Tag

,

Pesona Siti Nurbaya

Keping Masa Kecil
Salah satu bacaan masa kecil yang sangat berkesan adalah novel Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai karya Marah Rusli dengan setting ranah Minang yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1922. Kesan awal yang tertanam begitu kuat adalah rasa sengit (tidak suka) kepada Datuk Meringgih. Saat mendapat tugas membuat resensi buku pada pelajaran Kesusasteraan pada jenjang SMP kesan kesengitan meluntur oleh keelokan tarian kata berbalas pantun antara Angku Samsulbahri dan Encik Siti Nurbaya. Perubahan pandangpun terjadi saat guru Bahasa Indonesia di SMA melatih apresiasi karya dengan menyadari bahwa misi Marah Rusli tidak sedangkal menyebar rasa sengit ataupun romansa cinta semata. Jalinan kisah multi dimensi antara adat, kolonialisme dan pagelaran perangai dasar manusia.

[Dulu sekali pelajaran Bahasa Indonesia terdiri dari beberapa bagian diantaranya tata bahasa (bagi saya paling sulit dan hingga saat ini belum tertib bertata bahasa) dan kesusasteraan yang membahas karya sastra indah (paling menyenangkan, selama tidak diminta menyusun puisi maupun mengarang prosa)]

Menangkup Keping
Siti Nurbaya kini dilekatkan pada penanda Kota Padang yaitu jembatan nan elok yang menjadi penghubung antara kota Padang dengan bukit Sentiong yang melintas di Batang (sungai) Arau. Saat berkunjung ke ranah Minang Mei lalu, salah satu tujuan adalah melintas sejenak di Jembatan Siti Nurbaya, menatap kerimbunan gunung Padang menangkup kepingan masa kecil dengan keping masa kini. Postingan ini berdasarkan pada amatan rasa semata.

Beranjak dari hotel di depan Monumen Gempa dan Museum Adityawarman, mengarah ke Selatan menyusur taplau (tapian lauik), kawasan pelabuhan lama di Muaro, menyusur sedikit ke arah hulu sampailah di Jembatan Siti Nurbaya yang megah. Dari arah bawah (bantaran sungai), nampak posisi badan jembatan cukup tinggi tanpa menghalangi lalu lalang kendaraan sungai yang padat menyusuri Batang Arau.

Arah Kota lama

Jembatan Siti Nurbaya ke arah kota

Sitti Nurbaya Arah ke bukit

Jembatan Siti Nurbaya arah ke bukit

Jembatan Siti Nurbaya Menuju Bukit

Jembatan Siti Nurbaya Menuju Bukit

Menurut DaWel (Uda Wel, pengemudi yang memandu kami) sayang kami tidak berkunjung di malam hari dengan pemandangan prima kejora lampu di sepanjang badan jembatan, lampu dari perahu yang tambat sauh di tepian sungai dan keramaian pengunjung menikmati jagung bakar yang dijajakan di sepanjang tepian jembatan. Cukuplah kami diturunkan sejenak untuk jeprat-jepret dan menghirup aroma Batang Arau sementara kendaraan berputar arah.

Siti Nurbaya Melintas Batang arau

Siti Nurbaya Melintas Batang Arau

Lalu lintas Batang arau

Lalu lintas Batang Arau

Berdecak kagum akan kemegahan jembatan Siti Nurbaya landmark kota Padang, seraya mendesah sah sudah kunjungan ini. Melayangkan pandang sejenak di Batang Arau ke arah hulu maupun hilir yang akan merapat ke Samudera Indonesia tercekat dengan warna air nan coklat pekat. Seakan Encik Siti Nurbaya berbisik, “cucuku (sedetik berasa masih muda)……saat itu air Batang Arau sebening kaca, menghantar air hijau dari Bukit Barisan menuju air biru di samudera lepas.” Kini air Batang Arau sarat muatan begitu banyak partikel terlarut yang harus diangkut.

Arah hulu Batang Arau

Arah hulu Batang Arau dari Bukit Barisan datangnya

Arah hilir Batang Arau

Arah hilir Batang Arau

Bank Indonesia

Gedung Bank Indonesia di tepian Batang Arau

Jembatan Siti Nurbaya menyatu dengan banyak bangunan bersejarah diantaranya Gedung Bank Indonesia, daerah perniagaan lama di sepanjang bantaran Batang Arau, deretan bangunan yang menua bahkan beberapa sudah hancur. Kawasan yang menyimpan cerita perkembangan budaya kota Padang.