Tag

, , ,

Dolan Yook ke Museum Manusia Purba Sangiran, Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO

Museum Manusia Purba Sangiran

Merunut sejarah menelusur kehidupan. Museum Manusia Purba Sangiran menyajikan rekonstruksi kehidupan sejak 2 juta tahun lalu. Mari melongok situs Warisan Budaya Dunia UNESCO di negeri sendiri.

Ini sejumput kisah perjumpaan yang manis. Saat keluarga Mbak Monda sahabat ngeblog yang kami sapa peri gigi dengan keluarga raun-nya Juli 2017 sedang ke Solo. Kami rancang perjumpaan di museum hehe penanda sesama penyuka blusukan museum. Mari simak keseruannya.

Situs Manusia Purba Sangiran (The Sangiran Early Man Site)

Indonesia memiliki 5 Situs Warisan Budaya UNESCO. Salah satunya adalah Situs Manusia Purba Sangiran (The Sangiran Early Man Site). Memiliki no registrasi penetapan Nomor 593 pada tahun 1996.

Sangiran Early Man Site, UNESCO World Heritage

Tidak mudah untuk mendapat pengakuan sebagai Situs Warisan Budaya UNESCO. Situs harus memiliki Nilai Universal Luar Biasa (Outstanding Universal Value). Nilai universal luar biasa yang melampaui batas nasional.

Memiliki arti penting bagi generasi sekarang maupun mendatang dari semua umat manusia. Nilai universal luar biasa yang memerlukan perlindungan permanen terhadap warisan ini. Merupakan kepentingan utama bagi masyarakat internasional secara keseluruhan.

Situs Manusia Purba Sangiran memenuhi persyaratan tersebut. Lolos untuk kriteria no 3 dan 6 dari 9 kriteria. Kriteria (iii), memiliki keunikan atau sekurang-kurangnya pengakuan luar biasa terhadap tradisi budaya atau peradaban yang masih berlaku maupun yang telah hilang.

Kriteria (vi) Secara langsung atau nyata dikaitkan dengan peristiwa atau tradisi yang berlaku, dengan gagasan, atau dengan keyakinan, dengan karya seni dan sastra yang memiliki nilai universal yang signifikan (https://gln.kemdikbud.go.id/).

Situs Sangiran secara geomorfologi berada di area Kubah Sangiran. Merupakan bagian dari depresi Solo, di kaki Gunung Lawu. Memiliki luas area mencapai 56 km² melintas tiga kecamatan di Sragen (Gemolong, Kalijambe, dan Plupuh) serta Kecamatan Gondangrejo yang masuk wilayah Kabupaten Karanganyar.

Situs Sangiran menjadi sumber penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Mencakup keberadaan penanda evolusi (perubahan fisik) manusia. Juga evolusi fauna, dinamika flora hingga kebudayaan lingkungan yang terjadi sejak dua juta tahun yang lalu.

Museum Manusia Purba Sangiran

Museum Manusia Purba Sangiran berlokasi di Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Indonesia. Menjadi komponen dari Situs Sangiran. Sangat mudah dijangkau dilalui jalur Solo-Purwodadi.

Selaku pemblusuk penyuka cagar sangatlah berarti mengunjungi Museum Manusia Purba Sangiran ini. Andai waktu memungkinkan dapat mengunjungi beberapa museum penunjang di kawasan Situs Sangiran ini. Ada kluster Dayu, Ngebung maupun Bukuran.

Pintu gerbang kawasan Museum Manusia Purba Sangiran berpenampilan unik. Sepasang gading gajah purba yang saling bertautan. Pengunjung disambut pelataran yang luas sejuk. Museum ini dikelola oleh Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran.

Gerbang Museum dan Sepasang Gading

Mencari penanda Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO, mendapatinya di bawah pohon beringin. Papan nama mini berlatar akar gantung terlihat eksotik. Kunjungan bulan Juli 2017, terlupa harga tanda masuknya.

Untuk mendapatkan gambaran dan pembekalan, mari mengikuti sajian film di ruang theater. Tidak mengenal waktu tayang. Seberapa pengunjung bergabung dapat menikmatinya. Mendapat gambaran teba luasan juga sejarah dan perkembangan situs. Museum menjadi tempat belajar mengenal situs peradaban budaya.

Pembangunan lokasi museum dipikirkan secara seksama. Dipilih kawasan dengan lapisan tanah yang tidak mengandung fosil. Tanah berumur 1,8 juta tahun yang berasal dari erupsi G. Lawu purba.

Lapisan tanah umur 1,8 juta tahun

Arsitektura bangunan ditata fungsional sesuai kaidah museum. Mempermudah pergerakan yang mengalir juga mengandung filosofi peradaban budaya. Pengunjung dapat belajar dengan panduan yang tersedia. Dapat pula minta pendampingan petugas sehingga mendapat penjelasan yang memadai.

Bersyukur atas segala keterbatasan pemahaman. Sehingga hanya mencicip sebagian kecil dari aneka keajaiban kehidupan yang tersaji di museum ini. Semakin kagum dengan kerja keras aneka pihak mulai dari arkeolog, geolog, antropolog, budayawan hingga ahli museum.

Museum Manusia Purba Sangiran menampilkan dokumentasi peristiwa geologi. Perubahan dari muka bumi kawasan yang semula datar. Mendapat gaya tekanan dan pengangkatan menjadi semacam gundukan kubah. Diikuti dengan erosi dan pengikisan menghasilkan cekungan. Menyimpan aneka fosil kehidupan.

Warisan geologi kawasan Sangiran

Berlanjut dengan dokumentasi temuan perubahan fauna. Mulai dari variasi hewan bertanduk. Hingga kuda sungai di kaki gunung Lawu. Temuan paling banyak adalah fosil binatang berukuran besar.

Masyarakat Jawa menyebut makluk berukuran besar sebagai raksasa atau buto. Sehingga sebutan penemuan balung buto atau tulang raksasa sangat akrab didengar. Mencakup nilai arkeologi maupun nilai mitosnya.

Warisan Fauna kawasan Sangiran

Temuan fosil yang rasanya tiada habisnya. Selalu dilakukan update temuan terbaru. Saat kunjungan 2017, temuan terbaru yang dicantumkan adalah tahun 2015. Berupa gading dan tulang belakang gajah serta rahang bawah buaya. Dicantumkan juga data penemunya. Apresiasi yang diharapkan memelihara rasa memiliki dan meminimalkan pencurian fosil.

Update temuan fosil

Dokumentasi manusia purba menjadi keunggulan utama situs dan museum Manusia Purba Sangiran. Perubahan fisik dari Homo erectus sejak tipe Arkaik, Tipik hingga Progresif. Periode 500 000 tahun lalu adalah masa keemasan manusia Homo erectus di Sangiran. Terlihat ekosistem kaki G. Lawu interaksi manusia dan alam flora faunanya.

Masa keemasan kawasan Sangiran

Manusia adalah makluk berakal budi. Bagaimana dengan cara manusia purba mengelola alam? Perlengkapan apa yang digunakan? Terekam jejal penggunaan peralatan batu untuk kehidupan. Perlengkapan batu sebagai jejak budaya.

Penggunaan perlengkapan batu saat itu

Begitupun dengan dinamika flora. Menarik sebagai suatu bentuk muka bumi cekungan, menungkinkan terbentuk habitat bakau. Tersaji rekonstruksi dinamika bakau antar peride masa.

Indonesia menjadi ladang perburuan fosil Homo erectus terpenting di dunia. Sejarah mencatat jejak penelitian arkeologi dari masa ke masa. Melintas dari Indonesia Barat hingga ke Indonesia bagian Timur. Dunia mengakui wilayah tropika memiliki tingkat evolusi yang lengkap.

Bagaikan menyusun mainan puzzle, para peneliti menyatukan kepingan antar temuan sejarah manusia. Trinil menjadi bagian penting sejarah peradaban. Eugene Dubois pada tahun 1891 menemukan missing link yang menyatukan sejarah manusia purba. Penggalian di dasar Bengawan Solo purba.

Trinil missing-link

Kerja keras yang tetap dilanjutkan. Penelitian fosil bukan hanya oleh peneliti zaman penjajahan. Pasca kemerdekaanpun para peneliti tetap melanjutkan karya. Mata rantai yang semakin utuh. Fosil manusia, hewan, peralatan purba. Perubahan lingkungan sejak dua juta tahun lalu saling sambung hingga kini.

Semakin nyata bahwa kandungan arkeologis kawasan situs Sangiran adalah cagar budaya luhur yang bernilai penting untuk dijaga dan dilestarikan. Pewarisan nilai budaya antar generasi hingga generasi mendatang.

Saat kunjungan berjumpa dengan sejumlah ibu-ibu, juga beberapa siswa. Merupakan kesempatan sangat berharga dapat berkunjung ke Museum Manusia Purba Sangiran. Apresiasi untuk rombongan mahasiswa Pendidikan Sejarah FKIP UNILA yang melintas jarak panjang edu wisata di museum ini.

Wasana kata

Situs Manusia Purba Sangiran, berkat dokumentasi kehidupan manusia purba yang sangat berharga. Museum Manusia Purba Sangiran menjadi pintu untuk menjenguknya. Mari kembangkan cinta museum wahana pembelajaran sejarah budaya kehidupan. Terima kasih Museum Manusia Purba Sangiran, bagian Museum di Indonesia yang sungguh berharga.

Selamat Hari Museum Nasional 12 Oktober 2021.

Terima kasih ya mbak Monda dan keluarga, kenangan yang sangat berharga (lebih 4 tahun yang lalu) di Museum Sangiran.

Disajikan di Kompasiana