Tag

,

Antara Klaten dan Padang

Ada apa sih antara Klaten dan Padang?

Rumah Tradisional Jawa Masyarakat Petani. Tata ruang, pemaknaan dan pemanfaatan.
Buah karya Budiana Setiawan, penerbit Kepel Press, 2010. Selaku Arkeolog dan Antropolog beliau melaksanakan penelitian tentang rumah tradisional Jawa di daerah Klaten khususnya masyarakat petani. Beliau menyimpulkan bahwa pada ruang-ruang yang sama terdapat perbedaan pemanfaatan antar penghuni. Perbedaan yang dilatarbelakangi oleh jumlah anggota keluarga dan status hirarki keluarga yang tinggal di rumah, agama dan kepercayaan, jenis mata pencaharian lain di luar bidang pertanian, keterbatasan ruang yang dimiliki, kedudukan dan status sosial, serta kemampuan ekonomi.

plus pendapa - Copy - Copy

Tata ruang rumah tradisional Jawa masyarakat petani

Satu contoh menarik adalah kesatuan fungsi ekosistem yang terangkum dalam tata ruang, yang diwakili oleh letak kandang di bagian depan kiri. Mengingatkan bahwa ternak bagi keluarga petani sering disebut raja kaya (simbul kekayaan) dan bagian tersebut kini berubah menjadi letak garasi yang juga bagian dari simbol status. Tak heran bila ada tiger, panther, kuda maupun kijang parkir di dalamnya.
Sangat menyentuh, buku ini didedikasikan untuk masyarakat Klaten (Jateng) dan DIY yang mengalami musibah gempa bumi 27 Mei 2006, sehingga harus kehilangan sanak keluarga, kerabat, serta rumah tinggalnya.

Jernih Melihat Cermat Mencatat. Antologi Karya Jurnalistik Wartawan Senior Kompas.
Buah karya Marthias Duski Pandoe, penerbit Kompas, 2010, 377 hal. Terdiri dari empat bagian besar sebagai sendi kekuatan buku yaitu beberapa kisah, nuansa agama, nuansa adat budaya dan komentar.

Salah satu tulisan yang sangat menarik, ditulis dengan sangat kritis sekaligus hati-hati adalah “Ninik Mamak Intelektual” yang disajikan pada bagian ketiga tentang nuansa adat budaya. Beliau menjelaskan latar belakang pergantian kepemimpinan yang disebabkan oleh 2 kondisi yaitu pusako lamo nan talipek, wafatnya payung panji dan iduik bakarilahan yang berarti pejabat lama masih hidup namun kekuatan fisik dan pikirannya menghambat beliau menjalankan fungsinya.

Penulis memprihatinkan pergeseran mekanisme pergantian pemimpin yang tidak lagi berdasar pada sendi budaya luhur, pemilihan berdasarkan karisma yang dibangun dari integritas pribadi pemimpin dengan kehidupan kultur budaya warganya, namun lebih memberatkan pada penampilan luar. Kadang dipilih ninik mamak yang didasarkan pada gerlapnya luar, sangat sukses entah sebagai birokrat, teknokrat maupun pengusaha, namun sejatinya ada pelunturan jati diri yang beliau sebut tidak tahu sasok jaraminyo. Ninik mamak yang bukan sekedar simbol status namun sungguh pengayom bagi warganya, Pengorbanan besar dalam proses pemilihan (pemikiran maupun dana) menjadi kurang mendapat kemanfaatan yang sepadan, pitih abih, tapi ndak mambao … Di bagian akhir beliau menyeru, bisakah ditarik pengalaman ini untuk mengangkat penghulu baru?
[Bacaan ini mengingatkan saya pada sosok Uni LJ yang putra seorang datuk, bagaimana beliau berkisah tentang ayahandanya Datuk Palimo, sebagai ayah keluarga dan ayah adat.]

Antara Klaten-Padang

Antara Klaten-Padang

Kedua buku apik tersebut diperoleh di acara pameran buku plus gelar diskon besar-besaran di salah satu toko buku terkenal, diboyong pulang hanya dengan beberapa puluh ribu rupiah serasa Jawa Tengah – Padang pp. Semoga tulisan ini pula sebagai jembatan penghubung asa suatu saat menikmati keindahan alam dan budaya ranah Minang secara langsung. Salam.