Tag

, , ,

Beratapkan Rapak….

“…anak-anak, para cucu dan buyut-buyut….terima kasih berkenan hadir di gubug ini, beratapkan rapak…..” Demikian sambutan Paklik (om) dari garis alm Bapak selaku tuan rumah dengan bahasa Jawa halus pun sangat merendah pada acara halal bihalal di bulan Syawal 1437H ini. Sontak saya menengadah ke atas, terpandang anyaman rapak alias daun tebu kering yang menaungi kami.

Rapak

Atap anyaman Rapak

Tebu…..yaak Saccharum officinarum, tanaman yang menjadi akar pengikat keluarga besar kami. Simbah dari pihak Bapak maupun Ibu berakar dari manisnya gula PG Tasikmadu. Banyak kenangan manis menetes dan mengucur darinya. Inikah alasan Paklik meski berdomisili di luar Tasikmadu, menghadirkan rapak? Tebu, salah satu tanaman yang saya kagumi. Dari setiap bagian/organ tanaman menghasilkan fungsi dan pembelajaran apik. Postingan kembang tebu, menjadi salah satu postingan yang banyak dilihat. Kembang tebu yang disebut gleges menjadi aran/sebutan tawa tanpa suara alias nggleges/ngembang tebu.

Kali ini tentang daun tebu. Saat tanaman muda, pelepah daun tebu membungkus calon batang, memberikan kekuatan agar tidak mudah rebah oleh tiupan angin. Daun tebu menjalankan fungsinya melaksanakan fotosintesis ibarat dapur tanaman yang memasak dan memasok hasil olahannya ke bagian penyimpanan yaitu bagian batang. Yuup batang sebagai rosot (sink) menumpuk gula hasil kerja bagian daun sebagai source (sumber). Hingga saatnya batang tebu siap mempersembahkan cairan manis. Selesaikah tugas daun?

Sebutan daun tebu dalam bahasa Jawa dibedakan antara daun tebu segar/basah disebut momol dan daun tebu kering tua adalah rapak. Daun tebu tua (rapak) memberikan dirinya kepada manusia menjadi alternatif bahan bakar pun disusun disemat lidi dan digapit menjadi semacam anyaman sebagai penyekat ruangan ataupun atap. Cukup banyak bisnis persewaan atap rapak di daerah kami sekitar Solo.

Menikmati keteduhan naungan anyaman rapak, saya menatap Paklik-paklik dan Bulik, dari 10 bersaudara kini yang masih sugeng 3 paklik dan 1 bulik. Setiap tahun beliau mengawal pertemuan trah, mengumpulkan anak cucu buyut yang terserak. Ngumpulke balung pisah ben ora kepaten obor, begitu nasehat para sepuh termasuk Bapak Alm dan Ibu, mengumpulkan keluarga yang terserak biar tidak kehilangan jejak persaudaraan, mengenal pohon keluarga dan tidak tercerabut dari akar budayanya. Nuwun sewu, mohon beribu maaf tanpa bermaksud menganalogikan dengan rapak (daun tebu kering), keteladanan para sepuh yang menganyam kekerabatan, mengobarkan semangat persaudaraan sungguh menaungi kami, meneduhkan kami, menghimpun kerabat terserak dengan mendekatkan pada pohon keluarga dan akar budaya.

“…ayo dicicip tape ketan juga jadahnya….” Lah tape ketan simbol kemanisan, jadah perlambang gurih dan rekatnya persaudaraan melengkapi keteduhan atap rapak dalam perhimpunan kerabat ini. Nyam..nyam ah… Kenalkah sahabat dengan rapak?