Tag

, , , , , , ,

Tembang dari Telaga Balekambang Di Hyang

2. Taman Museum Kaliasa

Taman Museum Kailasa Dieng

Gendhuk Limbuk sedang thengak-thenguk sambil ngantuk dibuai semilirnya bayu di keteduhan cangkruk (eh gazebo) di taman Museum Kailasa dataran tinggi Dieng. Tetiba dirasanya sabetan pelan selendang dari dewi cantik tepian telaga Balekambang. Sambil rengeng-regeng melantunkan tembang yang terdengar amat pilu sang dewi yang sekilas mirip Dewi Nawangwulan menuntunnya ke imitasi mangkuk batu berisi tiga peluru batu lalu menggiringnya ke deretan penjual hasil bumi di areal parkir. Air mata sang dewi nampak menderas di pipi mulusnya dan kelebat kembali ke Balekambang. Breeessss….guyuran hujan maha deras membangunkan Limbuk dari lelap sesaat. Apa gerangan pesan tembang dari telaga Balekambang Di Hyang ini, mari kita buka kitab bunda Dewi Saraswati dewi pengetahuan….

Telaga Balekambang Di Hyang pada mulanya

1. Gerbang Plato Dieng

Gerbang Plato Dieng

Pesona dataran tinggi Dieng tiada taranya, perjalanan sangat menanjak dari Kota Wonosobo dengan panorama pegunungan membuat pengunjung tak mampu berpaling. Dieng yang diyakini berasal dari kata Di Hyang, Di berarti tempat atau ardi/gunung dan Hyang bermakna dewata, oohh Dieng adalah gunung bersemayamnya para Dewa. Masyarakat Jawa menjulukinya pakuning tanah Jawi, paku payung raksasa yang ditancapkan persis di tengah bujur Barat-Timur Pulau Jawa agar tenang mengapung di tengah Samudera Indonesia.

Dataran tinggi Dieng atau Dieng plateau (plato Dieng) merupakan kaldera dari Gunung Prau purba dengan dinding-dinding gigir gunung disekelilingnya. Membentuk mangkuk laksana buah pir atau alpokat yang semakin meruncing ke arah Selatan.

Sebagai pusat tatanan keagamaan Hindu aliran Siwa, dataran tinggi Dieng sangat kaya dengan aneka situs, benda cagaralam budaya, semisal tuk Bima lukar, kompleks candi Arjuna, candi Dwarawati, candi Setyaki, candi Gatotkaca, candi Bima dll. Salah satu komponen utama dalam peribadatan adalah air lambang kesucian dan penyucian dan sebagai dataran tinggi airpun melimpah.

Penunjuk arah ke Telaga Balekambang

Penunjuk arah ke Telaga Balekambang

Arah Utara kompleks candi Arjuna inilah tempat dari Telaga Balekambang, ada pemaknaan sebagai tempat reservoir sekaligus drainase agar kompleks candi Arjuna tak tergenang saat musim penghujan. Ada pemaknaan sebagai sumber mata air yang tak pernah kering pada masanya. Cekungan dengan tingkat drainase terbatas dan kaya dengan tumbuhan lumut maupun rerumputan. Proses alam pembentukan tanah gambut dan Dieng menjadi salah satu fenomena gambut pegunungan yang sangat khas Indonesia. Bila gambut Sumatra maupun Kalimantan adalah gambut yang berasal dari dekomposisi terbatas pepohonan (woody peat) sedangkan gambut Dieng adalah gambut rerumputan yang bertekstur halus ringan [duh berharganya pembelajaran Eyang Rahmat yang nyaris terlupakan ini]. Pulau kecil mirip bentukan bale (tempat tidur) mengapung (mengambang) di tengah telaga, jadilah Telaga Balekambang. Sahabat pembelajar ilmu tanah pasti berburu ilmu ini senyampang gambut pegunungan di seputar Telaga Balekambang menjadi guru alam.

Telaga Balekambang Di Hyang pada saat ini

3. Telaga Balekambang dari lereng di atas Museum Kaliasa

Telaga Balekambang dari lereng di atas Museum Kailasa Dieng

Guyuran hujan maha deras membawa mata berkelana, puncak gigir gunung seputar kaldera dataran tinggi Dieng pada awalnya penuh tertutup hutan. Kini sebagian telah mengalami alih fungsi lahan, pergerakan pertanian semakin merambat ke tebing hutan. Terbukanya selimut alami gigir gunung memapar tanah menjadi bagian mangsa aliran hujan, erosi meningkat membawa sejumlah tanah yang mempercepat proses pendangkalan telaga Balekambang.

4. Telaga Balekambang dari kompleks Candi Gatotkaca

Telaga Balekambang dari kompleks Candi Gatotkaca Dieng

Kebutuhan air yang tinggi mengundang gerakan pompanisasi air telaga dan ditampung di daerah atasan yang kemudian dialirkan ke lahan pertanian melalui selang-selang yang menjuntai dengan gaya gravitasi. Saat melihat foto telaga di akhir bulan Nopember, ragil yang pernah datang di musim kemarau heran koq ada airnya ya Ma karena di musim kemarau air telaga surut dan di bibirnya penanaman kentang juga berlangsung.

kentang menghampar di tepian telaga balekambang

kentang menghampar di tepian telaga Balekambang Di Hyang

Kentang si peluru kemakmuran Di Hyang

Kentang si peluru kemakmuran Di Hyang

Aha, Dewi Nawang[kentang]..…inikah tembang pilumu karena telaga Balekambang-mu makin menciut…inikah makna simbul peluru batu-mu, mengingatkan kesuburan tanah diseputar telaga Balekambang sebagai curahan berkat batu galian kentang tiga warna yaitu putih atau kuning, kentang merah dan kentang ungu sarana kemakmuran bersama. Inikah dukamu bila Telaga Balekambang menjadi hikayat pun tanah gambut pegunungan Dieng jadi cerita. Bukankah aneka upaya pengerukan akibat pendangkalan sedang digalakkan..ooh jangan merengut Dewi, inikah pesanmu seraya pengerukan diperlukan upaya penanganan daerah atas, upaya konservasi untuk pengendalian erosi..

Oooh senyummu merekah saat mengharap Telaga Balekambang menjadi bagian dari kelestarian alam dan budaya pegunungan tinggi Dieng. Jadi pesona pariwisata Tembang dari Telaga Balekambang Di Hyang. Semoga begitu adanya, Gendhuk Limbuk-pun menjura puja.