Tag

,

Kiat Menyilih Waktu Saat Wisata Belanja

Belanja Parfum ooh…

Sebenarnyalah pemantik tulisan itu dari aneka percikan. ‘Kalau harus pakai agent, aku bakal kasih syarat jangan dibawa belanja melulu’ begitu komentar mbak Monda atas tulisan tips memilih agen wisata. Haha…sepakat banget mbak, tapi mana nahan lah pemasukan agen wisata dari kepuasan peserta termasuk sang penikmat belanja. Belum lagi mandatory shopping pada agen wisata pada beberapa negara. Ini beberapa nukilan menikmati waktu saat rombongan wisata asyiik berbelanja.

Saat dolan ke RT Tirai Bambu… wisata belanja wajibnya banyak sekali yaitu sutera, perhiasan dan pengobatan. Negeri ini begitu lihai mengelola wisata, keharusan menyertakan pemandu lokal dengan keketatan izin operasi agen wisata lokal adalah wajib membawa tetamu ke beberapa pusat belanja sebagai mandatory shopping. Tong ren tang, Bao shu tang, Jade, silk, pearl dan teh menjadi bagian dari mandatory shopping untuk wisata negeri tirai bambu ini.

[Jamu Indonesia khasiatnya juga sudah kawentar (mari disurvai berapa banyak peserta tur yang berbekal jamu tolak angin….) seandainya bersama batik dan industri lain berbasis kekayaan alam setempat menjadi bagian dari industri pariwisata….sehingga slogan INTANPARI terwujud. Dumal batin saya] Ya wis ah manut, saat peserta wisata terpikat dengan belanja sutera dan perhiasan, asyiik kami bisa menikmat pada bagian proses pembuatan di area workshopnya tanpa harus tergoda belanja. Begitupun saat ke Tong ren tang dan Bao shu tang, lumayan kaki dipijat dan cukup membeli sekaleng koyo karena sudah diniati beli koyo tanpa harus membeli aneka obat.

Agak nyesek saat salah satu destinasi yaitu ke museum didaulat minta diganti ke pusat pembelanjaan, karena peserta tur lebih suka menikmati belanja. Digiringlah kami ke mall hehe. Mendekati pemandu lokal untuk peluang pergi ke museum, beliau kebingungan karena tidak mungkin melepas emak kebun yang ‘bisu bahasa lokal’. Oke kamipun menikmati dengan cara kami nongkrong di depan mall menikmati atraksi rickshaw. Bahagia itu sederhana bagaimana naik becak bisa dijual dalam kemasan wisata.

bahagia itu sederhana…

Saat dolan Milan, wow peserta segera menghambur ke The Galleria Vittorio Emmanuelle II, rumahnya barang-batrang branded. Tak perlu kuatir, pesona kemegahan arsitektura kubah galleria ini cukup mengenyangkan mata dan hati. Belum lagi blusukan di gang-gang kecil seputar pusat pembelanjaan ini. Menikmati antrian Panzerotti Luini yang ternyata ngetop diantara pejalan, menikmati santai di Palazzo Marino monumen dari Alessandro Manzoni yang lebih lengang dan tidak menjadi destinasi utama, bahkan menikmati Taman Leonardo da Vinci yang rindang.

Gallerio Vittorio Emanuele II

Gallerio Vittorio Emanuele II

Lain cerita di kota Innsbruck, saat peserta terkesima dengan blink-blink Swarovski Innsbruck….mak blirit emak kebun menyusuri tepian sungai Inn merasakan aroma jembatannya yang menjadi dasar penamaan kota Innsbruck berlatar pegunungan Alpen. Merasakan sensasi hujan salju yang lembut.

Hujan salju di musim semi di jembatan Innsbruck

Mana buktinya mampir di Swiss? Belanja di Bucherer maupun Casagrande di Luzern menjadi jujugan. Pesona sungai Reuss mulai dari danau, jembatan hingga sajian field market kami sajikan pada sahabat kebun rynari. Demi postingan tersebut saya rela nggak belanja loh..uhuks..

Pasar lokal di tepian sungai Reuss

Strategi pusat perbelanjaan Drubba di tepian danau Titisee, Jerman Barat Daya lain lagi. Berbekal paspor, pembelanja langsung mendapat potongan pajak, lah harga pelancong mancanegara lebih murah dibanding harga pembelian penduduk lokal. Mendapat potongan 5 € sekitar 75 ribu sudah senang apalagi kalau potongan 500€ ya. Strategi emak kebun tak kalah gesit, melihat-lihat pembuatan jam kukuk, mencicip kue blackforest di habitat aslinya, langsung capcus ke tepian danau Titisee. Kesempatan istimewa dapat menikmati ramuan geologi gletser dipadukan dalam kemasan wisata ekologi yang apik, menghirup semaksimal mungkin uap danau Titisee untuk dikenang hehe lagaknya.

Danau gletser Titisee

Kota Cologne…..mengingatkan pada parfum cologne 4711. Membawa kami ke meeting point di Cologne Cathedral, pemandu wisata menunjukkan arah bagi penikmat belanja elektronik, rumah cologne, rumah aneka barang branded. Menoleh ke emak kebun…ibu hendak ke mana? Please tunjukkan arah ke tepian sungai Rhein dengan jembatan gembok cintanya yang kawentar. Agak ragu karena jarak tempuh jalan kaki lumayan, beliau kami yakinkan kalau kami nggak akan nyasar, ya wis kami di lepas. Kagum dengan rombongan lansia yang piknik ke Romish Germanisches Museum, lah mau ikutan masuk kawatir waktunya tidak cukup. Tetap saja tujuan yang diincar adalah tepian Rhein, terkesima dengan pengelolaan bantaran sungai sebagai taman terbuka hijau yang fenomenal. Bergegas kembali supaya tidak menjadi penghambat jadwal, masih sempat menengok toko demi toko dan teman serombongan yang menikmati wisata belanja.

Tepian sungai Rhein di Kota Cologne

Mau belanja dengan harga lumayan, tunggu kunjungan di kota nelayan Volendam Netherland. Beneran jajaran toko cindera mata dengan harga yang lebih bersahabat buat kantong cekak. Eits jangan lupa minta nota dan form pengembalian pajak yang dapat diurus dibandara terakhir kita keluar dari Eropa daratan. Tak terhisap 100% waktu di area pembelanjaan, mari nikmati bagaima desa nelayan yang letaknya di bawah permukaan air laut koq tidak terendam. Nikmati lorong-lorongnya, nyantai sejenak biarkan aura laut menerpa rambutmu halah..

Menikmati aura laut di desa nelayan Volendam

Menghirup udara Amsterdam, kembali peserta dimanjakan kalau mau belanja salah satunya di De B’jenkorf. Kami memilih bermain bersama kawanan burung merpati di alun-alun. Lah itu Madame Tussaud. Kamipun menjajalnya, olala ternyata kawasannya lumayan kecil. Kecewa tak menemukan tokoh Indonesia, kami tanyakan ke petugas malah diminta menikmati sajian yang ada saja, lah bukankah ada hubungan batin antara The Netherland dengan Indonesia, rasanya koq ngganjel hehe. Terhibur mendapati tokoh Afrika Nelson Mandela yang mengenakan batik, yawis Indonesia nih yee..

Mandela berbusana batik

Berada di alun-alun Brussels, alamak aneka wisata belanja dari aneka cokelat hingga bordir renda Belgia yang halus sungguh menggoda. Selain menikmati lorong-lorong sempitnya, kami memilih njegogrok di alun-alun terhisap dengan aneka keseruan pengunjung. Eh tak lupa mampir ke rumah Tintin.

Alun-alun Brussels

kubah cantik galeries lafayette

‘Nah ini kesempatan terakhir peserta untuk belanja, bukankah Paris kota belanja. Urutan dibalik, biar peserta bisa lebih leluasa kunjungan diawali ke Galeries Lafayette sebelum diserbu para turis, waktunya lumayan panjang 3,5 jam ya’ demikian seru pemandu wisata. Galeries Lafayette, pusat perbelanjaan dengan tawaran kemudahan pengembalian pajak langsung diberikan saat akhir belanja tentunya ada persyaratan minimal belanja untuk masing produk berbeda. Seolah tak rela pengunjung membawa uang cash balik ditempat pengembalian pajak tetap tersedia toko cindera mata yang berusaha menarik kembali pengembalian pajak hehe…. Karena hari terakhir rasanya stamina mulai ngedrop kaki gempor, bagaimana nih menghabiskan waktu selagi manteman asyiik berbelanja. Yook ngiderin pusat perbelanjaan masuk ke ruang parfum keluar jadi harum…keluar menikmati Academie Nationale de musicae…lah tidak menjadi penikmat pertunjukan yah minimal gedungnya saja. Kembali menunggu ke dalam gedung galeries lafayette…eh serasa antiklimaks ternyata kami duo emak kebun terkapar di ruang tunggu salon, serasa mengantar keponakan menikur pedikur emaknya malah tertidur…..

Academie Nationale de musicae

Lah ternyata postingan panjang ya, aneka cara menyikapi atau menyilih waktu saat wisata bareng dan peserta lain sedang asyiik belanja. Bagaimana kiat sahabat merintang waktu atau menikmati waktu tersebut? Salam hangat

Iklan