Tag

Nostalgia Bacaan Masa Muda Dewasa

Jejak bacaan yang tersisa

Melanjutkan postingan sebelumnya tentang nostalgia bacaan masa kecil-remaja-muda. Nah sahabat pembaca blog bisa mendapat gambaran dari generasi kapan nih penulis blog. Kini menyoal nostalgia bacaan masa muda dewasa.

Rentang ini adalah rentang panjang mulai dari pertengahan belasan hingga setengah abad. Bisa dikalkulasi berapa warsa eh tahun, berapa bulan, berapa hari apalagi berapa jam. Rentang panjang saat kuat-kuatnya membaca bacaan. Entah bacaan wajib yang berkenaan dengan tugas keseharian macul-matun di kebun hingga bacaan santai.

Sumber bacaan beragam. Beberapa milik sendiri, sejak awal bekerja, mengalokasikan dana untuk membeli buku entah mulai dari 2 bulan satu buku hingga frekuensi yang lebih sering, bergantung kondisi kantung. Saat itu sedang maraknya bisnis persewaan buku. Saat akhir pekan adalah saatnya ke persewaan, pulang menggendong sejumlah buku dengan harga sewa terjangkau. Perpustakaan daerah belum seberkembang sekarang.

Ini beberapa jenis bacaan saya, yang teringat loh…

Serial Little house in the Prairie karya Laura Ingalls Wilder, mulai dari Rumah Kecil di Rimba Besar. Bisa disebutbacaan keluarga. Buku yang menyoal masa kecil Laura, hingga remaja dewasa bahkan masa tuanya yang kemudian dituliskan oleh putrinya. Serial yang sangat terkenal hingga di TV kan. Gaya tutur penulis yang memikat, deskriptif tanpa menggurui. Kerukunan keluarga yang terjalin, pendidikan budi pekerti. Bahkan dijumpai semacam museum nostalgia Laura di wilayah padang rumput Dakota.

Seri detektif. Pastinya karya ratu pengarang detektif. Karya Agatha Christie, semisal Pembunuhan di Orient Express. Terkagum dengan sel-sel kelabu tokoh Hercule Poirot detektif asal Belgia. Miss Marple, walaupun digambarkan sebagai wanita tua, tapi jangan pernah meremehkan tokoh yang satu ini, tajam analisisnya. Juga Tommy dan Tuppence melengkapi setiap pemecahan masalah.

Serial Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle. Beda pendekatan, namun tetap karya detektif yang memikat. Menebak pelaku menjadi kesenangan tersendiri. Kadang begitu penasaran, alur di plot dari awal hingga kesimpulan dan tetap saja terkecoh dengan kejutan fakta.

Tak kalah detektif nasional kita. S. Mara Gd. Memulai debut dari Misteri Dian yang padam, Misteri Sutra yang robek, Misteri asmara di Pondok Songka, Misteri Cinta Segilima dll. Tokoh utama adalah kapten polisi bernama Kosasih dan sahabatnya yang punya latar belakang hitam, Gozali. Romansa tokoh detektif berpadu dengan tokoh yang ditelaah kasusnya.

Buku genre romansa humaniora pasti tak lepas dari keseharian. Melanjutkan karya mbak Marga T yang kian variatif. Bermula dari Karmila, Padai Pasti Berlalu, Bukan Impian Semusim, Gema Sebuah Hati dan buku-buku generasi lalu tahun 70 hingga 90an. Hingga romansa kekinian era digital yang kompleksitasnya berbeda. Matahari Tengah Malam, Didera Sesal dan Duka, Amulet dari Nubia, karya beliau di era sebelum 2000. Hingga sepaket Sekuntum Nozomi (buku satu hingga kelima) menjadi nyamikan akhir pekan.

Melengkapi mbak Marga T, juga menyukai kayra mbak Mira W yang juga seorang dokter. Karya-karya beliau apik, sebagian saya koleksi. Nah saat almari penyimpanan penuh sebagian di weeding/disiangi dan pindah ke perpustakaan lain. Di Sini Cinta Pertama Kali Bersemi, Ketika Cinta Harus Memilih, Delusi, Deviasi dll. Beliau penulis yang produktif.

Nah mbak V. Lestari yang berlatar belakang perawat, menulis cerita misteri yang lumayan menegangkan ada paduan psikiatri, gereatri dll. Misteri sepasang hati, Cinta seorang psikopat, Paviliun Maria dll. Sebagian saya membei yang lain cukup pinjam di persewaan.

Kisah roman lembut karya mbak Ike Soepomo pastinya menemani penggemar buku. Semisal novel Mawar Jingga, Kembang Padang Kelabu. Beberapa lagi sudah lupa judulnya. Juga mbak Nina Pane Budiarto semisal: Merah hitam cinta Adelia, Serpihan Mutiara Retak

Pengarang Maria A. Sardjono sangat produktif. Lumayan banyak buku saya ikuti. Latar belakang beliau yang filsafat humaniora mewarnai karyanya. Istana Emas, Jalan Simpang di Pantai Rembang, Ketika Flamboyan Berbunga adalah sebagian kecil karya beliau. Kisah beraneka termasuk merambah cerita berlatar LGBT gay maupun lesbi.

Nah generasi kami pasti menikmati karya Ibu NH Dini. Kepergian beliau beberapa waktu lalu menoreh duka. La Barka, Pada sebuah kapal, pondok baca dll. Kembali membaca dari koleksi pribadi dan persewaan buku.

Dari tadi koq pengarang wanita ya, eh saya juga menggemari karya Saut Poltak Tambunan. Diantaranya: Hatiku Bukan Pualam, Kembalikan Anakku. Beliau juga pengarang putra daerah Danau Toba yang menerima penghargaan sastra.

Sebagai emak gaul juga menikmati romansa serial Harlequin terutama buku-buku karya: Diana Palmer, Sarah Morgan, Sandra Brown, Lynne Graham, Nora Robert dll. Saat itu beneran industri percetakan buku sedang jaya-jayang. Buku dicetak dan dilempar ke pasaran bakalan laris manis. Kini harus bersaing dengan e-book.

Danielle Steel, yaak pengarang ini berhasil memikat jutaan penggemarnya. Bermula terpikat dari buku Daddy, lanjut mengikuti kisah-kisah lain. The Ring, The circle maupun karya-karya lain yang laris diterjemahkan. Bersyukur petugas persewaan berbaik hati mengabari saat tersedia buku barunya Danielle Steel

Karya Sidney Sheldon tak akan dilepas sebelum usai membacanya. Konspirasi Hari Kiamat adalah buku awal yang saya baca, fiksi ilmiah yang menggeret kesukaan pada judul selanjutnya. Semisal Lewat Tengah Malam, Malaikat Keadilan, hingga Apakah Kau Takut Gelap? Kisah psikiatri hingga mesteri konspirasi lain. Rasanya denyut jantung meningkat saat membaca karyanya.

Bahasa hukum sangat saya hindari. Namun John Grisham melalui The Firm, The Pelican Brief, The Client, The Chamber, A Time To Kill, The Rainmaker, The Runaway Jury, The Partner mampu mengikat saya. Untuk buku berikutnya saya menyerah angkat tangan tak mampu mengikutinya.

Oh ya terlupa dengan Kang Ahmad Tohari. Beliau pengarang si Srintil. Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paru, Lintang Kemukus Dini Hari dan Jantera Bianglala sangat membekas di hati. Meski belum menamatkan karya beliau yang lain.

Mulai menyukai karya sastrawan Romo Mangun Wijaya. Balada dara-dara Mendut, Burung-Burung Rantau, Burung-Burung Manyar. Juga Umar Kayam melalui karya Para Priyayi, Jalan Menikung, Mangan Ora Mangan Kumpul. Mengagumi karya puisi Taufik Ismail, WS Rendra maupun Sapardi Djoko Damono meski gagal paham karena bahasa puitis dan jiwa puisi belum mampu saya selami.

Nah inilah beberapa bacaan nostalgia masa muda-dewasa yang teringat. Semoga bisa meneruskan sajian tulisan dengan bacaan masa sepuh hehe… Nah pembaca yang segenerasi atau generasinya bersinggungan akan tersenyum simpul dengan bacaan lama yang tersaji. Salam literasi