Tag

, , , , ,

Dawis Anggrek Kembali Dolan Yogyakarta

Dawis Anggrek goes to Yogyakarta

Berbagai alasan menulis di blog, apapun tidak masalah. Termasuk menulis perjalanan bersama yang sudah berbulan berselang. Nah kembali mempersembahkan Dawis Anggrek dolan ke Yogyakarta. Kisah lama di pertengahan Oktober 2019 lalu.

Aneka tujuan dolan di rakit, mulai The lost world castle, The stonehenge, Taman Merapi dengan landmark dunia. Ooh merasuki buibu dengan cinta museum, digerakkan ke Museum Gunung Berapi Merapi. Meluncur ke Heha, wisata kekinian ke arah Selatan. Mari dolan bareng….

Pk 06.11 pagi, empat belas ibu berangkat dengan 1 kendaraan. Sengaja tanpa sarapan pagi, karena akan menyantap sop senerek di Pisangan jelang masuk kota Magelang. Tak cukup hanya sarapan di tempat, pisang rebus hangat pun diangkat ke mobil.

sop Senerek Pisangan Magelang

Usai jembatan Tempel, aba-aba berhenti diserukan di depan pasar. Beronggok lanting, slondok dijejalkan ke dalam mobil, oho buibu, ini kesukaan suami, anak, tetangga, aneka alasan penguat.

Mari ke kastil….

Tujuan pertama di jejak pada pk 09.43. Petung, Kepuharjo, kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman DIY. The Lost world castle (TLWC), serasa dolan ke benteng Takeshi di lereng Merapi. Enaknya berada di lokasi ini saat pagi, belum terlalu penuh dan panas. Para ibu muda segera menyebar di aneka sudut pemotretan. Melacak ‘sakura’ lereng Merapi yang ramai di medsos.

Dawis Anggrek di Lost World Castle

The Stonehenge versi Petung, Sleman

Puas dari TLWC, makemak bergeser ke The stonehenge. Ciaat dari Jepang lompat ke Inggris. Aneka seruan buibu loh arealnya nggak luas yah. Mari longok sejenak sejarah. Kompleks the lost world sebagai pengingat ‘raibnya’ Dusun Petung saat erupsi Merapi 2010. Kini menjelma menjadi desa wisata.

Dawis Anggrek di Stonehenge

Mari bergeser ke Taman Merapi. Parkiran mulai lumayan penuh, keutamaannya adalah landmark dunia. ‘Keajaiban’ bagaimana piramid, Dubai, Inggris berdekatan di pangkuan lereng Merapi. Lumayan mengucurkan keringat saat memutarinya, buat yang terlalu lelah, cukup banyak perhentian yang menarik.

Taman Merapi

Dawis Anggrek di The world landmarks

Lanjut yook. Keluar dari Taman Merapi, mulai tergoda gelaran oleh-oleh khas Kaliurang, jadah-bacem-wajik. Mangga dilarisi bakulnya.

Jadah bacem Kaliurang

Saatnya sholat Dluhur, mari berteduh dari panasnya siang di Museum Gunung Berapi Merapi. Usai buibu sholat, kami bergegas antri suguhan teather dengan tajuk Mahaguru Merapi. Eh tadi kisahnya apa ya, baru beberapa menit aku tertidur. Lah aku, jelang akhir cerita sempat terlelap. Olala, siang hari, ruangan ber AC, saatnya menikmati film malah kebanyakan kami tertidur.

Dawis Anggrek di Museum Gunung Berapi Merapi

Mari makan siang yang lumayan terlambat. Sahabat penata jalan sudah pesan tempat di WM Lombok ijo sega abang. Nyamnyam, nasi merah, oseng daun pepaya, sayur tempe cabe hijau bersantan, bothok teri plus ayam bakar. Minumnya mari nikmati secangkir wedang uwuh. Khas Yogya kususnya Gunung Kidul.

Maksi Lombok ijo sega abang

Turun dari Kaliurang, tetap ya mampir di Mbah Carik empunya jadah-bacem-wajik. Muatan di mobil makin sarat nih. Kendaraan meluncur ke Selatan. Menuju ke wisata kekinian HeHa Sky View di  Jl. Dlingo-Patuk No.2, RT.001/RW.001 Desa, Patuk, Kec. Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Antrian berjubel di HeHa

Woo areal parkir penuh sesak. Begitupun saat antrian masuk. Apalagi jam kunjungan sore jelang pk 17, pengunjung membludag. Kalau siang hari terasa sangat terik. Trend menikmati senja di ketinggian. Menatap gagahnya Merapi di kejauhan. Kerlap-kerlip lampu kota Yogyakarta. Aneka tempat pepotoan, termasuk balon juga aneka jajanan jadi pemikat.

Anjungan HeHa Sky view, Pathuk, DIY

Secara pribadi, saya sangat bergegas di anjungan jembatan atas. Mencoba menghitung kapasitas dan memberi kesempatan kepada pengunjung di belakangnya. Terasa lega saat menikmati lembayung senja justru di lantai dasar. Bulan mengiringi kami keluar dari HeHa pk 18.13.

Menatap Yogya di lembayung senja berlatar Merapi

Perjalanan pulang, buibu tidak lagi ingin makan malam. Tawaran minum hangat tetap bersambut. Pk 19.16 kami rehat sejenak di Wedang Kopi sekitar Candi Plaosan, Prambanan, Klaten. Berada di pinggir sawah, tempat ngopi ini sungguh ramai. Ada live music, aneka pondok makan di samping pendapa utama. Suasana tempo dulu sangat terasa, wuenak untuk dolan bareng keluarga.

Dawis Anggrek di Wedang kopi Plaosan

Oh ya saat ditanya teman, kenapa Dawis Anggrek getol dolan? Kami membuat tabungan wisata sejumlah tertentu per bulan, bermula dari 25K. Siapa yang berkenan secara rutin menyetor iuran eh tabungan. Saat jadwal dolan, peserta dolan menggunakan tabungan wisatanya. Untuk ibu-ibu yang pada saat dolan tidak ikut, tabungan beliau tetap utuh. Dolan tanpa terlalu menggoyang anggaran rutin rumah tangga. Toh dolannya juga tidak terlalu jauh.

Saatnya pulang. Pk 20an kami beranjak pulang. Kembali ke rumah yang hangat, anggota keluarga menanti. Terima kasih buibu tuk kebersamaannya, mari jaga kesehatan, semangat untuk dolan berikutnya.