Tag

, , , ,

Melongok Reruntuhan Patilasan Keraton Dalem Agung Pakungwati Cirebon

Petilasan Keraton Dalem Agung Pakungwati

‘Yakin mau masuk? Kelihatannya sepi banget loh’ ‘Masuk Nak, keagungan  dan keelokan Keraton Kasepuhan yang kita kagumi tadi berawal dari sini’ ‘Inilah artefak cikal bakal, tonggak awal dan embrio kejayaan Cirebon yang dapat kita nikmati saat ini’ Jadilah emak bersama mas Ragil membeli tiket untuk melongok Patilasan Keraton Dalem Agung Pakungwati, Cirebon pada akhir tahun 2017.

Dalem Agung Pakungwati didirikan oleh Pangeran Cakrabuana (putera Raja Pajajaran) pada tahun 1452 (sistem registrasi Nasional cagar budaya). Penamaan Pakungwati berdasarkan nama putrinda terkasih yang kemudian menikah dengan Sunan Gunung Jati (Syech Syarief Hidayatullah).  [Pakungwati bermakna udang betina, budaya penamaan berdasarkan nama hewan semisal Gajahmada pun mirip dengan penamaan pada suku Indian pada buku Winnetou. Udang yang menjadi sarana kemakmuran penduduk Cirebon.] Sunan Gunung Jati adalah putra dari Syarif Abdullah dengan Nyi Mas Rara Santang, adik Pangeran Cakrabuana. Melongok Patilasan Keraton Dalem Agung Pankungwati, melongok patilasan Pangeran Cakrabuana dan Sunan Gunung Jati.

Gerbang masuk Patilasan Dalem Pakungwati

Berbekal 2 tiket (terpisah dari tiket masuk Keraton Kasepuhan) kami memasuki regol atau gerbang batu bata merah dengan pintu kayu jati berukir. Petilasan yang ditawarkan meliputi sumur agung, paseban, sumur upas (soka), sumur tujuh, patilasan P. Cakrabuana, patilasan Sunan Gunung Jati dan kaputren. Suasana area ini terasa adem dengan teduhan pohon-pohon besar. Memasuki areal dengan penanda arah yang jelas terbaca.

Menuju Dalem Pakungwati

Petilasan pertama yang kami jumpai adalah Watu Kilan. Kami menjumpai satu grup yang sedang merentang panjang telapak tangan dari ujung jempol hingga ujung kelingking (satu kilan) pada badan watu. Konon kalau jumlah kilan pada panjang batu tetap dengan pengulangan berkali-kali, semua tujuan ataupun pinta akan terwujud. [entah apa hubungannya dengan konsistensi pengukuran, seseorang yang konsisten akan teguh dalam pencapaian tujuan] Hanya di pos watu kilan kami berjumpa pengunjung, selebihnya area petilasan Dalem Agung Pakungwati serasa menanti kami berdua saja.

Batu Kilan

Melewati labirin tembok batu bata yang melindungi bangunan inti Dalem Agung Pakungwati, terintip puncak bagian belakang bangunan yang dipeluk oleh pepohonan dengan buah lebat disepanjang rantingnya, wujudnya mirip pohon elo. Beberapa pekerja sedang membersihkan pagar batu bata, nyusruki/ngerok batu bata dari penutupan lumut dan tetumbuhan yang menempel. Terbayang betapa kelembaban udara melunakkan batu bata pun akar tumbuhan yang menempel mempercepat proses pelapukan. Bila diperhatikan dengan seksama, penataan batu bata merah ini sungguh penuh perhitungan presisi yang tepat tanpa bahan perekat. Apresiasi dengan ketekunan dinas terkait memelihara keutuhan prasasti ini, sungguh tak sebanding dengan pemasukan dari pengunjung yang sangat sedikit.

Tampak belakang bernaung di bawah pohon

Tembok bata merah

Memasuki gerbang menuju pelataran, suasana semakin sepi. Lumayan ada bapak petugas yang tampaknya juru kunci dari sumur-sumur keramat yang berjajar di area ini. Ada sumur upas/soka yang berada di keteduhan pohon soka raksasa, ada sumur tujuh yang kami lewati. Menghirup sisa aroma khas  sesaji mengindikasikan masih aktifnya pengunjung dengan tujuan khusus ke sumur-sumur ini.

Memasuki halaman-parade sumur

Terlihat bangunan cukup besar yang disebut Paseban. Seba yang berarti menghadap, persiapan menghadap raja.

Paseban Pakungwati

Sampailah kami ke area utama yaitu Patilasan P. Cakrabuana dan patilasan Sunan Gunung Jati sekaligus adanya sumur Kajayan. Ooh kawasan inti ini berada di balik tembok dengan gerbang berdaun pintu kayu jati penuh ukiran yang pada bagian atas tertera tulisan huruf Arab. Pintu tertutup karena kami melongok tanpa guide petugas keraton. Juga larangan wanita memasuki areal ini seturut dengan kaidah agama yang harus kita junjung tinggi.

Gerbang utama Patilasan Pakungwati

Taman sari…

Bagian berikutnya kami menuju ke arah sumur agung dan patilasan kaputren. Hmmm terasa reruntuhan bangunan kaputren dengan model tamansari. Menguatkan tekad untuk nantinya berkunjung ke Taman Sari Gua Sunyaragi yang penuh misteri. Melintasi halaman dan kebun yang tertata rapi dan bersih sampailah kami di regol pintu keluar. Huwaduh sayangnya pintu tertutup rapat jadilah kami memutar balik melalui regol pintu masuk.

Pintu keluar Dalem Pakungwati

Sejarah mencatat, sepeninggal Sunan Gunung Jati estafet kepemimpinan berlanjut hingga terjadi perpecahan dari kasultanan Cirebon menjadi Kasultanan Kasepuhan dan Kasultanan Kanoman pada tahun 1677. Kasultanan Kasepuhan menempati areal pengembangan dari Dalem Agung Pakungwati.

Meski hanya melongok sepintas cukup untuk membasahi rasa ingin tahu cikal bakal kemegahan keraton Cirebon. Sahabat pembaca Rynari, kalau berkunjung ke Keraton Kasepuhan Cirebon, yook sempatkan mampir ke Dalem Agung Pakungwati, artefak budaya yang sungguh berharga, cikal bakal dari keraton yang masih bisa kita nikmati. Letaknya sedikit nyempil, di sebelah kiri Areal Utama Keraton atau sisi Timur bangunan keraton. Pengunjung bisa menikmati jajaran galeri khas Cirebonan, bangsal pagelaran yang megah, taman kebun dengan pagupon rumah burung di pepohonan besar. Eh jangan lupa menggunakan jasa pemandu wisata untuk mendapatkan penjelasan lebih.