Tag

, ,

Menghitung Hari

Lanjutan dari blusukan di jembatan Tuntang….. Kisahku bermula dari penanda 1914, yah terentang jarak waktu seabad silam di awal 2015. Aku direntang dari besi tuang, ditempa menjadi lintasan panjang menghubungkan Ambarawa ke Toentang yang berakhir di Kedoengjati.

Penanda 1914 Foto by mbarep

Penanda 1914 Foto by mbarep

Masa muda dengan tampilan rosa perkasa, menghantar hasil bumi kopi dari kebun ke pabrik lalu ke kota, menyapa para meneer dan toewan menikmati rasa. Tak hanya kopi, masa serdadu bertopi menjadi tamu tetapku selama masa pendoedoekan hingga perdjoeangan.

Dari nadir menuju nadir

Dari nadir menuju nadir

Dari nadir menuju nadir aku kan tetap hadir. Meski kini aku tak serosa dulu, keceriaan wisatawan yang bernostalgia dengan kereta api uap tetap kuhantar. Sapaan, usapan dan kegembiraan pengunjung melegakan tetes keringatku saat si kuda api mak itam merayap di tulangku. Ingatanku melayang pada kembaranku mak itam yang melintas dari tepian Danau Singkarak di Ranah Minang.

D30124 melintas

D30124 melintas

menghantar bahagia Foto by mbarep

menghantar bahagia Foto by mbarep

Seperti pemazmur mendaras, ajari hamba mengitung hari-hari kami agar kami beroleh hati yang bijaksana, begitupun hari-hari ku rel panjang kiranya menghantar hati yang bijaksana kepada setiap pelintas yang belajar menghitung hari, menikmati keindahan setiap masa dari muda hingga menua.