Tag

, , ,

Harmoni Kemarau

September Kemarau

Meranggas menatap awan

Meranggas menatap awan

September dicandra sebagai bulan asat-asating sumber (mata air mengering) dengan tampilan pepohonan meranggas, seolah alam bersurat tanda berkata. Bagi generasi kami akan terkenang dengan lantunan sendu seraya menadah harap dari lagu Kemarau….

Tiada ranting yang rimbun, daunpun berguguran. Mata air pun kering, tiada titik embun turun. Saat itu kemarau yang datang, hati gersang dan berdebu. Curah hujan tiada turun membasahi jiwa ini….

Tiada pohon yang rindang, tempat berteduh diri. Air mata pun kering, suara hati pun membisu. Saat itu kemarau yang datang, cita hati t’rasa sendu. Cahya mentari t’rasa panas menyinari jiwa ini…

Ref:  Kapankah mendung datang mengalun, mengusir kemarau kali ini. Tapi sabarlah diri menanti pasti kemarau pergi berganti……

Prambors Band

Lirik yang indah bermakna. Merangkum pernyataan sebab akibat, sebuah siklus yang utuh, pun selalu ada harmoni saling berpadanan. Mari tengok bagian ref…. Mendung…. siapa tak kenal, fase ini sering bikin kesal entah ibu rumah tangga penjemur pakaian, entah fotografer yang ingin mengabadikan keelokan alam dengan menggambar cahaya…. Dalam lirik tersebut mendung sungguh dirindu, kapankah mendung datang mengalun, mengusir kemarau kali ini….. Ooh mendung yang biasa bikin kesal menjadi sangat dirindu saat kemarau, hanya mendung pasangan pengusir kemarau untuk pergi berganti.

Kemarau dalam Harmoni

prisma pranata mangsa

prisma pranata mangsa

Akhir September dalam prisma pranata mangsa termasuk mangsa kapat 18 Sept-13 Okt, mangsa ini merupakan bagian dari mangsa semplah (masa putus asa). Mangsa ini dicandra waspa kumembeng jroning kalbu (air mata menggenang dalam kalbu) bagian kesedihan yang tak terungkap. Dari prisma ini setiap masa saling memiliki pasangan, mangsa semplah (putus asa) berhadapan dengan mangsa pengarep-arep (masa pengharapan), mangsa terang (kemarau) berpasangan dengan mangsa udan (penghujan), mangsa paceklik (krisis pangan) menatap mangsa panen.

Setiap masa menjadi penyeimbang bagi masa pasangannya. Saat semplah (putus asa) tersedia pengarep-arep (pengharapan), saat panen raya mari menabung mengisi lumbung mengantisipasi paceklik (krisis pangan).

Kemarau, saat tiada titik embun hingga mata air kering mewujud dalam banyak hal. Kemarau berupa ketiadaan air melimpah, kemarau asatnya kasih sayang, kemarau tersendatnya aliran rizki, kemarau kehilangan pekerjaan, kemarau menguapnya kepercayaan diri. Kemarau kehidupan yang membuat hati gersang dan berdebu juga cita hati t’rasa sendu hanya satu kerinduan kapankah mendung datang mengalun. Hanya saat hati dimampukan memandang mendung sebagai anugerah yang mengalun itulah saat kemarau pergi berganti. Selamat menikmati kemarau September dalam harmoni syukur.

Catatan: Terima kasih Mas Guskar, telah mengajak penyanyi asli “Kemarau” membaca postingan ini. Keterhubungan tak terduga melalui blogging.