Tag

, , , , , ,

Yen ing Tawang Ana Lintang…Observatorium Bosscha Lembang

Cagar Budaya Peneropongan Bintang Bosscha Lembang

“Bintang kecil di langit yang tinggi”, “Yen ing tawang ana lintang…”, kala di langit terlihat bintang…demikian nyanyian riang dan lantunan tembang pemuja bintang anugerah Tuhan. Jalan-jalan sejenak ke peneropongan bintang Bosscha di kota Lembang yook….

Usai sampaikan salam Haturnuhun Aki Junghuhn, Aak pengojek mengajak saya melintas jalan-jalan pemukiman kota Lembang, menghindari jalan raya yang mulai macet di pagi hari, melipir di dekat Lembang floating market, menanjak melalui jalanan tidak mulus di hamparan perladangan sayur penduduk. “Ibu, coba tengok ke puncak bukit di depan, lah kubah gedung Bosscha sudah terlihat. Saat saya kecil, kubah tersebut tidak dapat terlihat dari sini karena rimbunnya pepohonan di sekitar bukit Bosscha. Ladang sayur ini dulunya juga bagian bukit rimbun” Demikian terang beliau. Enaknya berjalan dengan pemandu lokal, beliau bisa bercerita kenangan antar masa. Melapor ke pos penjagaan, sayapun melenggang masuk.

Hasrat berkunjung ke Observatorium Bosscha, terngiang pelajaran saat SD tentang peneropongan bintang tertua di Indonesia. Bersyukur atas cita-cita kuat dibarengi kerja keras astronom Joan George Erardus Gijsbertus Voûte dengan dukungan dana pengusaha kaya raya Karel Albert Rudolf Bosscha dan Rudolf Albert Kerkhoven sehingga peneropongan bintang ini terwujud. Dari sinilah nama observatorium Bosscha lahir sebagai penghargaan atas jasa K.A.R. Bossha. Beliau sendiri adalah pengusaha perkebunan peduli bintang yang berjaya di Malabar dan cinta kebun hingga dimakamkam di tengah kebun Malabar. [Tentunya tukang kebun makin kagum karena awalnya mengira beliau ahli perbintangan] Pada tahuni 2004, observatorium Bosscha ini dinyatakan sebagai Benda Cagar Budaya dan tahun 2008 menjadi salah satu Objek Vital Nasional yang harus diamankan. Nah lengkap kan daya pikatnya.

Bosscha observatory Lembang

Observatorium Bosscha yang kini dikelola oleh ITB ini seluas 6 ha, dengan ketinggian 1310 mdpl, menjulang 630 m di atas kota Bandung. Saat itu tentunya wilayah ini cukup terpencil jauh dari kota Bandung, memenuhi syarat sebagai tempat peneropongan bintang yang tidak membutuhkan intervensi cahaya buatan. Kini dengan berkembangnya kota Lembang dari aspek pariwisata (vila, hotel, tempat hiburan) juga meluasnya pertanian, polusi cahaya buatan semakin meningkat. Menghadapi kendala di luar kendali ini, keberadaan observatorium yang pernah menjadi satu-satunya di kawasan khatulistiwa menjadi terancam fungsinya. Ada rencana pemindahan ke wilayah yang memenuhi persyaratan dan kota Kupang NTT adalah kandidatnya.

Tugu Bosscha

Rumah Teleskop Refraktor Bamberg

Karena kunjungan tak resmi di pagi hari, saya hanya jeprat-jepret saja. Berawal dari tugu Bosscha dan bangunan yang melegenda menghiasi buku bacaan saat SD inilah rumah eh gedung teleskop refraktor Bamberg, bangunan memanjang dengan atap setengah silindris.

Rumah Teleskop Surya

Gedung Surya yang menyimpan teleskop matahari berada di sebelahnya.

Rumah Teleskop Cassegrain GOTO dan Teleskop Refraktor Unitron

Naik sedikit lagi yook, berjajar gedung Goto tempat teleskop Cassegrain Goto dan Gedung teleskop refraktor Unitron

Berdiri tegak di lapangan terbuka adalah Teleskop radio 2,3m

Berjajar Panel amatan

Menanjak menuju gedung utama dengan kubah membulat yang ikonik kota Lembang. Meski tidak masuk mendengarkan penjelasan petugas, cukup puas menatap bangunan bersejarah ini.

Bosscha peneropongan bintang tertua di Indonesia

Alam rindang

Lingkungan yang sejuk indah di wilayah observatorium tak cukup mampu mempertahankan fungsinya. Dukungan tata ruang kawasan yang lebih luas sungguh diperlukan untuk fungsi jangka panjang. Semoga ancangan pembangunan observatorium berikutnya berlangsung lancar, kami percayakan kepada astronom-astronom muda kebanggaan bangsa. Seraya tetap mengagumi observatorium Bosscha tonggak sejarah peneropongan bintang di Indonesia yang dipelopori oleh astronom G.E.G. Voûte yang kelahiran Madiun dengan dukungan donatur K.A.R. Bossha.

Mematrikan kenangan Boscha

Lengkung Lembang Bosscha

Menatap Lembang dari bukit Bosscha

Saat matahari menjeling lebih tinggi saya pamit, kembali menatap tugu Bosscha dengan bangunan silindernya. Meliuk di lengkung jalan di depan pos masuknya. Berhenti sejenak di pertigaan yang mengarah ke jalan utama pintu masuk kawasan observatorium Bosscha dengan jalan pintas dari LFM yang kami lalui saat mendaki, menatap sejenak kota Lembang dari ketinggian. Lanjut turun melewati pintu masuk utama.

Jalan masuk Cagar Budaya Observatorium Bosscha

Haturnuhun Aak pengojek yang memandu tour singkat sebelum tugas utama saya mencangkul. Haturnuhun Aki Junghuhn, yen ing tawang ana lintang…. haturnuhun Opa Bosscha dan om Voûte. Selamat berkarya astronom Nusantara.

Lebih mengenal Observatorium Bosscha

Jadwal berkunjung di Observatorium Bosscha, ada jadwal kunjungan malam di bulan Juli-Oktober 2017 loh, hayuuk berangkat..

 

 

 

Iklan