Tag

,

Mangan (ora) Mangan Kumpul

mangan lan ngumpul 

Bukan…ini bukan tentang buku sketsa bertajuk serupa karya budayawan Umar Kayam. Ini sekedar rasanan saat tak mampu mencegah, satu demi satu anggota keluarga keluar dari susuh, pamit hendak melanjutkan kehidupan. “Lah iya, lha wong tidak bisa menyediakan sawah, biar pada cari makan di tempat lain” Batal dong peribahasa mangan (ora) mangan kumpul….. Untuk kumpul era kini ada aneka sarana, paling mudah kami mempergunakan WA grup RyNiNari. Pernah diajari skype an biar bisa komunikasi sambil menatap wajah serasa kumpul, namun kekatrokan menjadi penghalang. Bila ingin ketemu langsung, yang mana yang longgar yang berkunjung.

Ini coretan ringan kunjungan ke susuh Sukatani akhir April ngancik Mei lalu. [othak athik gathuk, mbarep tukang kebun memperoleh berkat susuh juga di love gardening village] Bleber….menclok di HLP Jumat siang, malamnya sudah bermarkas di Sukatani, satu demi satu mas tengah dan ragil ngumpul di sini. Mangan dong, lah iya mbak mbarep mempersiapkan aneka pasugatan nyamleng. Mas Tengah menyebutnya foodgasm di rumah.

Kumpul tidak harus seragam, entah perasaan entah kebiasaan ataupun pendapat, kumpul jadi sarana saling menerima perbedaan warna pribadi. Kumpul juga tidak harus selalu grudak gruduk. Ada saatnya grudukan nonton aksi Civil War yang sukses membuat emak bingung jalan ceritanya, dan tetap girang lah mudheng ora mudheng asal kumpul sebagai pengikatnya.

Minggu pagi, mas mbarep mengajak muter sekitar susuh. Segarnya udara dari pemukiman yang masih banyak tanaman rimbun. Sesaat berhenti terpikat dengan para-para di kebun yang terbuat dari rerantingan unik. Sapaan ramah pemilik kebun yang tak memandang aneh pada pelintas wilayahnya. Melintas di bawah jembatan tol di dekat jembatan kali Sunter, ooh ini jalan pintas menuju ke rumah 5B (5th bro) Banyak jalan untuk niatan kumpul…

Para-para

Para-para dari ranting pohon

Sejenak mampir di penjual tanaman hias. “Mari Mas, Ibu …. Silakan pilih sabrina, brokoli hijau-kuning, star yasmin, bawang-bawangan merah putih” khas penamaan tanaman hias ala penjual yang tidak selalu sama dengan nama botaninya. “ojok ditawar Mas, lumayan murah koq, itu Ibu Bapak penjual rela tidak kumpul keluarga (di Indramayu) demi bisa mangan” Berbonus diantar dan ditanamkan di halaman mungil mbarep. Layananpun professional, “ini tanah lempung merah Mas, sangat lengket bisa ditambah pasir, biar akar subur mau lain kali diantar media kompos?” Saran yang sangat pas dengan kondisi tanah. Banyak cara cari mangan dengan elegan…

Eloknya mangan (ora) mangan kumpul maupun bersyukur (isa) mangan (meski ora) kumpul.