Tag

,

Antara Panda dan Saya

Panda  mengudap bambu (Photo by EP)

Panda mengudap bambu di Chiang Mai Zoo (Photo by EP)

Sore hari yang cerah terjadi obrolan imajiner seru antara saya dengan pandanya nakOyen.

”Koq kita jenis makanannya sama ya, bude sepiring lumpia isi rebung/bambu muda, aku setoples crispy bambu rasa barbeque”.

“Iya nih pan, kita beda spesies, pemakan jenis yang sama”

“Lambung kita sama-sama memiliki ensim selulase ya bude”

“Embuh pan, ra mudheng aku”, lalu ngeles “Yang jelas rebung lebih enak empuk”

(dengan gaya ceramah): “Nah ini bude, itu pertanda tidak sabaran, saat mengambil rebung bambu muda berarti menebang satu batang bambu utuh, sedangkan kami bangsa panda sabar menunggu. Tak perlu batang utuh, bagian tertentu dapat digunakan manusia, kami cukup bagian yang tidak terpakai, kami berwawasan ekologis juga kan?”

(dengan gaya malu kalah): “Gini lho pan, kami sedang melakukan manajemen populasi. Coba bayangkan bila sebagian rebung tidak diambil dalam satu rumpun bambu akan berdesakan akibatnya terjadi persaingan tempat tumbuh penggunaan hara, sinar matahari dll dan batang bambu jadi kerdil alias kunthet, jelas kan?”

“Mudheng sekali bude, demi keseimbangan alam”.

Lalu sambil ngeloyor pergi:”Pamit dulu bude. Yang ini untuk PR bangsa bude nggih, kami si pemakan bambu dengan raut muka panda, tidak ada istilah ‘panda muka anyaman bambu’ tidak mengenal istilah pokrol bambu”.

Weeladhalah … jan pandanya nakOyen pinter tenan nyemash.

Iklan