Tag

, , ,

Melacak Jejak Bima di Dieng

Mahkota Bima

Arca Kudu-Mahkota Bima

“Loh nDhuk Limbuk, pagi-pagi sudah macak/berdandan hendak kemana nih”

“Menjalankan dhawuh/perintah Bunda Dewi Kunthi, melacak jejak putra panunjul Raden Bima di Dieng, Simbok Cangik” [Dewi Kunthi, ibunda dari Pandawa yang terdiri dari Yudhistira, Bima, Arjuna dan si kembar putra Dewi Madrim yaitu Nakula dan Sadewa]

“Ikut biro perjalanan wisata apa nih, nDhuk”

“Limbuk ikut rombongan taruna kebun yang praktikum di Dataran Tinggi Dieng koq mBok”

Ya wis, jaga diri dan jangan rewel merepotkan rombongan ya nDhuk”

Perjalanan ke Dataran Tinggi Dieng tidak pernah membosankan, meski berkali melakukannya selalu mendapatkan pengalaman baru. Setidaknya terdapat dua petilasan Bima di kawasan ini. Bila kita mendatangi kawasan dari arah Wonosobo, setelah Gardu Pandang Tieng, akan menjumpai situs Tuk Bimo Lukar di sebelah kanan jalan menjelang kompleks Candi Arjuna. Kami melewatinya dulu dan baru menyambanginya sore hari di perjalanan pulang. Usai mengarahkan teruna kebun untuk pendadaran pengalaman lapang, kami singgah sejenak di Candi Bima.

Candi Bima

Candi Bima-1

Candi Bima

Candi Bima tampil gagah pideksa dalam kartu pos yang saya beli di Agrowisata Tambi sekian warsa lalu. Lokasi tepatnya di luar kompleks candi Arjuna di persimpangan jalan menuju cantigi di kawah Sikidang, Telaga Warna dan theater Dieng. Layaknya Raden Bima yang sedang menjalankan tugas mengamankan kawasan, candi ini berdiri kokoh di ketinggian. Arsitekturanya sungguh khas, warna Hindu India yang kuat. Untuk penjelasan lebih rinci mari simak postingan mBak Monda pasukan raun.

Candi Bima tampak muka dan samping

Candi Bima tampak muka dan samping

Tuk Bima Lukar

Tuk Bimo Lukar-1

Tuk Bimo Lukar

Tuk adalah sumber air, lukar adalah melepas pakaian atau berganti pakaian. Pemaknaan barang siapa hendak menghadap Hyang marilah membasuh diri, bersuci, melepas pakaian dan menukarnya dengan pakaian yang lebih bersih dan tepat. Pakaian di sini dapat bermakna pakaian senyatanya ataupun ‘pakaian pembungkus diri’ .

Lokasinya sangat elok, menuruni trap tangga kita akan sampai di sumber air bertingkat. Air mengalir melalui saluran berbentuk lingga ditadah oleh kolam simbol yoni. Persatuan lingga yoni penerus berkah Sang Hyang Widhi. Airnya sungguh sejuk, menarik untuk pengunjung yang sempat singgah di awal perjalanan menadahnya dalam botol, untuk pembasuh wajah maupun tangan saat perjalanan berikutnya terasa gerah. [banyak yang mempercayainya membasuh wajah dengan air tuk Bima Lukar menjadikan awet muda. Tak pelak lagi cukup banyak kegiatan pemujaan ditandai dengan bekas kembang setaman]

Tuk Bimo Lukar-2

Tuk Bimo Lukar

Tuk Bimo Lukar-3

Tuk Bimo Lukar [mitos awet muda hingga mata air Serayu]

Melayangkan pandang ke sekelilingnya, kemana gerangan air dari tuk Bima lukar ini mengalir. [Belitan pipa pralon melibat segala arah. Jalan alami tak mampu lagi menopang dan mengantarkan berkah air ke lahan petani] Areal pertanaman menghampar dan konon air ini bergabung dengan aliran lain menuju kali Serayu sehingga disebut Tuk Bima Lukar sebagai salah satu mata air Serayu. [mari dendangkan lagu …. di tepinya sungai Serayu….]

Yook melacak jejak Bima di Kawasan Dieng….