Tag

, , ,

Jejak Mataram di Land Tapos

Melacak jejak Putri Pembayun-teratai di kebayunan

Mensyukuri hidup ini adalah kesempatan, mengulang sepotong pagi di Land Tapos. Kebayang bagaimana suasana Desa Tapos, Kecamatan Tapos pemekaran Kecamatan Cimanggis, sekian warsa lalu, tentunya suasana desa yang tenang, sejuk merimbun. Pemukiman secukupnya dengan pekarangan yang cukup luas dan pepohonan.

Kebayunan penyedia perumahan

Kini Tapos menjadi penyangga penyedia pemukiman bagi para pengadu hidup di Jakarta. Berjalan kaki beberapa menit saja melewati beberapa perumahan baik yang sudah jadi maupun yang sedang tahap pembangunan. Pun cukup banyak pekarangan luas berpagar rapat entah nantinya untuk hunian pribadi ataupun dikapling-kapling. Melihat polanya nampaknya sudah terjadi alih kepemilikan lahan dari penghuni asli ke pendatang.

Pekarangan luas berpagar rapat

Kebayunan Tapos Depok

Salah satu spot area kesukaan saya adalah kebayunan. Entah mengapa lafal kebayunan di telinga saya terdengar begitu merdu. Suasana pedesaan nyaman di kebayunan ini juga disukai banyak pegowes yang melintas. Kebayunan meski sangat dekat dengan kata Kebayuran daerah di Jakarta, di pendengaran saya terdengar sangat njawani, koq seperti pembayun atau anak mbarep, anak sulung.

Kebayunan dan goweser

Jejak Mataram di Land Tapos

Berdasarkan sejarah kita mengenal perlawanan kerajaan Mataram dibawah kejayaan Sultan Agung untuk menentang penjajahan Belanda. Keberanian luar biasa, perajurit Mataram melintasi jarak yang sungguh jauh mendekati kota Batavia. Perlawanan Mataram memang mengalami kegagalan, pasukan berhasil dipukul mundur, beberapa lumbung persediaan pangan diporakporandakan sehingga menambah penderitaan para perajurit. Kehormatan membela tanah air yang dikobarkan belum menuai hasil dan menjadi perjuangan generasi penerusnya.

Nah yang ini sisi lainnya, konon salah satu perajurit tangguh yaitu Putri Pembayun keturunan Panembahan Senapati Mataram yang berpusat di Kotagede Yogyakarta ini bergerak mundur ke wilayah Tapos, beliau beserta para pengikutnya menjadi inspirasi penamaan kampung Kebayunan di Tapos. Menjadi bagian dari babad leluhur tanah Tapos. Saat jalan-jalan pagi di Kebayunan, terlihat jalan makam keramat mbah Bayun. Paling enak ngobrol dengan petugas penjaga keamanan perumahan, beliau menunjukkan makam mbah Bayun yang ramai dikunjungi penziarah. Pak Satpam menjelaskan bahwa mbah Bayun itu puteri loh. Kesamaan bunyi mbah Bayun dan Pembayun. Sesaat jadi teringat dengan ‘batu gilang’ di Kotagede di dekat Cokelat Monggo yang berkaitan dengan Puteri Pembayun dan suaminya  Ki Ageng Mangir.

Melongok hulu Kali Sunter

Bagi para sahabat penyuka sejarah tentunya ini menjadi bahan olahan menarik, mengkajinya dari sisi history gabungan data kuantitatif dan data kualitatif cerita leluhur yang sebagian berupa simbol maupun tetenger atau tanda-tanda pengingat. Jejak Mataram di Land Tapos. Setidaknya mari semangat heroik para leluhur untuk menjaga keutuhan negeri diwujudnyatakan di Kebayunan melalui berbagai cara semisal menjaga lingkungan ekologis yang hijau. Semoga secantik putri Pembayun. Daerah ini juga menjadi bagian hulu kali Sunter yang mengalir ke Laut Jawa loh.