Tag

,

Melintas di Museum Majapahit

Museum Majapahit dan Situs Trowulan

Museum Majapahit dan Situs Trowulan

Postingan ini diinspirasi oleh mBak Monda, peri gigi pecinta museum yang menuliskan bahwa tanggal 18 Mei adalah Hari Museum Internasional. Lah pada tanggal tersebut tepat tengah hari yang terik kami serombongan melintas sejenak di museum Majapahit. Benar hanya melintas sejenak selama kurang 60 menit sehingga hanya sempat menengok pelataran depan dengan aneka tanaman identitas semisal maja maupun kalpataru, memasuki museum bagian depan yang menyimpan koleksi terakota, keramik, logam maupun batu. Melongok bagian belakang eksposisi aneka konfigurasi termasuk rekonstruksi rumah Majapahit.

Peta kawasan cagar budaya Trowulan

Peta kawasan cagar budaya Trowulan

halaman depan museum Majapahit

halaman depan museum Majapahit

Pohon maja dan kalpataru di Museum Majapahit

Pohon maja dan kalpataru di Museum Majapahit

Museum Majapahit tampak depan

Museum Majapahit tampak depan

sumur kuno zaman Majapahit

sumur kuno zaman Majapahit

Menghargai larangan memotret dalam ruangan museum, kamera saku saya simpan, dan petugas mengizinkan pengambilan gambar suasana dan gambar detail selaku data diizinkan dengan surat khusus. Karena tidak tersedia leaflet saya membeli buku: Mengenal kepurbakalaan Majapahit (karya Drs. I. Made Kusumajaya,M.Sc. dkk.) dan Seri Fakta dan Rahasia Dibalik Candi, Candi Masa Majapahit (karya Drs Daniel Agus Maryanto, arkeolog dan penulis yang sangat banyak buku karya beliau). Berbekal amatan selintas dan bacaan tersebut Museum Majapahit yang berhadapan dengan kolam Segaran merupakan bagian dari Situs Trowulan yang secara administratif terletak di Kabupaten Jombang dan Mojokerto, lain waktu perlu menginap untuk eksplore Candi Tikus, Candi Brahu dll.

Kepurbakalaan Majapahit dan Candi

Kepurbakalaan Majapahit dan Candi

Adalah R.A.A. Kromodjojo Adinegoro (Bupati Mojokerto) bersama Ir. Henry Maclaine Pont, seorang arsitek Belanda, mendirikan OVM pada tanggal 24 April 1924 yang bertujuan untuk meneliti peninggalan Majapahit yang menjadi cikal bakal Museum Trowulan kemudian kini berganti nama Museum Majapahit. Melintas sejenak di museum ini terasa beberapa persamaan elemen dengan Gereja Puh Sarang di Kediri yang beliau arsiteki, paduan spiritual, budaya dan ekologi setempat yang sangat kental.

Memperhatikan cukup banyaknya pengunjung, kanak-kanak dipandu orang tuanya, para muda mudi, pecinta museum yang mengamati dengan cermat detail cek ricek ke dokumen sebelumnya sungguh menghangatkan hati. Gerakan cinta museum yang patut dihargai. Sahabat-sahabat pecinta museum, situs Trowulan sangat menarik untuk dikunjungi sekalian kopdar sowan Pakde Cholik di ndalem Emak di Jombang, siapa tertarik…..