Tag

, ,

Pesona Sumur Gumuling

Kami 10 emak-emak yang tergabung dalam dasawisma Anggrek menikmati Situs Cagar Budaya Pesanggrahan Taman Sari alias water castle di Yogyakarta dan salah satu bagian yang menarik adalah Sumur Gumuling. Pandangan dari bentang alam, nampak bangunan beratap panjang, disusul barisan tajug dan bangunan cukup besar yang terhimpit di tengah kawasan pemukiman yang padat.

Masjid Pendhem 1

Pintu masuk area dan posisi sumur gumuling

Pintu di bangunan beratap panjang sebagai penanda pintu masuk merangkap pintu keluar dari kompleks bangunan di bawah tanah. Berada di perut bumi, pengunjung akan melalui lorong beratap masip dengan bantuan lentera di dinding hingga ke bagian tengah bangunan besar.

Masjid Pendhem 2 pintu masuk

Menuju perut bumi di sumur gumuling

Masjid Pendhem 3 Lorong dan ceruk

Masjid Pendhem: Lorong dan ceruk (posisi pemimpin sembahyang)

Bangunan yang lazim disebut sumur gumuling dan beberapa menyebutnya sebagai masjid pendhem karena posisinya yang terpendam di bawah permukaan tanah. Bangunan berbentuk melingkar atau cincin yang terdiri dari dua lantai dengan bagian tengah berupa ruang terbuka. Pada ruang terbuka inilah terdapat sumur yang kala dulu dipergunakan sebagai tempat berwudhu, sumur yang berpayungkan kubah atap datar dengan penyangga empat anak tangga dan dari pelataran atap kubah terdapat anak tangga ke lima (satu satunya jalan) menuju bangunan lantai atas. Kelima anak tangga sebagai perlambang lima rukun Islam dengan anak tangga ke 5 menunjuk pada arah kiblat. Di lantai atas terdapat 4 jendela pewakil arah mata angin ke bagian tengah dan dari jendela Timurlah bentukan bangunan tengah ini nampak utuh sehingga selalu padat pengunjung yang hendak mengambil foto sumur beratap 5 anak tangga ini. Menurut penjelasan pemandu, saat sembahyang berjamaah, umat pria berada di lantai atas dan umat wanita di lantai bawah dengan posisi pemimpin di bagian ceruk dinding.

Masjid Pendhem 4 sumur gumuling dan kubah lima anak tangga

Masjid Pendhem: sumur gumuling (tanda bintang) dan kubah lima anak tangga (tangga teratas menuju arah kiblat)

Menikmati bagian situs cagar budaya selalu menghadirkan decak kagum betapa tingginya peradaban bangsa kita, membangun ruang-ruang bawah tanah di saat teknologi alat bantu belum semaju saat ini. Belum lagi arsitektura bangunan yang selalu sarat filosofi. Bagian generasi kini adalah melanjutkannya sesuai dengan derap kemajuan bangsa seraya memelihara keluhuran budaya bangsa sendiri. Selamat menyambut ibadah puasa di bulan Ramadhan ini. Salam

Iklan