Tag

, , , ,

Pesona Dongeng

Dongeng…..siapakah yang tak suka? Pendongeng awal yang saya kenal tentunya Bapak dan Ibu, beliau mendongeng dari buku maupun imajinasi beliau. Saat mendongeng merupakan saat yang dirindu, kami kruntelan di dipan/amben, ataupun berkumpul di dekat teplok/sentir. Saat mendongeng adalah saat santai, biasanya di malam hari ataupun siang hari berhujan lebat saat kami kanak-kanak merasa bete terkurung di dalam rumah tanpa hiburan apapun, karena saat itu belum ada TV apalagi dengan aneka saluran. Suasana mendongeng juga membangun suasana akrab, mana ada mendengarkan dongeng dengan sikap tegang pun ngapurancang apalagi jarak antara pendongeng dan pendengar belasan meter? [Kini dengan kemajuan teknologi suasana keterdekatan dengan pendongeng tetap terbangun, meski pendongengnya berkilometer jaraknya]

Pada saat beliau tidak sempat mendongeng, beliau menugasi si mbarep untuk mendongeng bagi adik-adik. Weladalah aspek ingatan dikerahkan, menjadi pendongeng ala Bapak ataupun Ibu tentu tak sanggup, beliau memainkan intonasi, ritme maupun bahasa tubuh yang khas untuk menghidupkan suasana jenaka, gusar maupun galau. Alampun menuntun bahwa pada dasarnya setiap titah adalah pendongeng, dan baru setelah besar kami menyadari pola didik Bapak dan Ibu untuk melatih kami.

Giliran menjadi orang tua, kebiasaan mendongeng kami sangat dibantu aneka sumber. Improvisasi alur mendongeng menjadi sangat dicermati karena anak-anak kini sungguh kritis pun alam lingkungan sekitar berbeda. Cerita uthak-uthak ugel dengan buah elo yang menggambarkan keserakahan merusak alam harus dipermak, karena anak-anak sulit membayangkan buah elo malah gampang buah pir katanya….

Burung Gagak Pelangi

burung Gagak Pelangi

burung Gagak Pelangi

Saat menikmati pesta buku yang digelar oleh toko buku g* yang gedhe jaringannya di tanah air yang diselenggarakan di halaman Perpustakaan Daerah, saya terpikat dengan buku Burung Gagak Pelangi karya Thanasis terbitan Gm. Dongeng berbasis dunia binatang alias fabel sangat disukai kanak-kanak. aneka ekspresi binatang dari wujud, suara maupun geraknya mudah diterima secara dinamis dalam benaknya. 98 cerita dongeng terbagi pada kelompok Asal Usul, Persahabatan&Permusuhan serta Perjuangan&Kepahlawanan. Pada bagian akhir penulis memberikan kiat mendongeng fabel mulai dari penguasaan materi, menyiapkan kondisi hati pendengar serta improvisasi. Nah resensi pun review bukan tujuan postingan ini. Buku luar biasa dari Thanasis untuk pendampingan pendidikan budi pekerti.

Dongeng dari Istana Bawah Tanah

Dongeng dari Istana Bawah Tanah

Dongeng dari Istana Bawah Tanah

Belum mereda kaok gempita Burung Gagak Pelangi, datang duta J** menghantarkan paket dari Bumi Pangkal Perjuangan. Buku bertajuk Dongeng dari Istana Bawah Tanah (DDIBT) karya sahabat narablog Guskar Suryatmojo …. kastil sunyi menyeruak dari pusaran gradasi warna biru tampil memikat untuk segera membacanya.

Judul: Dongeng Dari Istana Bawah Tanah • Penulis: Guskar Suryatmojo • Penerbit: Halaman Moeka Publishing (Jakarta, Juni 2014) • Tebal: xii + 199 halaman .

Dalang Wayang Slenca yang pada hakekatnya juga seorang pendongeng berkelir kini membabar lakon dongeng dengan aneka latar. Ada dongeng sejarah mulai Majapahit, Blambangan, Daha, Demak, Pajang, Mataram, Pasundan hingga Pagarruyung; ada hikayat; fabel yang semuanya terkemas mentes nyiamik khas ala beliau. Menikmati dongeng dari istana bawah tanah pada halaman 79 yang menjadi judul buku…aneka pesan terangkum. Epilog sangat menyentuh, mbakyu nenek ikut mendukung doa kakek…..

Buku DDIBT ini khas. Bila buku dongeng lain bisa dibaca bersama buah hati usia awal SD, sstt…jangan pernah melakukannya pada buku DDIBT bila tidak ingin dislenthik, Kyaine.  Juga untuk mengikuti pola Bapak dan Ibu saat meminta sang mbarep usia ekan alias 1 digit mendongengi adiknya, please jangan meminjamkan atau merujuk buku ini untuknya ya, para emak bisa gidro-gidro [halah apa ya terjemahan Bahasa Indonesia] alias gusar bingits.

Dongeng Dari Istana Bawah Tanah yang sedang Anda baca ini adalah sebuah kumpulan dongeng untuk orang tua yang isinya memang diperuntukkan bagi orang dewasa agar kelak jika dituntut mendongeng untuk anak atau cucunya, misalnya, dapat menyeleksi dongeng mana yang dapat memberi hikmah dan mengenalkan karakter baik dan buruk, perbuatan mana yang harus ditiru dan yang mesti ditinggalkan. [Celoteh Sang Pendongeng, DDIBT hal x]

Berbarengan dengan gaya slenca khasnya, Mas Guskar juga sedang membikin pasemon/kiasan melalui dongeng yang disajikan. Pembelajaran melalui pasemon adalah pembelajaran yang sungguh efektif, hanya guru luar biasa yang mampu meramunya. Pasemon mampu membuat pembacanya tertawa, jengkel serasa kepengin menyubit, trenyuh yang sebenarnya menuju ke dalam diri. Tokoh Semar titisan Bathara Ismaya peramu pasemon yang sangat handal, melalui pasemonnya beliau mendampingi Pandawa dengan selalu mendendangkan nyanyian kebenaran, rasanya sedang menitis ulang ke Suryatmojo. Untuk mampu menangkap pasemon “hanya” perlu bermodalkan kejujuran secara wening mendengar suara hati nurani diantaranya membedakan yang asli dengan yang memba-memba.

Dari dongeng-dongeng yang saya kisahkan, saya tak memungkiri kalau saya sedang bikin pasemon. Anda tahu dongeng mana yang saya maksud? [DDIBT hal x]

Apresiasi luar biasa untuk Mas Guskar yang menambah khasanah bacaan bercitarasa tinggi di persada Nusantara, energi yang menguar tak berbatas buku keempat di tahun 2014. Mari mendongeng bersama Mas Guskar…..