Tag

, ,

Gogrok …gogrok asem ….

Gogrok … gogrok asem …
Ilanga bajang sawane ….
Karia seger warase ….

[Rontok … rontok asam …
Menyingkirlah sakit penyakit ….
Tinggallah sehat walafiat … ….]

Demikianlah gumaman yang sering terdengar saat orang tua mengangkat bayi usai memandikannya seraya diayun pelan meluruhkan air bilasan dan segera dibalut handuk agar hangat. Gumaman yang berupa doa, pengharapan agar sang buah hati dijauhkan dari sakit penyakit dan dikaruniai kesehatan.

Mungkinkah senada dengan tradisi turun mandi di Gunung Talang yang digelar Jeng Monda bersama Uni Adel dalam TdRM?. Dengan pepatah Minang puitis sarat makna, berikut copasnya

Oi nak kanduang sibiran tulang … Sauaklah aie mandikan diri
Buliah nak banyak urang nan sayang …. Tinggikan cito randahkan hati

[anak kandung belahan jiwa …. ambillah air mandikan diri
jika ingin disayang oleh semua …. maka tinggikanlah cita rendahkan hati]

Ungkapan gogrok asem menggelitik, mengapa tidak gogrok durian atau kedelai ya. Menyimak karakter buah asam (Tamarindus indica) menurut beberapa sumber  sangat tahan terhadap hama penyakit, jarang sekali dijumpai buah rontok sebelum masanya. Teringat kebiasaan saat kecil ‘ngerog’ menggoyang dahan asam hingga buah-buahnya yang sudah matang ranum berjatuhan, dikulum dengan rasa manis asam. Sehingga lapal gogrok … gogrok asem menjadi pijakan pengharapan agar terhindar dari sakit penyakit parah hingga akhir masa hayatnya.

Kearifan lokal dari sebuah tradisi budaya. Bagaimana ritual memandikan buah hati dalam budaya di lingkungan sahabat?