Tag

, ,

Sinterklas

Rinai hujan Desember menemani tiga bocah yang sedang bermain bersama. Wajah ketiganya sedikit memias saat mengintai dari jendela melihat tetamu yang mengetuk pintu.

“Hai, kalian RyNaRi kan …. Kami Paklik Gareng, Petruk dan Bagong, sahabat orang tua kalian.”

****

“Hallo Ry, Paklik Gareng sangat sedih kenapa koq Ry suka sekali menghabiskan waktu main PS dan mengurangi waktu belajar. Tangan ciker Paklik sebagai pengingat untuk tidak kebanyakan bermain saatnya belajar.”

“Nah si jangkung Na, kenapa pula suka jadi Kakak Céng mengganggu adik? Tangisan adikmu Cèng, mengganggu istirahat Paklik Petruk. Berkali mengurut hidung hingga hidung Paklik semakin panjang.”

Howah … si Ragil Ri, kalau main lupa membereskan lagi ya…. Lengkingan Ibumu membuat Paklik Bagong ikut mangap-mangap jadi bibir ndhower nih.”

“Hm…meski Ri belum rajin merapikan mainan, Ri anak yang manis loh, Paklik Bagong sangat suka saat Ri bilang terima kasih kepada siapapun yang membantumu.”

“Begitupun untuk Na, perkataan minta maaf saat ditegur Bapak Ibu, membuat Paklik Petruk bangga padamu.”

“Ayo Ry, kurangi main PS … Paklik Gareng senang sekali melihat Ry rajin membantu Bapak Ibu menemani adik-adik membaca buku dongeng.”

***

Weladalah…ada apa ini koq gayeng amat. Eyang Semar ketuk-ketuk pintu tak ditanggapi, lah masuk saja karena pintu terbuka.”

“Iya nih Rama, kami sedang membacakan catatan kekurangan dan kebaikan keponakan Rynari selama warsa ini.”

“Piye ngger, mau berubah lebih baik di tahun mendatang, ingat catatan Paklik Gareng, Petruk, Bagong.”

Sendika dhawuh Eyang Semar.”

“Buku Merakit permainan sendiri untuk Ry, Cerita perjalanan utuk Na yang hobi koleksi tiket transportasi umum dan kotak mungil untuk Ri menyimpan pernik-pernik permainan agar tidak berceceran.”

Matur nuwun Eyang dan Paklik-paklik” sahut Rynari saur manuk.

“Terima kasih juga untuk coklat hangat plus sedotan hingga riasan kami tak rusak. Eyang dan Paklik-paklik pamit ya, mengunjungi teman-teman kalian lainnya.”

***

Gubrak…. “Mas Bagong….. mana hadiah untuk Limbuk, aku kan juga manis selama tahun ini …..”

Halah… koq ngelindur to, Ndhuk. Bikin kaget saja.”

“Bukankah Mas Bagong barusan berkunjung ala Sinterklas untuk Rynari ya Mbok Cangik…”

Menarik juga mengadopsi budaya sahabat dan mengadaptasinya dengan budaya lokal.

Iklan