Tag

,

Antara Ajining Diri Gumantung Ana ing Lathi dan Beijing’s Pearl

 Ajining diri gumantung ana ing lathi

Bacaan awal yang saya kenal saat kecil adalah tulisan di dinding rumah Simbah yang berbunyi: Becik katitik ala katara dan Ajining diri gumantung ana ing lathi. Mengejanya dengan keras kemudian melafalnya berulang kali dan seperti ritual mengulang dengan keras saat melewati bagian dinding tersebut. Kemudian Simbah Putri menanyakan apakah saya mengerti maksudnya dan dilanjutkan dengan sesi penjelasan melalui dongeng. Demikian pula saat saya tanyakan kepada Ibu Bapak, beliau menjelaskannya melalui paparan dan dongeng lebih sederhana mengingat perbedaan usia dan generasi.

Ajining diri gumantung ana ing lathi. Nilai diri yang tercermin dari lisan, ucapan buah bibir. Ketulusan kata bibir yang berasal dari kata hati, disampaikan dengan irama dan pilihan kata yang tepat disesuaikan dengan kawan bicara, suasana alias empan papan. Betapa rangkaian huruf yang tepat menjadi madu berkhasiat bagi diri sendiri maupun pendengarnya. Amsal merangkumnya “Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang” 

Belajar Ajining diri gumantung ana ing lathi, di negeri sendiri sesuatu yang sangat lazim, namun terperangah dengan pepatah Ajining diri gumantung ana ing lathi di negeri tirai bambu, sesuatu yang tidak biasa, loh sesanti ini bersifat universal.

Beijing’s pearl dan Ajining diri gumantung ana ing lathi

mutiara Beijing

mutiara Beijing

Salah satu mandatory shopping di Beijing adalah mengunjungi toko perhiasan mutiara, itulah yang kami nikmati di hari terakhir kunjungan. Sesuai dengan prosedur kami dipersilakan masuk ke semacam kelas, mendapat penjelasan tentang aneka karakter mutiara, bagaimana menguji keasliannya. Seperti biasa rombongan kami menyimaknya sambil sesekali guyon dengan petugas nona cantik. Terdengar ketukan pelan di pintu, petugas meresponnya dan bergegas masuk kembali dengan raut muka setengah tegang nada terbata menyampaikan bahwa putri sang pemilik gerai akan melanjutkan tugas memandu di kelas kami. Menyambut bosnya dengan wajah menunduk sesuai dengan tatakrama setempat yang tak lazim menatap wajah atasannya, sang petugaspun berganti.

Menyapa kami dengan bahasa tubuh yang tak mampu meredam rasa grogi sang putri taipan sebut saja Ina melanjutkan penjelasan. Berupaya memberikan layanan yang terbaik, berkali memohon maaf bila bahasa Inggrisnya tidak dapat kami mengerti dengan baik. Berkali pula menegas benar Anda dari Indonesia? Seiring dengan mengendornya ketegangan dan menguapnya rasa grogi, aura percaya diri dan bicaranya semakin fasih. Olala, Ina mengaku beberapa hari sebelumnya dia bersama petugas sempat shock dengan perlakuan tetamu dari negeri tetangga yang setengah mengusirnya dari kelas karena tetamu tidak memerlukan penjelasan dan ke sini untuk berbelanja yang dikemukakan dengan nada kasar.

Komunikasi menjadi lebih hangat, sebutan Tuan dan Nyonya berganti dengan dear my friends, tak dinyana Ina meminta waktu bisakah menikmati jamuan makan siang bersama. Mendung wajahnya kentara saat kami jawab sayang agenda waktu kami penuh. Melalui isyaratnya seorang petugas membawa nampan berisi cincin mutiara dan Ina meminta kami masing-masing memilihnya sebagai cindera mata. Obrolan berikutnya semakin cair panggilan menjadi grandma, uncle, auntie, mari lupakan sejenak tentang bisnis. Episode mengharukan terjadi, tetiba Ina tersendat menyatakan bersyukur bertemu tetamu yang saling menghargai melalui ucap bibir. Saat Ina tersedu dengan spontan seorang Ibu di depan merengkuhnya, mengayunnya bagai menenangkan putri gadisnya seraya kami semua menggumam lagu Mandarin tanpa tahu judulnya. Rasanya mata kamipun ikut membasah….

Tur menikmati aneka perhiasan dipandu langsung oleh Ina. Kami menerima tatapan heran dari para pegawai yang sesekali sambil menunduk melirik heran atas krida atasan yang sang putri Taipan mengajak kami menikmati seluruh bagian toko bahkan di bagian koleksi khusus yang jarang ditunjukkan kepada tetamu. Ina berpesan bila kami ada yang berminat berbelanja tolong memberitahunya dan akan memberikan harga yang tidak tertera di label. Kami sangat kaget saat harga yang diberikan jauh sekali dari harga label sehingga ada yang nyeletuk dalam bahasa daerah, tolong ya jangan beli siapa tahu Ina akan kena marah Ayahandanya dengan harga ini. Salah seorang peserta yang tahu permata segera berhitung dan kembali menyeru masih dalam bahasa daerah (mengingat bahasa Indonesia banyak dipahami oleh pelaku bisnis di Beijing), kalau mau beli silakan harga ini sangat murah namun tidak menyebabkan kerugian sang empunya. Tertangkap sinar mata membelalak terbersit sinar gusar dari setiap petugas saat Ina menuliskan harga pas untuk setiap perhiasan yang dipilih rombongan.

Sisi humanis dan naluri dagang putri sang taipan segera nampak, bagaimana Ina menyapa dan mengarahkan pembelinya. Saat melihat tukang kebun asiik menikmati perhiasan melalui tatapan mata tanpa menyentuhnya, Ina menyapa mari grandma Ina bantu apa yang cocok untuk oleh-oleh keluarga karena dia langsung tahu yang diajak bicara tak begitu suka perhiasan. Sambil menyentuh ringan bahunya, tukang kebun mengatakan, Ina ….Indonesia dan RRC sama-sama diberkahi alam dan mutiara berkualitas, grandma sangat mengagumi rancangan mutiara di toko ini dan hati grandma telah menyimpan mutiara dari Beijing dalam pribadi Ina, gadis cerdas Beijing’s pearl. Jadilah tukang kebun melenggang tanpa membeli mutiara. Sesi kunjungan berakhir dengan foto bersama Ina, saling cipika cipiki dan kami melaju menuju Masjid Nan Dou Ya.

Terima kasih Ina putri mutiara Beijing, di toko ini kami belajar dan diingatkan bahwa benar ajining diri gumantung ana ing lathi, bahkan ajining negeri. Postingan ini wujud apresiasi untuk Mas Rudy yang menggelar kontes SADAR HATI.