Tag

, , ,

Tekstur Java Overland Nduren Tour

Duta Persahabatan Tekstur (kolase foto dari WAG Tekstur)

Di balik duri ada kenikmatan, arkian demikian makna durian. Nah di balik nduren ada kisah persahabatan yang tak terbantahkan. Mari ikuti Tekstur Java Overland Nduren Tour.

Duren alias durian (Durio) siapa tak kenal? Buah dengan kulit tebal berduri tajam. Daging buah menguarkan aroma wangi tajam yang khas. Indera rasa mendeteksi paduan legit pahit dengan komposisi yang variatif.

Perburuan dilakukan oleh para penikmat. Kata nduren bagi kami warga tekstur bermakna sangat khas. Nduren melanglang antar provinsi, dilakukan oleh para alumni teruna, diantara kesibukan nyata yang tak terkira. Pewujudan misi persahabatan yang tidak biasa.

Awal Ceria

Hiace nyaman mengantarkan 8 penumpang berangkat dari DKI menapaki toll trans Jawa. Kisah nduren Mas Nde, mbak En, mbak Noen, Uni Nid, Teh Met, Cak Wok, Kang Tyo dan Sam Ndut dimulai. Aba aba dan warta digelar sepanjang perjalanan.

Perhentian pertama, mari nikmati empal gentong di Cirebon kota asalnya. Empal Gentong semakin gurih nikmat karena perjumpaan dengan Kang Hadi. Kebayangkan serunya persahabatan. Keliru sebut nama pun sedikit lupa mengenali sahabat tak terelakkan. Terentang jarak waktu antara perpisahan saat unyu dan kini perjumpaan kembali.  

Bersyukur dan mengagumi stamina para sahabat petualang nduren ini. Kota Solo menjadi perhentian berikutnya. Mbak Ninuk salah satu warga tekstur yang bermukim di Kota Bengawan ini. Tak puas dengan ngobrol sesaat, beliaupun bergabung dengan rombongan menuntaskan sebagian rindu.

[Percakapan via tilpun, mbak Ninuk mengisahkan betapa riuhnya saling ngobrol. Serasa teruni asyyik ngobrol dengan teksturwati sekamar. Mengajar daring menjadi berkah, beliau bisa tetap jalankan tugas nyangkul seraya ngumpul teman tekstur.]

Perjalanan Solo Yogya, para sahabat sempatkan singgah di Abhayagiri – Sumberwatu Heritage Resort. Foto ngariungan dikirim via WAG, 9 teksturer pengamat Kota dari ketinggian Sumberwatu. Serasa praktikum foto udara zaman baheula.

Nduren di Yogya

Pagi hari di Kota Gudeg diawali dengan aneka ragam kegiatan. Kang Tyo sempatkan blusukan di pasar Beringharjo, sebagai bukti beliau sertakan unggahan foto sarapan di angkringan. Siap dengan aktivitas hari baru? Lanjuut yook.

Sabila Farm menjadi jujugan berikutnya. Kebun buah naga di Kaliurang berlatar G. Merapi. Mas Gun Sutopo sang empunya beliau kakak angkatan kami TNH14. Jadilah para sahabat teksturer penikmat kebun dengan aneka gaya.

Nah ini dia bagian nduren harafiahnya, Bhumi Durian daerah Sleman Yogya. Kepiawaian sahabat ndurener menjajal rasa dipuaskan di area ini. Masing-masing menikmati sesuai dengan kapasitas dan toleransi ketahanannya.

Aneka unggahan foto nduren kembali menghiasi laman grup percakapan. Menegaskan makna nduren bagi warga tekstur lebih dari perburuan dan menyantap durian. Nduren sarana merawat persahabatan membuhul ikatan rasa persaudaraan.

Bukti tekstur nduren (kolase foto dari WAG Tekstur)

Warna-warni agribisnis durian. Teringat era bluuk durian matang pohon jatuh di kebun lalu esoknya digendong di tenggok alias bakul atau dipikul untuk dijual. Kini marak aneka spot tempat menikmati durian dengan nyaman. Setiap jenis dipajang dengan penjelasan akurat. Pembeli dapat menikmai sesuai selera tanpa khawatir tertipu rasa.

Memberi kesempatan kelezatan dan gizi durian merambah semua bagian tubuh, rombongan 8 sahabat kembali melanjutkan perjalanan Yogya dan singgah di Salatiga melalui jalur Timur.

Salatiga, ngobrol nostalgia dan nothol

Melongok dari grup percakapan, para sahabat sempatkan singgah rumah pojok di Lapangan Pancasila. Beramai-ramai menjadi seleb video sambil menyerukan nama sahabat tekstur di rumah beliau. Alamak indahnya persahabatan. Termehek-mehek nggregel lah Mas Edprem di Bogor, para sahabat menyambangi ndalem keprabon di PanSi.

Salah satu bonus acara Tekstur Java Overland Nduren Tour adalah mbak Noen sowan ke rumah keprabon di Salatiga. Rancangan awal rombongan dari Yogya akan ke Semarang dengan singgah di Banaran Kopi di Bawen. Para sahabat sangat lentur menikmati perjalanan. Mbak Noen dengan sigap handle acara.  

Entah mengapa, bagi simbok menapaki undakan tangga memasuki rumah mbak Noen menghadirkan rasa nggregel. Ini salah satu pyayi sepuh di kota kami, seperti halnya orang tua Mas EdPrem. Kediaman rama ibu mbak Noen bersebelahan dengan kebun juragan, setiap nyangkul saya dapat menatapnya.

Setiap niat hangat didukung oleh sasmita alam. Selama singgah di Salatiga, lah hujan mengguyur cukup deras. Memberi kesempatan kami dapat ngobrol cukup lama dengan riuh. Ngobrol sambil nothol alias ngemil pastinya tidak terasa.

[nothol arti harafiahnya makan secara langsung dengan paruh. Lah tentunya kami tidak secara harafiah melakukannya kan ya. Tata laksana menyantap hidangan tetap dengan SOP standar. Ada rasa yang hendak dimasukkan melalui kosakata nothol, yaitu rasa sukacita yang mengalir secara alami di hati setiap kami]

Yege Resto dan Pawon Yege di halaman rumah Mbak Noen jadi istana ngobrol kami. Durian di lambung mendapat pasangan maksi ala pawon Yege. Para mamak berseru riuh mendapati peralatan sajian blirik.

Mangut manyung, garang asem, pepes jamur duh aromanya menggugah selera. Bakwan jagung, pisang pun singkong cabe garam sayang dilewatkan. Wedang uwuh aneka kopi menghangatkan tenggorokan di deras hujan.

Ada lagi loh yang ikutan ngariung bersama tekstur yaitu yu Juminten. Saat mas Joko kakak mbak Noen menawari wedang Juminten, spontan simbok menyeru rasanya khas dan harus dicoba. Paduan beras kencur, sereh pun jeruk nipis. Ini tampilan saat menyantapnya tahun 2013.

Wedang Juminten Salatiga

Ngobrol nostalgia meluncur deras……

Mulai lagu Gaudeamus igitur (“Karenanya marilah kita bergembira”), lagu yang dinyanyikan saat wisuda. Setelah kami menua menghantarkan anak-anak wisuda di aneka universitas, rasanya lagu ini menjadi penciri kampus hijau. Melodi lagu yang selalu sukses membawa kami mewek padahal lirik berbahasa Latin yang sulit kami lafalkan apalagi pahami.

Saat mengulik nilai, kami terbahak bersama. Weladhalah dari seratusan lebih angkatan kami koq ya yang lulus berpredikat SM dengan IP di atas 3 cuma seuprit. Bro Rudy wakilnya, anda di mana pada dikangenin kawan-kawan nih. Nak kami senasib sepenanggungan lulus dengan IP pokokmen lulus

Kalau kini marak gelar ganda, kami 44 tahun lalu sudah melakukannya. Wkwk Mas Nde tertuduhnya, sukses menyarikan ternak tanah, juga menggandeng teksturwati mbak En.

Belajar dan seni adalah kesatuan. Teringat penggenjreng guitar angkatan kami olala Mas Tyo, alm Een-nya Uni Nid juga mas Haryadi. Pemetik guitar jadi salah satu modal cari pacar celetuk Mas Tyo-nya Mbak Ira.

Siapa bilang mahasiswa melulu kutu buku? Kami adalah AMBISI Angkatan Mogok Belajar Inginkan Situasi Stabil. Yup kami angkatan 78 saat maraknya Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) sarat dengan demo dan mogok belajar di awal nyemplung kampus. Buah dari piawai demo jadi pintar merawat hati konstituen ya mas Nde hehe…

Kami generasi awal S1 program sarjana 4 tahun. Sistem yang diterapkan model kenaikan kelas bukan SKS murni sampai sekarang. Salah satu nostalgia adalah perkuliahan, mas Ndut mengingat saat mendapat teguran kasih dosen untuk tidak diskusi sendiri saat beliau mengajar.

Sungguh kami mengenang masa pembelajaran. Bersyukur dengan cara para dosen mendidik dan memperlakukan kami. Benih profesionalitas dan humanistik yang beliau tanamkan. Hayu pada masih ingat ujian open book oleh Pak Weis? Lah open book koq ya kita nggak bisa jawab, bersyukur lulus.

Salah satu kunci merawat keakraban kelompok adalah nggak bahas detail agama/kepercayaan, kesukuan alias ras dan pilihan politik. Itu juga yang menyatukan kami tekstur. Lah siang ini kami ber 9 ngobrol gayeng ya Cak Wok, Teh Met, Uni Nid.

Waduh masih segambreng nostalgia tak terstruktur kami. Melompat sesuai ingatan yang mencuat. Pertanda alam berbicara dan kami tunduk taat. Hujan mereda saatnya mengucap sayonara. Jumpa di lain kesempatan.

Sayonara sampai berjumpa pula

Persahabatan Tekstur (Kolase foto dari WAG tekstur)

Dolan dan belanja satu kesatuan. Foto terunggah di WAG, para sahabat belanja. Pastinya perwujudan kasih sayang buat keluarga yang ditinggalkan dolan. Mendukung UMKM dan PAD daerah yang disinggahi hehe, tekstur pasti punya banyak alasan.

Aloo Mas Ipung, senang melihat unggahan foto pada ngehik tahu pong dan Sam Poo Kong di Semarang. Tergenapi celotehan para sahabat, peserta Tekstur Java Overland Nduren Tour adalah 9 orang. Delapan peserta tetap, peserta kesembilan bergantian di persinggahan antar propinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan DIY.

Selamat jalan kembali ke DKI para duta persahabatan tekstur. Nah kan terbukti di balik nduren ada kisah persahabatan indah yang tak terbantahkan. Wow tulisan panjang, simbok menuliskannya sambil berkaca-kaca haru, yo wis ben dibilang lebay hiks.

Ini tulisan ke 3 dari sequel Tekstur Blusukan awal 2022
Menu Pembuka Tekstur Java Overland Nduren Tour dan Teksturwati Merenda Rindu