Tag

, , , , ,

Becik katitik, ala kataraKisah Cindelaras

Gendhuk Limbuk menatap punggung momongannya  yang  sedang olah kanuragan dengan rasa bangga.  Batinnya memuji, sungguh bocah istimewa, tampan nan cerdas titisan bibit bangsawan utama Jenggala, sementara halus budi, welas asihnya hasil tempaan  wanita yang menghargai  tugas panggilan fitri Illahi. Disebut momonganpun tidak tepat pas, karena tidak butuh lagi diasuh secara fisik. Istiadat mengajarkan setiap putra-putri  adalah momongan emban pendamping bendoro putri di kaputren.  Terlatih tanggap ing graita didikan alam hutan, bocah gagah itu menengok, melempar senyum seraya melambaikan tangan kepada emban pamomongnya.

Tak lama kemudian, sang momonganpun menghampiri Gendhuk Limbuk dengan peluh bercucuran. Menerima gendul berisi air tomat encer bercampur sedikit air tebu, dengan manja sang momongan menggelendot di punggung embannya.

Mbah Mbuk, seperti mimpi ya, kemarin-kemarin aku bersama Bunda tinggal di hutan dan kini menjadi bagian keluarga istana”

“Begitulah, Den….putaran mangsa silih berganti, seperti cakra manggilingan. Sudah kerasankan tinggal di istana?”

Mbah Mbuk….koq ngeyel banget sih…berkali aku minta dipanggil Cindelaras koq tetap saja, Den….”

Weladalah ora ilok ngger, bisa mbubrah tatanan, etapi keren juga ya kalau disingkat Mas CeeL….”

Mbah Mbuk memang gaul asiik…hm..aku ngantuk sekali Mbah

Menatap sayang momongan yang pulas di pangkuannya, kembara pikiran Genduk Limbuk menyurut ke dasa warsa sebelumnya…….

*** [kilas balik kisah Prameswari,  ibunda Cindelaras hingga beliau berada di tengah hutan, sahutan untuk Kyaine]

Kerajaan Jenggala dengan pucuk pimpinan Raden Putra atau Bagas alias Manggala yang didampingi oleh Bunda Prameswari dan Bunda Selirwati adalah bangsa megah dan gemah ripah. Ketenteraman mulai terusik saat Bunda Selirwati dikuasai rasa sendu, tak bisa menjadi nomor satu di hati suami, harapan keturunannya menjadi orang nomor satu di negeripun musna karena Bunda Prameswari empunya hak yang sah sedang mengandung. Selirwati merasa menjadi orang paling teraniaya sejagadraya.

Tak berhenti hanya berhati resah, Selirwati melengkapi dengan konspirasi yang melibatkan tabib, figur yang sangat berpengaruh di tataran praja. Siasat dirancang, fitnah ditebar, kelicikan diracik. Skenario berlapis dijalankan….. Selirwati berperan menjadi penderita sakit parah. Sang suami yang bertanggungjawab mengupayakan kesembuhan dengan mengundang tim dokter ahli. Pemeriksaan teliti dilaksanakan, hasilnya menggelisahkan, terungkap upaya peracunan terencana. Dinding berbisik, lidah berbisa semua bukti mengarah bahwa sang permaisuri pelaku tunggalnya.

Wibawa dan keadilan Raden Putra sang Manggala dipertaruhkan, semua pihak menanti dengan cemas. Mata kebenaran memejam menanti keteduhan, sementara mata keangkaramurkaan membuka lebar menerkam kesempatan. Palu diketok, Raden Putra Manggala menerima bukti terbuka sebagai kebenaran. Eksekusi diserahkan kepada maha Patih. Sorak sorai bersanding nyanyian kepiluan.

Mendapat mandat berat sang Patih mesu diri sejenak, menata batin menatap dengan mata jiwa, apakah gerangan pesan Illahi dari gempita dan nestapa ini? Nurani beningnya membisikkan jawaban. Dengan patuh diembannya tugas berat melenyapkan Prameswari dalam waskita. Hutan menjadi sarana pembelajaran. Kepada hutan di lereng gunung, sang Patih menitipkan untuk menjaga dan memelihara Prameswari serta calon jabang bayi. Kepada hutan, sang Patih menitipkan benih kebenaran ataukah kepalsuan hingga saatnya dinyatakan dalam terang tarwaca. Kepada prameswari, Patih menyarankan belajar dari sang gunung pemangku hutan. Hutan menjadi bagian guru kehidupan. Dengan rakitan bukti meyakinkan, sang Patih menghadap Raja Manggala, tuntas sudah tugasnya. Saatnya hasil tipu daya menampak rupa untuk sementara.

***

Rahasia Illahi sedang digelar melalui lakon Akulah Cindelaras……. Saatnya kebenaran dibabar, sang bocah asuhan hutan bersama ayam jago sakti melanglang buana berteriak lantang…., aku jagone Cindelaras. Omahe tengah alas, payone godong klaras [Kukuruyuuuk. Aku ayam jantan Cindelaras, rumahnya di tengah hutan, beratapkan daun pisang kering] Ayam jago, godong klaras dan alas (hutan) masing-masing menjadi bagian simbol sejarah hati. Kisah pembabar, becik katitik, ala katara…..kebenaran dan ketidakbenaran saling terungkap dengan jelas.

Saatnya sang pemilik tahta kembali ke istana Jenggala. Melalui kisah satu fragmen, drama kembalinya Bunda Prameswari beserta sang putra mahkota dikepyak. Keadilan dibabar, melalui mekanisme serupa terjadi salin rupa, alih mangsa, cakra menggilingan berputar, Bunda Selirwati diboyong ke rimba. Berhasilkah proses penggemblengan oleh Dewi Rimba? Tanpa alas keiklasan, rimba menjadi alas yang menakutkan…. Genduk Limbuk bergidik setengah miris….

Sambil membelai rambut momongannya yang telah bangun, Genduk Limbuk menata ulat (raut wajah) merenung menjadi ceria, “Cah bagus, Mas CeeL….sudah bangun, mimpi apaan sih koq tidur sambil tersenyum”

Mbah Mbuk, kepo aja…. aku mau matur Kanjeng Rama, mohon supaya Bunda Selirwati tidak disebratkan (dikucilkan)  di rimba belantara. Bagaimana bila beliau takut atau malah membuat takut satwa di sana. Satwa di hutan mengajarkan padaku, main blengkrik boleh tapi tidak perlu jothakan.”

Duhduh…Gendhuk Limbuk menahan air mata haru, sungguh alas/hutan menjadi guru kehidupan bahkan bagi kanak-kanak Cindelaras, semoga ngger….pengampunan, saling memaafkan, saling belajar dari kekeliruan merasuk ke semua jiwa, demi kejayaan Jenggala.