Tag

,

Indahnya Jalan Simpang

Simpang 1 Ungaran-Salatiga

Melanjutkan edisi nglajo sementara Salatiga-Semarang. Saya terpikat dengan kejadian remeh temeh amatan jalan simpang sepanjang jalan tol yang kami lalui. Ini nih ceritanya….

Begitu kami memasuki jalan tol Bawen-Semarang, secara berkala pandang kami diperhadapkan dengan jalan simpang. Simpang pertama adalah pilih arah Ungaran atau kembali ke Salatiga? Saat kami menetapkan arah ke Semarang, dilanjutkan dengan simpang ke dua, keluar di Ungaran atau lanjut arah Banyumanik? Kamipun memilih lanjut arah Banyumanik. Mendekati pintu keluar Banyumanik, muncul pilihan, bener nih keluar Banyumanik atau lanjut arah Jatingaleh? Lanjut ah…kembali kami diperhadapkan pada pilihan, hayuuk keluar Jatingaleh atau lanjut ke Krapyak atau bahkan arah Gayamsari. Karena setting awal adalah arah menuju Tugumuda tentunya kami memilih keluar di Jatingaleh dari ruas jalan tol Bawen-Semarang.

Simpang 2 Ungaran -Banyumanik

Kecermatan dan keawasan membaca penanda arah serta kesigapan menentukan arah sangat menentukan kelancaran berlalulintas di jalan raya. Betapa pengemudi menjadi kaget saat mobil didepannya yang berjalan di lajur kiri tetiba masuk ke lajur kanan karena salah membaca penanda di jalan simpang. Atau betapa gedandapannya pengemudi yang anteng di lajur kanan dan tetiba menyadari mestinya sudah keluar di jalan simpang yang dilewatinya, bersyukur bila pintu keluar berikutnya berjarak lumayan dekat.

Simpang 3 Banyumanik-Jatingaleh

Loh mana jalan simpang mana jalan utamanya? Sebutan jalan simpang dan utama bergerak dari setting awal kita menetapkan tujuan. Bila tujuan awal kita kota Semarang tentunya keluar di Ungaran ataupun Banyumanik bisa dikategorikan jalan simpang.

Simpang 4 Jatingaleh-Gayamsari

Pernahkan para sahabat tetiba keliru memilih jalur dan masuk ke jalan simpang? Apa saja peluang yang terjadi?

  1. Tidak sampai ke tujuan yang ditetapkan semula. Dari Salatiga hendak ke Semarang, keliru jalan simpang ke Solo. Apalagi bila selama perjalanan tidak mengecek posisi ataupun malu bertanya, tambah parah kalau memang tidak mengetahui tujuan perjalanan, maka drama tidak sampai ke tujuan yang ditetapkan semula bisa saja terjadi.
  2. Sampai ke tujuan yang ditetapkan semula namun membutuhakan waktu tambahan. Bagi seseorang yang sedang bergegas, salah belok ke jalan simpang yang menyebabkan tertundanya ke arah tujuan semula pastinya membuar rasa khawatir, terkejar nggak ya?
  3. Menikmati jalan simpang sebagai variasi. Saat kita tidak bergegas, tanpa sengaja salah arah ke jalan simpang tetap dapat dinikmati sebagai variasi, menjadi tahu keunikan jalur lain, keliru masuk ke jalur Ungaran ya disempatkan menikmati tahu bakso Ungaran dll.
  4. Menetapkan tujuan baru. Bisa jadi saat tanpa sengaja masuk kejalur simpang, kita diajak mengevaluasi penetapan tujuan awal dan menetapkan tujuan baru di rute yang kita lewati.
  5. Intinya kita tidak perlu panik dengan jalan simpang. Selama tujuan awal jelas bisa berbalik arah atau sedikit berputar dengan masing-masing risiko. Bagi yang penetapan tujuan awalnya fleksibel bisa menjadi alternatif penetapan tujuan baru.

Jalan simpang dalam keseharian

Memperhatikan siar-siur jalan simpang terasa analoginya dengan kehidupan keseharian kita. Jalan kehidupan tak selamanya jalan lurus dengan penanda arah yang jelas. Ada saatnya tanpa sengaja kita terbelok ke jalan simpang. Bersyukur bila kita tahu dengan pasti tujuan kita, sehingga bisa balik arah atau sedikit memutar. Cilakanya kalau kita sendiri tak mampu mendefinisikan tujuan awal atau ragu dengan pemilihan tujuan.

Ada kalanya kita diizinkan terbelok ke arah jalan simpang untuk menimba pengalaman entah pengalaman indah ataupun sedang ditatar melewati jalan simpang yang terasa rumpil. Pastinya para sahabat pembaca Rynari memiliki banyak cerita saat tersesat ataupun ‘menyesatkan diri’ secara indah ke jalan simpang keseharian.

Jalan simpang yang tak selalu menyimpang

Penetapan kategori jalan simpang dan utama sangat bergantung dari penetapan tujuan awal. Eeh bisa jadi kita salah menetapkan tujuan awal, sehingga saat kita berbelok ke jalan yang semula kita sebut jalan simpang terasa aneh. Berjalannya waktu ternyata jalan simpang ini menjadi bagian dari jalan utama dalam perjalanan hidup kita.

Cerita sederhana, saat saya harus ‘ngebun sementara’ di luar Salatiga mengikuti seorang begawan yang bertugas di Ungaran juga Semarang. Beliau memberi kesempatan memilih, mangga silakan bebas mau di Ungaran atau di Semarang. Dengan keterbatasan informasi pertimbangan menetapkan tujuan, kami beranjak ke Ungaran sesuai dengan janji pertemuan. Eh tetiba saat kami datang kembali beliau cuti karena ada kegiatan mendadak dan saya lupa tidak konfirmasi ulang sebelum berangkat. Mengingat urgensinya waktu sebagai kecepatan bertindak, kami sempat agak ngedrop lalu teringat tidak ada sesuatu yang kebetulan, semua selalu ada hikmahnya.

Bergegas kami mencari jadwal beliau secepatnya di Semarang, dan semua dimudahkan hanya dengan berselang hari kami bisa menghadap beliau di Semarang. Kedatangan kami di kebun Semarang membuka wawasan yang tadinya tertutup oleh pertimbangan jarak dari Salatiga. Cerita di episode ini kami merubah tujuan dari Ungaran menjadi Semarang yang semula kami anggap jalan simpang. Jalan simpang yang tidak selalu menyimpang. Kami meyakininya sebagai karunia Tuhan punya banyak cara untuk menolong. Tidak perlu alergi dengan jalan simpang.

Bagaimana dengan kisah jalan simpang dalam perjalanan sahabat? Semoga menyenangkan dengan aneka kisah inspiratif yang didapat.

Iklan