Tag

, ,

Mamanda, Pesona Bumi Lambung Mangkurat

Mamanda

Mamanda, teater tradisional masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan

Mengikuti suatu event yang dilanjutkan dengan malam ramah tamah pastilah jamak dialami. Padepokan Lambung Mangkurat mengemas acara dengan unik, kami para tetamu dari aneka penjuru Nusantara dijamu di pelataran kebun berpayungkan angkasa bumi Banua. Salah satu jamuan kesenian yang sungguh memikat adalah mamanda. Sang penata acara membekali kami penonton dengan paparan singkat bahwa mamanda adalah teater lokal masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan dengan wujud mirip kesenian Lenong dari Betawi yang menjalin keakraban dengan penonton melalui dialog bersambut. Mamanda malam tersebut dipersembahkan oleh para teruna kebun Padepokan Lambung Mangkurat yang tergabung dalam komunitas seni Sanggar Talas. Lakon yang digelar bertajuk “Merajut Asa di Pelinggam Cahaya”

Pagelaran diawali dengan fragmen sepasang petugas keamanan yang bergelar Harapan Pertama dan Harapan Kedua yang diiringi oleh pemain musik kendang tunggal. Dialog dibangun dengan rancak, sesuai dengan adab kesopanan setiap pemain memperkenalkan gelar diri agar tidak memicu salah persepsi, “Bukankah begitu sahabatku, Harapan Kedua” “Betul sekali sahabatku, Harapan Pertama” dilanjutkan dengan berbareng meneriakan Eeee…. Dengan pola akhir dialog yang senada, hanya perlu dua kali dialog kami para penonton mulai terlibat dengan seruan Eeee…. yang membahana.

Fragmen berikutnya melibatkan kehadiran Perdana Menteri yang memberikan arahan kepada Harapan Satu dan Harapan Dua menyambut persidangan Kerajaan Pelinggam Cahaya. Persidangan terbatas dipimpin oleh Raja dengan dampingan penasehat, permaisuri dan Mangkubumi. Sebagai raja yang akomodatif pemimpin persidangan menelisik masalah demi masalah kesejahteraan rakyat dengan selalu meminta masukan dari setiap pihak yang disebut dengan kehormatan Paman atau ‘Mamanda’ dalam bahasa daerah Banjar.

Kehadiran Panglima Perang yang sejak masuk menguarkan aura jumawa layaknya peran antagonis, pasangan Khadam alias ajudan sang badut yang kocak, aduan dari aneka komponen rakyat yang disampaikan dalam bahasa daerah Banjar yang bermuara pada ketidak selarasan data. Dari mana awalnya? Perdana Menteri tertuduh, menyeret Panglima Perang, menarik Mangkubuni, merembet ke Khadam, benang ruwet terjalin. Dengan santunnya Sesepuh dan permaisuri memberi saran kepada Raja untuk menangguhkan persidangan dan Raja menelisik sendiri dalam arif. Tralala…awal dari kehebohan adalah persekongkolan Mangkubumi dan Khadam yang sejak awal tampil kalem kocak menjadi akhir yang tak terduga ibarat twist dalam flash fiction. Mangkubumi digelandang keluar dari persidangan dengan tidak hormat, Khadam diturunkan pangkatnya menjadi jeem bukan general manager namun tukang jaga malam. Ya…Merajut Asa di Pelinggam Cahaya, ditegakkannya keadilan, teladan penguasa yang berdedikasi kepada kesejahteraan rakyat.

Ada kesamaan dengan Ketoprak maupun Ludruk dari daerah Jawa, namun ada pembeda pemain baku seperti Raja, Perdana Menteri, Mangkubumi, Panglima Perang, Harapan Pertama, Harapan kedua, Khadam (Badut/ajudan), Permaisuri. Berbekal informasi dari mbah Google, Mamanda berasal dari kata ‘Mama’ yang berarti paman (bahasa Banjar) dengan tambahan ‘nda’ yang dihormati. Seni tradisional yang popular, media hiburan sekaligus digunakan untuk sarana penyuluhan, pendidikan pekerti tanpa menggurui, kearifan lokal sejati, kalau ada yang tertempelak loh bukankah ini kisah dari kerajaannya si Khadam.

Mamanda-penikmat

Penikmat Mamanda

Apresiasi luar biasa kepada teruna kebun sanggar Talas ini, mengemas sajian elok dengan improvisasi cerdas ada MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) segala, generasi muda yang setia nguri-uri (memelihara) budaya leluhur, kefasihan wicara bahasa Banjar. [ada unsur kesamaan dengan bahasa Jawa yaitu ‘nggih’ utuk menyatakan ya secara hormat, ada terdengar nada bahasa Sunda]. Teruna yang kesehariannya bergelut dengan perkuliahan, praktikum di laboratorium, lahan maupun masyarakat pertanian namun masih menyediakan diri untuk berkesenian. Maju terus teruna kebun padepokan Lambung Mangkurat. Bravo Mamanda….