Tag

, , , , ,

Hijau Arga Garbawasa-ku

Saat ini keriuhan di kebun luar biasa, demam garengpung idol mengumandang di setiap pojokan kebun. Ribuan juta bibit pohon aneka jenis aneka umur siap untuk dipindah tanamkan. Juragan Petruk, Denmase Gareng dan Ki Lurah Semar hilir mudik cek sana sini.

Hijau Argaku

Hijau Arga Garbawasaku

Keputusan Petruk

Yah semua keriuhan ini bermula dari titah Juragan Petruk yang mengidola James Bond, melalui KepPet No 007/mangsa kasanga/2014 yang intinya koruptor yang dulu mengambil hasil hutan, mereka harus dikirim ke pedalaman negeri untuk menanam berjuta-juta pohon (GPJP hal 6).

Gebrakan yang unik sejak Petruk anak angkat Ki Lurah Semar mendapat titipan jimat Jamus Kalimasada, mendadak diangkat jadi juragan, kebijaksanaan merasuki setiap tindakannya. Perlakuan penjara tidak akan membuat efek jera, ruang yang bisa disulap hanya menjadi bentuk lain dari menikmati kemewahan yang bukan haknya, untuk itu hakekat Lembaga Pemasyarakatan (LP) dikembalikan sesuai dengan tugasnya untuk perbaikan perilaku. Yap babat hutan…ganti tanam pohon di lokasi asalnya.

KepPet ini berhasil membuat keder petugas kebun, penugasan pendampingan nara pidana koruptor (napiko) dalam praktek pembibitan, penerapan teknologi super canggih untuk menghasilkan laju pertumbuhan bibit 2mm/jam sehingga bibit dapat dipersiapkan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Punggawa kebun menghadirkan Prof Thukul, pakar sakti pengpengan biji digenggam, disebul langsung thukul.

Kiprah Gareng

Keunggulan karya Prof Thukul ditopang penuh oleh kiprah Nala Gareng saudara angkat Juragan Petruk yang menganut paham kadang kudu nenulung (KKN, alias saudara harus menolong). Nala Gareng hadir bersama wadya bala batalyon garengpung yang dipimpinnya menyuguhkan pertunjukan simfoni alam yang luar biasa. Rentang waktu 1-25 Maret dalam penanggalan pranata mangsa dikenal sebagai ‘mangsa kasanga’ ditandai dengan candra penciri ‘wedharing wacana mulya’ (‘munculnya suara-suara mulia) paduan suara garengpung, tonggeret, uir-uir, oreng-oreng, nongcret dan sejenisnya untuk memikat lawan jenisnya. Mereka adalah prajurit yang disiplin tak pernah melanggar ketentuan musim hanya bernyanyi pada saat mareng peralihan musim hujan menuju kemarau.

Lengkingan tajam para garengpung ini direspon secara aktif oleh alam tetumbuhan, mulut daun (stomata) membuka menghirup udara, air dan mineral yang ditambahkan sehingga mempercepat laju pertumbuhannya. [Kearifan alam ini ditangkap dengan apik melalui adopsi teknologi sonic bloom yang dikembangkan di Amerika]  Kebun gegap gempita laksana suasana garengpung idol hingga satu persatu peserta tereliminasi dan mati. Kerja keras para napiko dengan arahan Prof Thukul dan dukungan penuh wadya bala garengpungpun menuai hasil pertumbuhan bibit yang memuaskan. Saatnya memberangkatkan napiko ke alas gung liwang-liwung.

Dukungan Semar

Sejak awal muncul banyak keraguan mampukah napiko yang biasa duduk di kursi empuk bertahan duduk di dingklik, mengganti sejuknya AC dengan sepoi semilir angin, kalung dasi berganti sarung. Hal ini tak lepas dari pengaruh Ki Semar Badranaya motivator unggul pengampu acara Diamond By Pass dari stasiun TV Karang Tumaritis. Sapaan dan sentuhan beliau meneguhkan semangat banyak napiko meski ada beberapa yang mlengos tak menggubris.

Selidik punya selidik ternyata Ki Semar tak malu untuk mbabar diri memapar aib, bahwa sebagai titisan Bhatara Ismaya beliau pernah khilaf, dewa juga silau kekuasaan hingga rebutan nguntal gunung. Tak sembarang gunung namun Arga Garbawasa, rahim kehidupan, tempat mata air  berawal (GPJP, hal 189). Meski tim dokter kahyangan sanggup menggembalikan perut sixpack tanpa harus ke gym, Ki Semar memilih postur khasnya sebagai pengingat keserakahan membawa sengsara. Ki Semar membisikkan barang siapa merusak gunung mengundang kepunahan. Ura-ura beliau membuat nglangut, menyentuh hati yang peka, menebah kesadaran perusak alam.

Kulihat ibu pertiwi, Sedang bersusah hati. Air matamu berlinang, Mas intanmu terkenang. Hutan gunung sawah lautan, Simpanan kekayaan. Kini ibu sedang susah, Merintih dan berdoa

Ki Dalang ingin meneruskan lakon, namun apa daya masa berlakunya pinjaman Jimat Jamus Kalimasada telah usai sehingga nasib KepPet No 007/mangsa kasanga/2014 menjadi terlunta. Kini mangsa kasepuluh (srawana), mareng pengarep-arep di rentang 26 Maret-18 April telah menjemput, candra gedhong mineb jroning kalbu (gedung terperangkap dalam kalbu) kiasan masa hewan bunting, telur burung menetas dan hamparan padi menguning berawal. Kiranya Hijau Arga Garbawasa-ku menjadi amanah setiap titah. Salam hijau.

 ****

Terinspirasi bacaan Giliran Petruk Jadi Presiden (GPJP) (karya Guskar Suryatmojo, 2014)