Tag

, , , , , ,

Pesona Candi Arjuna Dieng

[Judheg merasakan galau kelas berat gegara CLBK Limbuk putri sematawayangnya, Mbok Cangik mengajaknya jalan-jalan ke dataran tinggi Dieng untuk mendinginkan emosinya. Membeli tiket dari pelataran museum Kailasa, menyusuri jalan setapak berpagar rapi kembang kecubung gunung diiringi derai hujan. “Mau mampir ke Telaga Balekambang, wuk?” “ng… dari kejauhan aja ya Mbok, ntar celana jengki baruku belepotan lumpur kan berabe”]

Komplek candi Arjuna dari sudut Sembadra

Komplek candi Arjuna dari sudut Sembadra

Mari kita memasuki kawasan candi dengan ketinggian diatas 2000mdpl ini. Mulai dari Candi Sembadra, simbol putri pyayi Jawa nan ideal. Istri keempat Arjuna ini seorang putri lembut, anggun, tenang, sosok istri yang setia serta patuh dengan nama kecil Rara Ireng. Banyak pasangan muda yang menepuk perut bumil seraya berharap janin di rahim memiliki sifat Sembadra.

Candi Puntadewa di komplek candi Arjuna Dieng

Candi Puntadewa di komplek candi Arjuna Dieng

Candi Puntadewa sang pembarep Pandawa berada di sebelah kanan candi Sembadra. Puntadewa sang raja Yudistira simbol kebesaran Pandawa. Candi ini sedang dalam masa pemugaran.

Melangkah ke candi Srikandi. Srikandi salah satu isteri Arjuna yang fenomenal, gesit, trengginas, pemberani. Pemanah unggul pada masanya dibarengi dengan sifat welas asihnya. [“Mbok, kenapa ya Den Ayu Wara Srikandi menerima tetamu di musim penghujan, para pemuda lagi” “Hush, ndhuk tidak baik main tuduh, Wara Srikandi memberi tempat berteduh teruna kebun yang sedang ngangsu kawruh, itu tukang kebun sedang mengawalnya”]

Candi Srikandi di komplek candi Arjuna Dieng

Candi Srikandi di komplek candi Arjuna Dieng

Penari di Candi Arjuna

Penari di Candi Arjuna

Sebagai candi utama adalah candi Arjuna ditandai ukurannya yang paling besar berukuran 6m x 6m. Pintu masuk menghadap ke arah Barat dihiasi dengan kala makara tolak bala. Candi ini paling banyak disinggahi pengunjung. Beberapa penari saat cuaca cerah akan perform, sayang kunjungan saat hujan pengunjung hanya sempat berfoto bersama. [Ditemukannya prasasti berangka tahun 731 Caka (809 M) di dekat Candi Arjuna dapat menjadi petunjuk pembangunan candi sekitar awal abad IX M.] Candi ini paling menonjol di arena kompleks dengan bangunan atap berjenjang dan menara kecil di setiap sudutnya. Bukti nyata kebesaran jiwa akulturasi Hindu-Jawa. Penamaan candi mengikuti pola pewayangan Jawa. [“Ndhuk, menjaga setiap sudut hati dan semakin mersudi ati ke arah atas adalah hakekat setiap titah utamanya punggawa praja” kilah Mbok Cangik lirih]

cagar budaya komplek candi Arjuna

Cagar budaya komplek candi Arjuna Dieng

Makjranthal…..genduk Limbuk lari nggeblas ke tengah lapangan berumput hijau, tangisnya kembali pecah sesenggukan. Sambil terengah simbok Cangik cincing jarik mengikutinya. “kenapa to, ndhuk?” “itu tuh….” Jemari Limbuk menunjuk ke arah candi Semar yang penuh pengunjung berpayung.

Kompleks candi Arjuna dari sudut Arjuna

Kompleks candi Arjuna Dieng dari sudut Arjuna, paling kanan adalah Candi Semar

Candi Semar dikenal sebagai candi perwara, penyerta maupun penjaga letaknya dihadapan candi Arjuna. Dalam pewayangan Jawa, Ki Lurah Semar Badranaya dikenal sebagai pamomong penjaga dan pembisik para bendara Pandawa, pengingat kebersihan hati nurani dalam menjalankan tugas kenegaraan.

[“Ndhuk, pengunjung berpayung kan belum tentu pengagum kangmasmu Bagong, mereka mau berjumpa dengan kang ramanya yaitu Lurah Semar” “Bukankah kyaine menasihati kamu untuk membuat pendekatan bermartabat untuk mengajuk hati pujaanmu” bujuk mbok Cangik kehabisan akal. Sementara sepasang mata belok menatap entah dengan sorot puas ataupun cemas dari arah candi Semar. Bagaimana kelanjutan kisah cinta Limbuk-Bagong, mari kita tanyakan pada ki dalang wayang slenca…..]