Tag

, ,

Dari Matahari Terbit hingga Terbenam

pagi hari di Puntuk Setumbu

Setiap hari kita mengikuti pergerakan matahari terbit dari ufuk Timur hingga terbenam di ujung Barat. Ini sepotong catatan mengikuti pergerakan matahari di awal Juni.

Dari Terbit Matahari

03an dini hari kami beranjak ke arah Magelang, yook menyambut terbitnya matahari di Punthuk Setumbu daerah Borobudur. Berkali mendatangi Punthuk Setumbu di aneka waktu hingga menikmati buka puasa bersama di perengan Punthuk Setumbu namun baru kali ini diniatkan menyambanginya dini hari. Tak susah menujunya, titik utama mari menuju gerbang Candi Borobudur, dari situ cukup banyak penunjuk arahnya, bahkan cukup banyak penduduk yang menawarkan bantuan menjadi pemandu sejak dari kawasan Candi.

04.30an dini hari kami merapat di kawasan parkir Punthuk Setumbu. Wuih luar biasa ramai baik pengunjung domestik maupun mancanegara. Punthuk Setumbu yang dikelola oleh paguyuban setempat ini tertata rapi dari pengaturan parkir, pelayanan tiket hingga perbaikan prasarana jalan setapak yang berkembang pesat dari tanah berseling bebatuan kini seluruhnya blok semen dengan tangga yang nyaman dan lebih aman.

Punthuk Setumbu dini hari

pemuja fajar punthuk setumbu

05an pagi hari usai  kami sampai di puncaknya dan sudah penuh dengan penunggu sang Mentari. Untungnya ketersediaan bangku bambu cukup banyak. Tidak semua harapan terpenuhi, gerutuan kecil, ungkapan kecewa semakin kerap terdengar saat sang Mentari belum nampak keluar dari peraduannya terhalang oleh mendung dan kabut pekat. Aha perarakan jingga mulai keluar meski telah lewat pk 06an dari arah agak ke kiri. [Momen terindah menurut catatan adalah pertengahan Juli saat mentari terbit tepat di sela Merbabu Merapi dengan siluet Borobudur dengan suasana setengah mistis dengan perlahan terangkatnya kabut yang semula pekat menutup lembah bukit jati dihadapan Punthuk Setumbu] Tidak mengapa bila panorama terindah lewat, bagi kami kebersamaan menyambut fajar di Borobudur Nirwana Sunrise alias Punthuk Setumbu ini bagian dari anugerah.

Fajar tertunda di Punthuk Setumbu

Tengah dan Ragil pengamat embun Punthuk Setumbu

07an pagi hari kami singgah sejenak di Candi Mendut. Meski berkali melewati namun baru kali ini berkesempatan benar-benar menikmati masuk areal setelah melalui loketnya. Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Borobudur hingga Punthuk Setumbu digambarkan sebagai satu garis lurus yang berawal dari Candi Mendut dan berujung di Nirwana Punthuk Setumbu. Suka sekali dengan nuansa Budha di Candi Mendut ini mulai dari Buddha tidur hingga pohon bodhi di areal candi.

Foto Buddha Tidur di Mendut saat pagi hari

Mendut bagian warisan budaya tingkat dunia

Candi Mendut dan pohon bodi

Segaris Mendut-Borobudur-Punthuk Setumbu

09.25an pagi hari kami sampai di kawasan Breksi. Bila pada kunjungan sebelumnya bersama ibu-ibu Dawis kami fokus pada tebing, kini mas Tengah ingin membidik Candi Prambanan dari puncak bukit breksi. Walah le lha wong berdiri dihadapan candi Prambanan bisa mendapatkan foto apiknya koq ya malah memilih memotret dari sini. Yup sebagai penyilih gagal mendapat sajian Borobudur dari Punthuk Setumbu nih. Sementara Ragil tergugu melihat owl menjadi sajian atraksi bagi pengunjung. Ada ikatan emosional antara keduanya yang disajikan dalam rubuha kak owl.

Tebing Breksi

11.50an hampir tengah hari kami singgah sejenak di kediaman Mbah Cemplung di Bangunjiwa, Kasihan, Bantul. Tak dinyana di tempat relatif terpencil ini Mbah Cemplung sungguh kawentar ditandai banyaknya ulasan ayam goreng kampung di internet.

rumah mbah Cemplung

12.45 – 14.45 kami sowan Ibu yang lenggah di kediaman adik di Bantul. Ibu juga merupakan ‘duplikat matahari’ bagi keluarga besar kami, sungguhlah berasa lirik..’kasih Ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa..Hanya memberi tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia’ Lanjut ke rumah adik di jl Parangtritis untuk menjemput keponakan putri dinda Surya.

15 an hingga 17 an…kami mengarungi jalur Yogya-Gunung Kidul menuju pantai Jogan hendak mengucap salam buat sang surya yang akan turun ke peraduan. Jalur mulus membelah hutan jati mengantar kami. Bagai penikmat tunggal kami memasuki kawasan pantai Jogan saat pengunjung lain undur diri dari sini.

Hingga matahari terbenam

17-18an di Pantai Jogan. Kawasan ini satu areal dengan Pantai Nglambor dan Pantai Siung. Saya mengunjung satu kawasan dengan 3 pantai ini 3 kali kunjungan yang berbeda. Pertama tersaji dalam Sepasang kura-kura ndlosor di Nglambor, Sept 2015. Kunjungan ke2 ke Pantai Siung tersaji dalam Batu Karang (Siung) yang Teguh kunjungan Desember 2016. Keunikan pantai Jogan, hmm sebenarnya tidak mirip pantai pada umumnya dimana ada bibir pantai entah berbatu sokur berpasir. Pantai sempit ini berbentuk ceruk dengan masuknya air dari sungai kecil ke laut melalui grojogan atau air terjun kecil.

sungai pemasuk pantai Jogan

Saat senja kami datang debitnya sangat kecil sehingga tidak nggrojog cukup kricik-kricik saja. Secara bentang alam saya agak sulit membayangkan mendapat pemandangan senja berlatar depan grojogan mini ini, entah kalau mendaki bukit di sisi Timur grojogan. Warga setempat membangun aneka spot untuk menjelajah pantai Jogan yang mungil semisal Jogan Titian Midangan jasa penyeberangan teluk mini dihadapan grojogan dengan kotak ditarik melintasi samudera dengan titian kawat, juga jembatan bambu menuju spot goa pantai bertebing terjal.

grojogan pantai jogan

debit kecil pantai Jogan

Saat mentari terbenam kami nikmati di keremangan pantai, semburat jingga menuju kebiruunguan menjadi penanda beralihnya saat candik ayu ke senjakala. Beruntung ada satu warung kecil yang mau buka meski saat kami datang sudah tutup. Pemiliknya mengatakan malam Minggu begini kami sering tidur di sini, sekalian ngadangi kalau ada pengunjung yang berkemah di halaman warung tepian pantai.

Lembayung senja di pantai Jogan

Pk 18an kami kembali ke arah Yogyakarta. Suasana benar-benar gelap, sempat salah arah menjauhi tujuan yang segera kami sadari sehingga tidak terlalu jauh. Jalur pantai Jogan kembali ke Yogya melewati pos indah Bukit Bintang yang sungguh ramai, penuh pengunjung menikmati kota Yogya di malam hari dari ketinggian.

Sekitar pk 21an kami mengantar kembali duo keponakan cantik dan melanjutkan perjalanan pulang ke Salatiga, tiba di rumah lewat pk 23an hampir tengah malam. Inilah perjalanan Surya bersaudara menyambut matahari terbit hingga matahari terbenam, menempuh lewat 21 jam di perjalanan hampir sehari semalam saat bumi beredar memutari matahari seraya berputar pada porosnya. Dari terbit matahari hingga pada masuknya, terpujilah Sang Pencipta matahari dan bumi.

Iklan