Tag

, , ,

Budhe Kanjeng Mami di Tenda Biru

Tenda Biru

Pasar Tiban

Pasar Tiban di HLP

Bila di beberapa tempat keberadaan pasar malam (night market) mampu menyedot perhatian pelancong, keberadaan Minggu Ria Tenda di kawasan kompleks Halim Perdana Kusuma markas AURI pun cukup unik. Pasar tiban yang hanya buka di hari Minggu, berada di sepanjang ruas jalan terentang dari kompleks KOOPSAU menembus ke jalan raya Pondok Gede di seputaran asrama haji.

Deretan tenda biru berjajar rapi bernaungkan jajaran pohon tinggi membuat suasana cukup teduh meski berjejal pengunjung. Aneka dagangan dijajakan, tidak sangat khas, dengan selingan spot unik semisal rumah semut, mimi mintuna dll. Transaksi bersuasana hiburan, gelombang pengunjung berjalan santai, sesekali melihat dagangan ada yang berlanjut membelinya. Beberapa memuaskan hasrat berjalan dan berakhir di tenda kuliner yang tersebar acak.

Diantara pengunjung bersua beberapa para sepuh yang santai didorong anggota keluarganya di kursi roda. Hm… daya tarik apa yang membuat sesepuh rela berdesakan dengan pengunjung, pastinya bukan aura berbelanja, rasa membaur di keramaian menjadikan suasana dekat dengan komunitas bagian dari self healing. Ada kerumunan bergurau akrab, sesekali terdengar seruan khas..siap, Ndan..yup keakraban antar anggota angkatan terjalin.

Budhe Kanjeng Mami

Tenda yang melabel jajan Suroboyo dengan andalan rawon, pecel Madiun dan mangut lele ini merebut perhatian saya dan 7S. Harum kemangi sedikit taburan petai cina serta rempeyek kacang jadi penanda khas pecel Madiun, pesan bungkus yook untuk sarapan.

Sekitar delapan remaja tanggung usia SD yang duduk di salah satu meja berceloteh riang. “Pakdhe Budhe memang baik deh….” Demikian serunya yang ditanggapi senyum ramah sepasang pemilik tenda usia paro baya yang berbusana apik rapi.  “Menika lho Ibu, anak-anak minta dilayani paket sepuluh ribuan sudah plus minum” demikian terangnya kepada kami dengan bahasa Jawa halus. Menanggapi kernyit alis kami penanda kurang paham mengingat relatif mahalnya harga makanan di Ibu Kota, beliau dengan ringan menanggapi. “Siang sedikit akan datang pelajar SMA dengan permintaan senada dengan paket harga yang sedikit lebih tinggi sesuai dengan uang saku mereka” “Rezeki bisa dari mana saja, bila kami berbagi dengan anak-anak sekolah, kami mendapatkannya dari pengunjung lain

Budhe, Kanjeng Mami…teman kami dua orang belum dapat bagian loh” Kembali remaja tanggung berseru. “Sabar Gus, ini Pakdhe sedang meraciknya” Kanjeng mami…..ooh ingatan saya langsung mengait kepada kanjeng mami tokoh ningrat dengan dandanan khas dan solah tingkah menggemaskan pada sinetron Awas Ada Sule yang sesekali saya lihat ditonton mbak Imah di rumah. Haha…ada sedikit kesamaan di sosok budhe pemilik warung tenda dengan versi ‘luruh’ alias halus sabar.

Terima kasih Budhe kanjeng mami, semoga rezeki mengalir seiring dengan kesukaan pakdhe budhe berbagi. Lumayan berkeringat berjalan kaki selama hampir 1 jam itupun berbelok keluar sebelum ujung deretan tenda biru. Mau menyantap pecel Madiun dulu ah….