Tag

, , ,


Selalu Hu Gembalaku

telaga-air-tenang-telagawarna

telaga-air-tenang-telagawarna

Etape Kinanthi 

Sepasukan sapta bocah cilik berusia tama polah ceria, di depan dan di belakang mereka selalu siaga sepasang pembimbing menemaninya, pasangan sang tegas dengan visi jelas dan sang lemah lembut penguat. Kinanthi….dibimbing. Layaknya sekar kinanthi yang memiliki sasmita dituntun dan dibimbing, dengan watak tembang cinta kasih, menasehati pun meneladani.

Seiring waktu kami dimampukan melihat itulah sepasang pembimbing yang meneladan kepada Sang Gembala Agung. [Selalu Hu Gembalaku, bri hatiku senang. Di padang hijau di tepi telaga air tenang. Ia membaringkan, membimbing, menyegarkan, menuntun] Sekar Kinanthi yang bersumber dari Gembala Agung dan sepasang gembala keluarga kami.

Etape Dhandanggula 

Pasukan bocah cilik bertumbuh menjadi teruna muda pun madya lalu bertambah anggota. Sekar kinanthi bersanding dengan ritme nuansa sekar dhandanggula. Kawalan secara fisik dilonggarkannya, dibiarkannya setiap kami memilih jalan, mata batinnya senantiasa mengawasi kami, memberikan pengingat akan gada dan tongkat penyertaanNya. Dhandanggula dengan paduan aneka peristiwa dan keadaan. Ada suka duka, kuat lemah, kelahiran kematian. Berpulangnya pemimpin utama maupun pemimpin kelompok 1 dan 2 tak menjadikan barisan keluarga ini semplah, saatnya ibu pemimpin lemah lembut cancut tali wanda ke garda depan.

Kembali kami diingatkan inilah pengejawantahan pengakuan “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku” Permohonan sekaligus pengakuan dan penyerahan diri. Sekar Dhandanggula yang bersumber dari Gembala Agung dan ibu gembala keluarga kami.

Etape Pangkur 

Barisan keluarga semakin panjang dan beragam usia dari tama, muda, madya hingga wredha. Saatnya sang pemimpin barisan mendelegasikan sebagian tugasnya, estafet keberlanjutan. Pastinya diperlukan kebesaran jiwa dan kemenepan batin. Ibu pemimpin bersama kami anggota wreda, saatnya belajar Sekar Pangkur. Pangkur ataupun mingkur, bermakna mulai mengundurkan diri dari mengandalkan kekuatan ngarcapada, saatnya lebih mesu hati.

Belajar dari sang pemazmur yang dengan lirih dan marem mengaku: “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa” Sungguh luar biasa daya sirep sekar Pangkur ini. Marem yang bukan lagi bersandar pada pencapaian namun pada penyerahan diri akan penyelenggaraanNya. Marem yang memukul telak kekuatan keakuan, marem yang tumbuh dari berdamai dengan keadaan diri sendiri.

Sekar Pangkur

Sekar Pangkur

[mengingatkan saat kecil kami, bila salah satu dari kami sakit atau rewel di malam hari, suasana sirep menyaput saat Bapak nembang Pangkur, mingkar mingkuring angkara…. Saat itu saya menduga Bapak sedang tulak bala, ternyata pemasrahan diri melalui pangkur, menyingkur keakuan]

Syukur atas karunia melalui Ibu selaku gembala keluarga kami putra wayah. Ibu yang mengajarkan sekar kinanthi, sekar dhandanggula maupun sekar pangkur pancaran Sang Gembala Agung, menapak yuswa tiga per empat abad. Sugeng ambal warsaSelalu Hu Gembalaku……

Kamis Wage, 10 Nopember 2016