Tag

, ,

Semangkok soto panas bersama sambal pedas menghangatkan dan menenangkan perut. Aneka soto kita kenal, salah satunya soto ESTO Salatiga. Yook ikut narasinya.

Soto ESTO

Kenangan masa kecil, soto kami menyebutnya saoto adalah suguhan yang sesuatu. Sangat jarang ibu menghadirkannya di meja makan. Diperlukan alasan yang sangat kuat untuk menyembelih seekor ayam sebagai pasugatan/suguhan keseharian.

Walhasil, lidah kami mencecap rasa soto saat ngiras atau jajan makan di tempat. Itupun kami perlu ke kota Kecamatan. Warung soto hadir di dekat stanplat (terminal) bus dan pasar Kecamatan. [Aha, sahabat kebun RyNaRi nyeletuk, tinggalnya di sudut udik mana sih?]

Aroma sedap menyebar dari kuali yang dijerang di atas anglo. Paduan rempah daun salam, kunyit, serai dan daun jeruk purut sungguh menggoda. Mata bocah cilik terbelalak mengamati kesigapan tangan penjualnya.

Diciduknya setengah centong nasi. Pluk…. teronggok di mangkuk, ditambahkan sejumput soun, kecambah. Sejimpit suwiran daging ayam puncak kemewahan. Yup suwiran bukan irisan, disuwir sangat halus mengikuti serat daging. Biar babar alias rowa atau sangat irit sejimpit.

Saatnya irus sendok sayur berbahan tempurung kelapa beraksi. Disiramkannya kuah soto ke mangkuk tatanan sajian. Pyuur, sejimpit irisan daun sledri dan bawang goreng ditambahkannya.

Semangkuk soto siap disantap dengan sendok bebek. Tersedia sambal pun kecap di meja. Begitupun lauk tambahan bila diinginkan.

Soto ESTO Legendaris Kota Salatiga

Seiring waktu dan pengertian, soto bukan hanya semangkuk makanan. Menjadi identitas budaya kuliner berbagai kota. Bagian daya tarik kedatangan dan nostalgia. Soto apa nih kesukaan sahabat RyNaRi?

Semisal Soto Betawi berhasil mendapatkan penetapan warisan budaya takbenda tingkat Nasional pada tahun 2016. Memiliki no penetapan 201600346, pengusul DKI Jakarta, domain Keterampilan dan kemahiran kerajinan tradisional.

Begitu banyak nama soto yang diikuti nama kota. Ada Soto Bandung, Betawi, Banjar, Lamongan, Boyolali, Sokaraja dll. Bagaimana dengan Salatiga?

Kota Salatiga memiliki soto legendaris dengan tetenger soto ESTO. Bagi warga Kota Salatiga yang merantau akan jadi klangenan. Begitupun buat pendatang, kangen dengannya. Juga daya tarik bagi pengunjung ataupun pelintas kota.

Konfigurasi sajian nasi soto ESTO menggoda. Bewadahkan mangkuk, nasi berpadu dengan soun, kecambah, tambah sejumput suwiran ayam kampung.  Lalu kress penjual meremuk karak gendar diatasnya.

Lanjut disiram dengan kuah harum gurih bersantan encer. Kuah menguning segar. Kombinasi hijau irisan halus daun seledri dan bawang merah goreng keemasan. Racikan akan dilayani sesuai permintaan.

Komplemen di meja makan berupa sambal, kecap pun irisan jeruk soto. Tersedia aneka lauk yang menggoda. Nah ini salah satunya adalah mento. Terbuat dari parutan singkong dan kacang tolo yang dikepal lalu digoreng. Aroma kencurnya terasa.

Di mana sajian soto ESTO dapat sahabat kebun Rynari jumpai? Aha sekarang mudah dengan bantuan aplikasi peta. Sajian sedap ini berada di jl Langensuko, ancar-ancarnya di belakang Rumah Dinas Walokota, Salatiga. Dekat dengan bundaran Kota Salatiga.

Sebutan soto ESTO, karena awalnya warung soto ini menempel di garasi bus ESTO. Sebagai pendatang yang kulanuwun di Kota Salatiga awal tahun 1980an kami juga ‘wajib’ bersalam. Ikut berjejal bersama penikmat memenuhi tenda beratap terpal.

Tempat duduk incaran adalah dingklik (bangku panjang) di depan penjual. Mudah bila minta tambah hehe. Meja angkring beralaskan daun pisang berisi lauk yang menumpuk.  Pesanan lauk tambahan disajikan pada mangkuk kecil, lauk diiris, ditambah sedikit kecap dan taburan bawang goreng.

Angkring soto ESTO

Pola berbagi rezeki dilakukan. Pedagang soto fokus dengan sediaan soto dan uba rampe utamanya. Untuk camilan ataupun minum disediakan oleh rekanan yang berada  pada satu tenda. Andalannya adalah wedang tape dan es dawet.

Pola pengelolaan kolaborasi yang sederhana. Pembayaran dilakukan usai makan kepada masing-masing. Tanpa pembagian peran kerja yang kaku. Ada peran rangkap antara peracik dan kasir. Pada hari Minggu saat pengunjung warung soto membludag, diberi ruangan di garasi bus ESTO.

Berbicara tentang ESTO saatnya merambah histori transportasi Kota Salatiga. Ini hasil ulikan dari buku Salatiga Sketsa Kota Lama karya Mas Eddy Supangkat.

ESTO adalah singkatan dari Eerste Salatigasche Transport Onderneming berdiri pada tahun 1923. Perusahaan transportasi sekitar tahun 1920-an yang dipelopori oleh Kwa Tjwan Ing. Transportasi pengubung antara Salatiga dengan satelit sekitarnya.

Nah menikmati suapan soto ESTO merasakan sematan sensasi histori transportasi Kota Salatiga. ESTO menjadi sarana berkah rezeki. Seputar garasi saja ada soto ESTO, soto garasi ESTO dan soto bengkel ESTO.

Kini bangunan utama garasi beralih fungsi. Gerai soto yang semula menempel di garasi, Jl Langensuko 27, pindah ke rumah permanen di seberang arah kanan, jal Langensuko no 4. Begitupun bangunan bengkel ESTO menjadi Pujasera (Food court) kekinian dengan tetap menyematkan nama aslinya.

Menyantap soto sembari menikmati sensasi histori transportasi? Soto ESTO Salatiga jawabnya.

Terbit di Kompasiana