Tag

, ,

Perjalanan Sang Pucuk …..  (Belajar dari Teh Tambi)

Pucuk….pucuk….si ulat yang berpayah menanti sang pucuk mengaku kalah oleh kegesitan tangan lentik pemetik teh. Proses berikutnya sang pucuk diracik dengan apik hingga konsumen teh pucuk merasa aman nyaman produk yang dikonsumsinya yakin bermutu baik. Postingan ini sebagai dukungan atas tulisan perut karet oleh Mbak Monda yang mengetuk kesadaran produsen maupun konsumen untuk lebih sadar dan perhatian terhadap keamanan produk yang kita konsumsi.

1. Perjalanan pucuk berawal dari kebun

Perjalanan pucuk berawal dari kebun

2.Pucuk menuju pabrik

Pucuk menuju pabrik

Perjalanan sang pucuk berawal dari lahan. Konsep ‘aman dari lahan ke cawan’ bermula. Penerapan praktek budidaya pertanian yang baik (good agriculture practices/GAP), pengelola kebun bertanggung jawab penuh atas kualitas pucuk sebagai langkah penjaminan mutu (quality assurance) pada sistem manajemen keamanan pangan.

Lanjut pada penanganan petikan pucuk yang baik (good handling practices/GHP) dan masuk pada tata kelola pabrik yang baik atau cara produksi yang baik (good manufacturing practices/GMP). Setelah puluhan jam diproses secara ketat dengan penerapan HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Point) atau analisis bahaya dan pengendalian titik kritis (ABPTK) produkpun siap untuk didistribusikan.

Good Manufacturing Practices Teh Tambi

Good Manufacturing Practices Teh Tambi

4. Pengendalian Kualitas

Pengendalian Kualitas

Pasar utama produk teh ini adalah USA, Rusia, Holland, UEA, India dan Jepang untuk menembus ketatnya persyaratan pasar tentunya harus memenuhi standar kualitas serta penerapan praktek pendistribusian maupun transportasi yang baik. Hingga akhirnya kita konsumenpun yakin menerimanya setelah melewati serangkaian proses menuju keamanan pangan. Yook ngeteh dengan aman dan nyaman….

6. Pucuk di tangan konsumen

Pucuk di tangan konsumen

Hak kita setiap konsumen untuk mendapat produk pangan yang dijamin keamanannya dan kewajiban kita pula untuk mengawasi dan memberikan umpan balik saat produk yang kita nikmati melenceng dari standar semisal yang paling mudah dari standar SNI. Dengan bekerjasama bahu membahu semoga praktek penyimpangan keamanan pangan semakin dapat ditekan. Yook semakin peduli pada keamanan pangan keseharian kita.

[Semisal kami sering meminta sahabat taruna kebun untuk praktek analisis bahaya dan pengendalian titik kritis (ABPTK) secara sederhana pada pusat jajanan, cafe ataupun industri penganan skala rumah tangga. Hasil kajian dipresentasikan secara terbatas dengan pesan penggunaan data secara bijaksana. Harapan besar diskusi ini bisa melibatkan langsung instansi terkait semisal Dinas Perindustrian, Perdagangan, Kebersihan, Kesehatan dengan tujuan utama bukan penghakiman ataupun main salah benar namun kepada langkah pembinaan dan pendampingan yang efektif bermartabat]