Tag

, , ,

Hobi Mampir

Mampir

Mampir alias singgah sejenak pada perjalanan utama. Nah sahabat kebun RyNaRi, adakah yang memiliki hobi mampir? Saya bagian dari penyuka kebiasaan acara mampir. Ini salah satu aksi mampir pada perjalanan rutin kaki Merbabu ke Yogya.

Ladang RyNari terasa suwung kosong tanpa imbuhan unggahan baru. Padahal sangat menyadari loh kalau menulis itu bagian dari merawat memori. Kemudian sel dan syaraf otak berkoordinasi dengan jemari menuangkannya melalui jalinan kata.

Ya wis, kali ini menyoal hobi mampir. Eh rasanya kebanyakan tulisan di kebun ini juga buah dari kebiasaan mampir ya. Mampir juga menambah rasa senang saat perjalanan.

Ampiran perdana perjalanan ke Yogya liburan Paskah 2022 ini adalah Pasar Kopeng. Aha, perjalanan menanjak hendak melipir lingkar G. Merbabu diawali dengan mampir. Pasar Kopeng berada di seberang pom Bensin Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Kab Semarang.

Pasar yang selalu ramai kunjungan pelintas yang mampir. Menyediakan aneka hasil bumi kelompok hortikultura yaitu bunga, tanaman hias, buah pun sayuran. Yuup Kopeng daerah berhawa sejuk salah satu sentra hortikultura.

Sejak awal pasang kacamata kuda, tujuan fokus ke penjaja tanaman hias. Masih dibatasi lagi dengan membeli kaktus anggur. Aha kenyataan lensa kacamata kuda sedikit melebar, masih tetap keukeuh di kios tanaman hias.

Mata dan kamera tetap nyalang lihat jajaran anggrek bulan dan dendro yang sarat kembangnya. Juga jajaran tanaman hias daun yang menggoda. Transaksi masih pada jalur yaitu 2 pot kaktus anggur beda tipe, lonjong dan membulat. Tangkai menjulur ke bawah dari bibir pot gantung laksana tandan penuh bulir mirip anggur.

Kaktus anggur ini akan diampirkan untuk nambah koleksi adik 4S yang naksir tampilan gemrandul di rumah. Lah dari pada mulai adaptasi baru mending diambilkan yang sudah siap pajang dari kios tanaman hias. Ini simbok kadang ingkar berproses hehe.

Bonus 1 pot kembang sepatu hibrida masih wajar kan ya. Kembang sepatu yang tumbuh subur pada lahan terbuka alias butuh matahari penuh. Zaman kecil kembang sepatu alias wora-wari bang ini tumbuh sebagai tanaman pagar. Kini hadir aneka hibrida baik dengan mahkota tunggal maupun tumpuk. Penciri ukuran bunga yang luar biasa besar.

Lanjut perjalanan mulus. Sebagai variasi dipilih jalur menyimpang dari Tegalrejo – Magelang – Muntilan, kami ke kiri Tegalrejo – Candimulya – Muntilan. Menyisir tampilan Candimulya sentra Durian di akhir masa durian. Perjalanan sebelumnya di jalur ini mampir potrat-potret kios durian yang berjajar sepanjang perjalanan rute Candimulya. Saat melintas terlihat jajaran kios kosong.

Cuus ke Yogya. Kepak sayap ratusan burung kuntul atau blekok putih di sawah yang sedang di bajak jelaslah menggoda simbok untuk mampir mandeg. Barisan blekok terbang rendah mengikuti petani yang sedang membajak sawah. Saat tanah tercungkil oleh mata bajak berpeluang mengungkit cacing tanah ataupun keong sawah yang haap disantap para blekok.

Nah kan ampiran yang memanjakan indera mata dan rasa. Paduan sawah pasca panen, tanah di bajak, krida pembajak tanah dan aktivitas burung blekok. Bagian dari ekosistem sawah dan piramida pangan.

Baru meluncur beberapa kilometer eh mampir lagi. Ini memenuhi penasaran kepada penjaja buah duku yang selalu menulis duku Palembang entah dari manapun asalnya. Duku 20K. Pesan informasi yang sangat singkat.

Buah duku dipajang dalam bungkus plastii, ooh satuannya per bungkus yang menurut beliau 1 kg. Kalau per kg tentunya akan dibarengi penyediaan timbangan dan buah duku dalam gundukan. Lah simbok tentunya memilih yang ukuran agak agal/besar ya. Mana ada simbok simbok yang membeli tanpa memilih.

Hehe…. Penjaja mengatakan yang ini ukuran besar harga sekian, yang itu sedang harga sekian dan yang 20K barisan depan ini alias paling mini. Olala informasi duku 20K yang efektif menggoda calon pembeli. Saat eksekusi tergantung pilihan ukuran buah.

Bagaimana dengan ampiran perjalanan baliknya? Mari awali dengan mampir di kios Roti Gembong Golden. Lah roti gembong yang booming beberapa waktu akhir ini. Model dasar sih mirip roti sobek dengan tekstur cukup lembut dengan aneka varia nisi.

Ternyata ada varian gembong golden dan gembong gedhe alias besar. Menjamur pada banyak kios yang tersebar bukan hanya di Yogya namun merambah ke aneka kota. Lah ampiran saya adalah kios gembong golden ngisor ringin. Tentunya tidak ada nama ngisor ringin ya, sebutan simbok berikan karena toko berada dekat pohon beringin.

Keluar dari Kota Yogya dan DIY, kami melintas di Muntilan. Mampir lagi nih……. Sapu lidi dan sapu ijuk yang jadi sasaran, wkwk…. Padahal beli di mana saja sama kan ya. Ini mah alasan mampir saja. Dipilih deretan toko pada jalan satu arah di Muntilan.

Tidak memiliki referensi, simbok gunakan toko pertama yang dijumpai saja. Beberapa kali sapaan kulanuwun tidak berjawab hampir saya geser ke toko sebelah. Eh Bapak empunya toko keluar, baiklah mari teruskan transaksi.

Untuk sapu lidi bertangkai terdapat 3 varian produk. Ini dari Purworejo, ini Klaten, yang ini dari bla bla saya lupa, loh bukan Muntilan toh. Beliau memilihkan model yang paling ringan digerakkan. Bagaimana dengan sapu ijuk, eh penyapunya tidak selalu ijuk kelapa atau aren loh. Kadang dari bunga rumput. Kembali mari serahkan kepada saran penjual. Eh masih nyabet lagi lah lidi tebah kasur.

Saat penjual memasukkan sesapuan ke kendaraan, beliau melihat jajaran anggrek dalam dos yang saya beli di Yogya. Beliau mengatakan ada penangkar sekaligus penjual anggrek di dekat toko beliau. Maju hingga perempatan, belok ke kiri masuk jalan desa sekian ratus meteran.

Ooh solidaritas antar pedagang. Eh kisikan manjur loh atau dasar simboknya yang mudah tergoda hehe. Jadilah tambah mampir di tempat anggrek. Beneran kebun anggrek tanpa plang nama. Empunya membuka kebun anggrek di samping rumah.

Asiik benar ya rumah berpekarangan luas tidak di pinggir jalan kota yang ramai. Menuntaskan hobi menjadi sarana rezeki. Koleksi utama beliau adalah anggrek dendobium keriting. Terlihat jajaran indukan yang menjulang.

Hanya menenteng 1 pot, koleksi beliau nampaknya disasarkan untuk para hobiis beneran. Bukan tipenya simbok yang hanya penyuka abal abal asal mekar tanpa harus ada pencirian spesi hehe. Untuk penyuka tantangan penangkar, tersedia aneka pilihan indukan.

Kolam lumayan luas di depan teras beliau dipenuhi gantungan anggrek bulan. Strategis bisnis apik, beliau penyuka dan bisnis ikan koi. Lah uap air dari kolam sekalian merawat si bulan yang kurang suka cahaya dan panas penuh.

Mendaki dilanjutkan menuruni lereng Merbabu. Kembali Pasar Kopeng menjadi ampiran. Banyak banget alasan mampir. Kali ini untuk labu waluh ukuran sedang, pedagang setempat menyebutnya kenthi. Sediaan kolak mbak Im untuk buka puasa.

Suasana Pasar Kopeng di Minggu sore terasa ramai. Rintik gerimis tidak menghalangi transaksi. Entahlah selalu merasa senang melihat kerumunan pembeli di depan penjaja hasil bumi, apalagi saat pembeli keluar menenteng belanjaannya.

Sudah ah ya mampirnya. Simbok penjaga ladang RyNaRi juga bersyukur berterima kasih kepada para sahabat yang berkenan mampir di kebun ini. Mampir sebagai bagian dari refreshing pelepas penat dan jenuh. Mampir kegiatan ringan yang menyenangkan. Selamat menikmati dan meneruskan perjalanan.