Tag

, ,

Jaguni

Menghadiri  jagongan atau kondangan ataupun pesta perkawinan tentunya tak asing bagi sahabat. Menggabungkan hadir di kondangan sekaligus kopdar hingga menjadi kondaran istilah Dhimas NH ataupun kopdangan juga kerap dilaksanakan oleh teman-teman blogger. Jagongan juga bisa menjadi ajang reunian teman sekolah sehingga menjadi jaguni.

Jika sahabat hadir dalam jaguni sebagai sahabat sang pengantin, bisa diasumsikan sahabat adalah calon pengantin ataupun pasangan pengantin muda. Kerumunan mengobrol dengan heboh, wajah-wajah cerah saling menyapa tambah ina, tambah inu loh kamu, rentang antara memori terakhir tentang sahabat dan saat jaguni belum terlalu lama, maksimal belasan tahun.

Lah kalau sahabat hadir dalam jaguni sebagai sahabat yang hamengku gati atau orang tua pengantin alias yang mantu, bisa dipastikan sahabat adalah anggota persatuan life begin at forty ….. dengan masa keanggotaan ekaan hingga belasan tahun. Rentang antara memori terakhir dan saat jaguni bervariasi dari barusan berjumpa hingga sekian puluhan tahun tidak berjumpa.

Pertengahan Mei lalu, saya datang ke jaguni sahabat SMA yang mantu di Yogya. Antusiasme telah terbangun sejak dari rumah, saling kontak dengan sahabat lama dan janjian masuk bareng, mengingat sejak awal tahun 80an saya tidak berjumpa dengan sahabat yang mantu, blaik bila saat salaman beliau merasa tidak kenal dan memanggil petugas untuk mendeportasi.

Kerumunan kami makin meluas, meski peserta jaguni kurang dari sepuluh orang, kami yang tersebar di berbagai kota ini masing-masing datang sekompi, ada yang hanya sepasang ada yang bersama keluarga. Nah inilah gayengnya, saat ngobrol gayeng aneka gaya muncul, ada yang sangat supel bersapa akrab ke sana dan ke sini dengan pembicaraan yang sangat nyambung, nah pastinya ini sahabat yang relatif kerap bersilaturahmi. Kerap mengupdate memori dengan data sahabat sehingga perubahan selama sekian dasawarsa terakumulasi secara gradual, dari sangat lugu ramping, berubah bersuara dewasa berat tampilan kalem hingga tampilan teranyarnya.

Beberapa ngobrol rame kemudian tak tahan menarik sahabat ke samping tanpa kentara seraya bertanya yang berbatik merah beliau siapa ya …  Ada lagi yang langsung saja mengaku, eh sesungguhnya saya dan anda siapa ya seraya mentertawakan kelupaan diri. Ooh tidak bisa dipungkiri memori sekian dasawarsa telah tergeser atau tertumpuk memori baru sehingga benar-benar kerepotan mengundang memori lama meski kadang sudah dibantu dengan potongan petunjuk mirip di kuis siapa dia. Imajinasi dan antisipasi mengalah pada rentang waktu.

Tanpa terasa jaguni bikin betah ngobrol, hingga saatnya rombongan pengantin beriringan pulang, kumpulan ngerumpi malah bertambah dengan yang mantu sesaat ikut ngobrol dan pastinya foto bareng. Kelompok makin bergeser ke pintu keluar terusir dengan tidak kentara oleh petugas gedung, mau dilanjut ngobrol di tempat lain, masing-masing kami harus segera pulang, termasuk saya yang harus mendaki dan menuruni punggung Merbabu.

Terima kasih sahabat, melalui jaguni tali persahabatan lama teruntai kembali. Nah seberapa mudah sahabat mengenali sahabat lama yang tidak berjumpa selama sekian dasa warsa?