yang tinggi dan elevasinya pesisir datar dirancang sistem drainase untuk pembuangan air berlebih, jadi air buangan tidak dibiarkan mengalir ke sembarang tempat sehingga mengganggu sanitasi/kebersihan lingkungan. Pilihannya adalah dirancang sistem pembuangan air melalui pipa bawah tanah untuk dibuang ke sumur resapan sehingga permukaan bangunan tidak becek dan banjir. Ruang bawah tanah inilah yang dipergunakan untuk pengaturan sistem drainase yang mengontrol suplai air buangan demi mencegah banjir. Selain itu, ruangan bawah tanah ini juga berfungsi sebagai pengatur suhu gedung Lawang Sewu, hmmm pendekatan yang sangat ekologis tropis.……

Balikkan kesan….!!!!!
Memasuki bagian menuju bawah tanah tempat gorong-gorong (saluran air di dalam tanah) berada terasa kesan (maaf) agak kumuh dan “dibangun kesan kurang nyaman”, semisal cerita-cerita seram, ruang suram, senter maupun sepatu boot dengan imej becek. Belum lagi kombinasi pertanyaan berbalut nada bujukan, berani turun? Sebenarnya dari bagian museum maupun paparan sejarah Lawangsewu, salah satu keunikan dan keunggulan rancang bangun komplek gedung megah ini adalah rancangan sanitasi dan drainase (pembuangan air berlebih) yang ditata secara excellent, melalui saluran air dalam tanah alias gorong-gorong.

Sehingga, saat pemandu wisata bertanya, apakah ibu akan turun? Kami emak kebun sepakat iyalah sudah sampai di sini. Menyelesaikan ‘administrasi tambahan’, memilih boot plus senter dan siap menuruni tangga agak curam di ruang nan gelap.

menuju ruang bawah tanah Lawang Sewu

menuju ruang bawah tanah Lawang Sewu

Pada bagian ujung bawah tangga didapat bak-bak tandon pembuangan air yang semua mengalir melalui pipa pembuangan. Bergerak menjauhi tangga mengikuti lorong yang sangat panjang dengan pipa penampungan, pada beberapa bagian nampak bekas pipa pembuangan air dari wastafel di ruangan tepat diatasnya. Pada bagian kanan, terdapat bak-bak kecil penampungan air berderet yang pernah dialihfungsikan dengan sangat kejam diluar batas kemanusiaan oleh Jepang sebagai ruang tawanan. Pada bagian terjauh dari ujung tangga masuk terdapat kolam yang masih cukup menggenang dengan selang-selang terhubung dengan pompa untuk mengurangi tinggi genangan di lantai bawah tanah. Bila kini lantai sering sekali tergenang air di ruangan bawah tanah, disebabkan oleh masuknya air dari luar akibat pendangkalan sungai di luar gedung.

Penampungan air bawah tanah

Penampungan air bawah tanah

Pipa ruang bawah tanah

Pipa ruang bawah tanah

Menampung buangan air talang, wastafel

Menampung buangan air talang, wastafel

Nah, dengan gambaran tersebut sangat menyedihkan bila dibangun kesan setengah horror di ruangan tersebut. Mengapa ya tidak dilakukan pembalikan kesan semisal disajikan saja rancangan pipa drainasenya sehingga ruang bawah tanah ini menjadi bagian pembelajaran rancangan arsitektura ekologis tropis yang menarik.

Berikut adalah Kajian Aspek Tropis Pada Bangunan Kolonial Lawang Sewu Semarang (Malik, Abdul (2004). Jurnal Jurusan Arsitektur UNDIP. Dengan penekanan pada sistem utilitas air, disajikan cuplikannya yang diambil plek, kuatir mengubah makna, karena ranah arsitektura di luar jangkauan saya….lengkapnya pada link terkait.
[•AIR BERSIH: Air bersih diperoleh / diambil dari sumur besar di luar site yang langsung di pompa menuju tandon yang berada di atas bangunan menara kembar kemudian baru disalurkan ke seluruh bangunan (sistem down feet).

•AIR KOTOR: Air kotor langsung disalurkan keselokan yang ada di sekitar site sehingga tidak menggunakan tempat penampungan atau bak kontrol dimana air tersebut dialirkan melalui pipa yang ditanam di dalam tanah.

•AIR HUJAN: Saluran air hujan dari atap di tampung pada talang terbuka dengan ukuran lebar ± 40 cm kemudian disalurkan melalui pipa tertutup ke bawah tanah yang berada di basement yang kemudian air tersebut dipergunakan kembali setelah diproses.

Sedangkan pada tiap-tiap lantai di bagian selasar diberikan aliran-aliran dari beton untuk menampung air hujan yang kemudian dibuang ke bawah tanah melalui selokan terbuka dari beton dengan ukuran lebar 40 cm. Untuk drainase air hujan pada bagian ruang luar umumnya menggunakan peresapan setempat walaupun ada juga selokan-selokan kecil terbuka yang digunakan untuk mengumpulkan dan mengalirkan air hujan yang jatuh dari atap melalui talang yang ada. Salah satu hal yang menarik dari gedung ini ialah adanya saluran penangkal banjir yang dapat terlihat dengan jelas]

Menara kembar sebagai tandon air bersih

Menara kembar sebagai tandon air bersih

Tambahan tukang kebun, bahkan pohon tali jiwa tua dengan diameter tajuk raksasa di tengah halamanpun tidak hanya mempermanis kesan, sekaligus juga penyerap air tanah, pengatur evapotranspitasi, bagian dari daur hidrologis mikro. Tertarik dengan gorong-gorong bawah tanah di Lawang Sewu? Pastinya ya……

Mangga tali jiwa, penyerapan air dan evapotranspirasi

Mangga tali jiwa, penyerapan air dan evapotranspirasi