Tag

, , ,

Pesona Mawar Utara

Rose of the North

Rose of the North, mawar di Bandara Chiang Mai

Roda si burung besi menyentuh landasan bandara internasional Chiang Mai si Mawar Utara (Rose of the North) lewat tengah malam membawa empat emak blusukan ke Thailand Utara Februari lalu. Suasana alam tidak terlalu beda dengan suasana di Indonesia, satu hal pembeda adalah teknik mengemas jualan termasuk pariwisatanya. (Tulisan dan diskusi pada Similan Islands blog MamaHilsya tentang  kepiawaian Thailand menginspirasi tulisan ini).

Pengemudi Taksi, ujung tombak pelayanan
Berbekal cetak pesanan hostel kami menuju pemesanan taksi bandara dan diantar melintasi pusat kota dengan biaya 120 baht no extra charge. Meski harus menambah jarak karena pengemudi keliru mengantar ke hostel beda tempat, dengan ramah beliau menolak tambahan ongkos.
Tanpa mengikuti paket wisata yang ditawarkan kami minta tolong hostel untuk mencarikan mobil sewaan dengan permintaan yang pengemudinya komunikatif. Rute perjalanan yang diinginkan digelar, tarif sewa disepakati dengan pesanan bisa menambahkan obyek menarik dalam perjalanan.

Long neck village

Long neck village, paket budaya-bertani-industri. Pengambilan dan publikasi gambarpun diijinkan sebagai bagian dari promosi.

Perjalanan diawali ke distrik Mae Rim menuju long neck village di Baan Tong Luang, kemasan budaya setempat (suku Karen asal Tibet, Lahu Shi Bala alias wajah kuning, Palong migran dari Myanmar, Hmong asal Mongol) dipadu dengan eco-farming dan penjualan produk lokal tenunan dll. Melaju ke Tiger Kingdom untuk makan siang di samping kandang macan dengan paket menariknya 200 baht menu buffet lunch.

Sae Nam Phung Orchid Mae Rim

Sae Nam Phung Orchid Mae Rim-rumah makan- distro perhiasan

Sai Nam Phung orchid, kemasan pajang koleksi anggrek, dipadu dengan restoran dan toko perhiasan sebagian berbahan dasar anggrek dengan bonus koleksi mobil antik pun disambangi. Memutar balik arah kota dan melaju ke Chiang Mai Zoo menengok si panda imut setelah mampir sejenak di Chiang Mai University. Mobilpun mendaki menuju Doi Suthep kuil indah di atas bukit, dengan cable-car menuju puncak (ini mah bukan cable car namun lift berjalan miring mengikuti lereng bukit). Menyesap sari jeruk asupan vit C, stroberi dengan taburan gula garam dan bubuk cabe pun sukses dipindahkan ke perut plus 1 buah kelapa utuh. Hendak kembali ke mobil kami digiring ke jade factory, melihat-lihat sebentar mengagumi dan berterimakasih tanpa membelinya, kamipun turun ke kota. Menyelesaikan transaksi hari itu dan janjian esok hari dijemput untuk melanjutkan perjalanan.

Poin menarik yang kami dapatkan adalah kesigapan dan kerjasama pengemudi yang merangkap sebagai pemandu wisata. Kebanggaan akan daerahnya diwujudkan melalui profesionalitas, menjelaskan obyek-obyek penting, ketepatan layanan, sehingga tak berlebihan predikat pengemudi, ujung tombak pariwisata.

Kemasan wisata utuh penjualan
Ritual pengemudi mengajak mampir ke kuil-kuil tua dengan keunikannya dan sungguh terharu dengan kebaikan beliau mencarikan tukang sepatu yang diabadikan dalam postingan ‘Apa Tumon? Menjahitkan Sepatu ke Negeri Gajah’. Tujuan utama disajikan dalam postingan Pesona ‘Royal Flora 2011‘ Ratchaphruek, yah Thailand masih menjadi barometer perkembangan tanaman hortikultura terutama untuk Asia Tenggara.

Kunjungan berikutnya Thai Silk Factory. Ruang workshop dari memasak kepompong, memintal benang menjadi kain sutera hingga ruang pamer, menikmati proses dan pajangan produknya. (Konsep senada dengan kampung batik Laweyan, galeri dan industri gerabah di Kasongan). Melihat kami tanpa tentengan, pengemudi bertanya apakah mau ke toko sutera yang lain? Dengan taktis kami jawab bahwa Thailand bersaudara dengan Indonesia sehingga dikaruniai ulat sutera dengan kualitas sama bagus dan kamipun mengagumi kecantikan motif kainnya (ini tulus koq).

Berlanjut ke Germ factory, bengkel dipadu toko perhiasan sangat besar dengan larangan merekam baik gambar maupun video. Motto jangan biarkan pengunjung keluar tanpa membeli sungguh dijalankan. Mengetahui kami dari Indonesia, pramuniaga berbahasa Melayu mendampingi selain sekian mbak2 cantik yang sibuk memasangkan aneka perhiasan kepada pengunjung, strategi sedakeppun dijalankan pertanda hanya mau melihat hehe. Pengamanan semakin berkurang dari produk amat sangat mahal ke produk yang lebih murah, hingga akhirnya melemah karena para emak tahan rayuan, di bagian ujung dekat pintu keluar, jurus terakhirpun digunakan ayolah makcik sekedar boleh-boleh (maksudnya oleh-oleh) dari kami, sungguh tak mahallah, aneka bros 100-300 baht dan emakpun mengantongi boleh-boleh tersebut.

Kemasan Wisata Sungai-Pedesaan
Menikmati Mae Ping River Cruise dengan ongkos 500 baht per orang, kami ber 6 (4 emak plus pasangan dari Perancis) diantar dengan tongkang/perahu kecil. Pengemudi merangkap pemandu wisata generasi muda dengan bahasa Inggris fasih menjelaskan tempat-tempat menarik di sepanjang perjalanan. Beberapa kali berhenti, tangan menunjuk pohon rimbun di tepian sungai tampak bekas sampah yang tersangkut di atas pohon, bukti otentik banjir besar yang melanda Chiang Mai. Bergidik sungguh, bila di daerah hulu banjir sedemikian besar betapa Bangkok sempat lumpuh terendam banjir akhir hingga awal tahun ini. Perjalanan berakhir di sebuah perkampungan petani dengan aneka replika atributnya, ada kandang, lesung, kebun campuran, sawah mini dll.

Sungguh tidak beda dengan di Indonesia bahkan ego kami mengatakan lebih bagus. Permasalahannya bagaimana mengemasnya hingga pengunjung mengapresiasi bahkan rela mengeluarkan biaya (maraknya bisnis ini di Bogor). Menikmati desa petani di suasana senja ditemani minuman herbal (emangnya ada minuman non herbal, bukankah semua minuman termasuk wine pun dari herbal, pengaruh bahasa pemasaran yang kuat) sungguh nikmat, pilihan kami wedang asem juga daun asem yang kita kenal sebagai wedang sinom, jahe dan manisan kelengkeng plus buah (termasuk paket). Apresiasi untuk paket Citarik, Ciliwung, Serayu, Barito, Musi dll. Diiringi temaram senja kamipun kembali ke dermaga awal.

Selamat mengemas ide/gagasan, mengoptimalkan kekuatan kemasan  .