Tag

,

Hijau Menghimbau dari Siti Hinggil

Sitinjau dari Siti Hinggil

Sitinjau dari Siti Hinggil

Menyusuri lorong menuju BCB Watu Kelir di kawasan Dieng Plato, mendaki undakan batu sampailah kami di Siti Hinggil. Siti berarti tanah, hinggil tinggi, Siti Hinggil adalah tanah tinggi. Konon pada zamannya di tempat ini berdiri pendapa, para peziarah usai menyucikan diri di Tuk Bima Lukar menanti antrian dari ketinggian dan kejauhan untuk menjaga kekhusyukan peserta ibadah di kawasan Candi Di Hyang. Juga digunakan oleh para petinggi keraton untuk ameng-ameng, bersantai menikmati udara segar seraya menatap keelokan dasar/ceruk kawasan Dieng semacam sitinjau Siti Hinggil.

Kini petilasan Siti Hinggil berwajah lahan pertanian dan pemukiman. Pemandangan ke arah dasar yaitu kawasan candi masih tetap memikat apalagi kalau dibarengi dengan penataan kawasan. Kawasan hijau berlatar bukit Pangonan yang masih menyisakan hutan di bagian puncaknya.

Diantara hamparan hijau terlihat bangunan rumah ibadah yang juga bercat hijau. Saat panggilan beribadah dikumandangkan betapa lansekap ‘mangkok raksasa’ Dieng laksana penguat suara mengirim gema ke setiap hati pendengarnya untuk bergegas memenuhi panggilanNya. Sejarah membuktikan perjalanan toleransi dibangun di kawasan ini. Hijau menghimbau dari Siti Hinggil. Setiap elemen menjadi bagian dari lansekap hijau. Sesama titah saling menjaga kelestarian alam ciptaanNya. Semoga. [Apresiasi kiprah Dhimas eNHa18 yang menggelar Lomba Menulis : 1001 Kisah Masjid]

Iklan