Tag

, , , , ,

Bila Ada Sumur di Ladang……

Bila ada sumur di ladang

Bila ada sumur di ladang

Setiap kita pastinya tidak asing dengan pepatah …. Bila Ada Sumur di Ladang……  Sewaktu SD saya kira pepatah tersebut tersusun oleh pengutamaan guru lagu alias kesamaan bunyi pada akhir kata. Ternyata pepatah tersebut mengedepankan hasil amatan di alam, bagian dari alam takambang jadikan guru.

Beberapa waktu lalu kami berkunjung ke Desa Semawung di Kecamatan Andong, Kabupaten Boyolali. Merupakan wilayah yang mengandalkan pasokan air dari kemurahan hujan alias tadah hujan. Petani menyiasatinya dengan pembangunan sumur di ladang sebagai penampungan air hujan juga air tanah dan memanfaatkannya untuk menyiram tanaman di musim kemarau. Badan sumur bervariasi dari bangunan perigi hingga beton cetakan.

Pranata mangsa mencatat sebagai mangsa kanem (keenam) yang dimulai dari 10 Nopember hingga 43 hari ke depan. Saatnya petani mulai menyebar bibit padi di persemaian hingga saatnya didawut lalu ditandur (ditata tanam seraya mundur). Olah akal budi manusia mengajarkan pada beberapa wilayah, waktu hujan tidak akan mencukupi, sehingga petani mengawali masa tanam dengan model gogo alias padi kering yang akan dilanjut dengan rancah hingga efisien dalam pemanfaatan sumber daya air. Lahan digarap secara efisien dengan tiga musim gogo rancah, rancah dan palawija yang mengandalkan keberadaan sumur di ladang.

Mangsa kanem ditandai dengan musim panen buah-buahan semisal panen raya mangga, ditengarai burung blibis mulai kelihatan di tempat-tempat berair menambah keelokan bentang persawahan. Chandranya adalah rasa mulya kasucian (musim buah-buahan menua, saatnya menggarap sawah) penegas untuk segala sesuatu ada waktunya. Semakin menyadari bahwa sumur di ladang adalah bagian dari teknologi tepat guna yang dibangun dari pengetahuan dan kearifan lokal pendukung kedaulatan pangan. Semoga