Tag

, , ,

Legawa…..

Limbuk yang sedang asiik menikmati tablet sambil thenguk-thenguk di gandhok tetiba njondhil ketika bahunya dicolek pelan oleh mBok Cangik.

Dhuh Mom, koq bikin kaget aja sih

Lah kenapa koq mesam-mesem sambil pencat-pencet nampan, juga ngowah-owahi adat dengan sebutan Mom segala

Ayolah Mom, gaul dikit napa sih…” “Mom, lihat nih postingan sahabat Limbuk, reras yang puitis cantik oleh eMak LJ, pun indahnya warna musim gugur di Jerman

Lha koq seperti tampilan pager gunung Merbabu di Selatan desa dan jejer Kauman saat puncak kemarau ya nDuk

Ngarang ah…. Mom, kemarin Limbuk mengintip dari buku Bunda Dewi Saraswati, menurut para Begawan, reras itu cara adaptasi tumbuhan menyambut kemarau biar ndak boros air

Ehm….

Juga daun itu tidak selalu berwarna hijau, selain pigmen hijau klorofil juga terdapat pigmen karotenoid mulai dari kuning, jingga wortel (karoten) hingga merah tomat (likopen) bahkan ada pula antosianin pigmen warna biru yang bila berkombinasi dengan merah menyembulkan warna ungu” “Limbuk nggak mudheng Mom, istilahnya ndakik-ndakik gitu

Apalagi simbok Cangik, nDuk….

nDuk, simbok jadi ingat welingnya Begawan Ngaurip, satu kata saja yaitu l e g a w a

Loh trus apa hubungannya Mom, reras….indahnya warna musim gugur…..legawa

Tumbuhan sedang menjadi guru bagi titah lain untuk legawa menerima perubahan, reras tanpa protes keras, bahkan menyuguhkan keindahan yang ditangkap melalui kepekaan jiwa dengan sangat pas oleh eMak LJ, kehilangan tanpa harus merasa begitu kehilangan

Ehm….

legawa salin warna

legawa salin warna

Begitupun salin warna, sang hijau mundur untuk memberi ruang bagi kuning, jingga, merah, ungu bahkan coklat untuk unggul unjul. Kemelimpahan, peran penting bukan kepemilikan, semua bisa salin warna, bahkan ketiadaanpun bermakna salin sandhangan (pakaian) menjadi sandhangan kamukten (kemuliaan)

Walah Mom, Limbuk semakin mumet, belum gaduk kuping….

Genduk Limbuk, mBakyu Cangik….

Wis ayo….. itu Bunda Dewi Saraswati memanggil kita