Tag

, , , ,

Menanti Senja di Bukit Cinta

9. Penikmat senja

Penikmat senja

Menikmati santai di sore hari….mari melaju ke Bukit Cinta di tepian Rawa Pening. Selalu ada cinta di ekosistem Rawa Pening, kesatuan bentang alam dan masyarakat disajikan pada postingan sebelumnya. Kini giliran tampilan senja di tepian rawa….

1. Visualisasi Baru Klinthing

Visualisasi Baru Klinthing

Usai parkir kendaraan, mari membeli tiket masuk (saat itu 7K perorang) di loket yang berada di ceruk mulut menganga, sedangkan di sisi kanan mencuat bagian ekornya. Yaap visualisasi dari legenda Baru Klinthing yang dipercaya sebagai asal mula Rawa Pening. Baru Klinthing digambarkan sedang melingkar memeluk punthuk Bukit Cinta.

2. Rawa Pening-Bukit Cinta

Rawa Pening-Bukit Cinta

Mendaki bukit berundak berpayungkan kerimbunan tumbuhan, di sisi kanan terlihat petilasan Ki Godho Pameling berupa lingga-yoni bercungkup, calon bangunan megah berdiri di bagian puncak sebagai arena pegelaran aneka pertunjukan. Kemudian menuruni undakan di bagian dermaga perahu yang siap menghantar pelancong menikmati rawa.

Melaju membelah rawa

Melaju membelah rawa

Kami memilih alur ke kiri, saatnya menikmati bola mentari turun ke peraduan di senja hari. Mengintip matahari dari dedaunan, tanpa menyadari sedang diintip oleh capung di ujung ranting yang secara gesit diintip oleh Mas Mbarep, episode intip mengintip…

4. Senja dan capung

Senja dan capung di Rawa Pening

Perlahan bola jingga bergulir…

5. Senja di Rawa Pening

Senja di Rawa Pening

Saat kelabu membingkai jingga, sisi horison lain menampilkan permainan biru…

Rona senja di Rawa Pening

Rona senja di Rawa Pening

Senja berbingkai lembayung, kembali secara gesit dibidik Mbarep…

7. Senja berbingkai lembayung by Ore

Senja berbingkai lembayung by Ore

Saatnya ‘srengenge angslup’ matahari terbenam, perlahan keseimbangan kosmis bergeser….terang meredup, panas menyusut…… Permainan warna langit yang paling indah segera digelar bagi yang sabar menantikannya (kami tidak sempat menikmatinya, keburu pulang sebelum tersaput gelap). Saat kami kecil, Bapak Ibu menyebutnya candhik ayu, jingga berpadu dengan lembayung biru, kami menikmatinya dengan diam menyesapnya dalam ingatan, sebelum biru tua memeluknya dan orang tua kami memeluk kami untuk masuk ke dalam rumah.

8. Senja di rawa pening-2

Senja di rawa pening-saatnya raga rehat

Para orang tua menandainya sebagai  senja kala, sandya kala….saatnya Batara Kala meronda bumi. Getarnya menggelisahkan jiwa nan bersih, bayi menjadi resah dan rewel, sehingga Ibu selalu mengingatkan memeluk jagoan saat kecil dalam kehangatan dada bundanya. Sandya kala, sandya berarti doa dan kala bermakna waktu/saat, yah waktunya berdoa, mengucap syukur atas anugerah hari ini. Saatnya raga rehat, jam biologis mengaturnya, kelelahan meningkat saat surya meredup. Pengingat bahwa Batara Kala mengintip siap menerkam jalma manusia yang tidak mampu mensyukuri anugerah waktu hari ini, kesehatan dan kekuatan hari ini, mari saatnya rehat……