Tag

, ,

Sawo Afrika si Buah Ajaib

Saat bermain di kebun sahabat, terkesima dengan tampilan tanaman dalam pot yang beliau labeli dengan miracle fruit, African magic fruit, buah ajaib, sawo Afrika. Buahnya berwarna merah cerah kontras dengan warna hijau daunnya, beberapa calon buah nampak bergerombol terbayang eloknya saat memerah serempak. Bentuk buahnya sangat mirip dengan sawo kecik namun berukuran mini alias mungil sebesar buah jamblang.

Sawo Afrika

Sawo Afrika (Synsepalum dulcificum) alias buah ajaib

Penasaran dengan pelabelan Afrika selain merujuk pada asalnya, terasa konotasi untuk yang berukuran mungil dilabel Afrika [terinspirasi dari postingan Mbak Monda tentang bunga teratai berdiameter terkecil sebesar satu sentimeter asal Afrika yang ditengarai hampir punah] Sebaliknya buah yang berukuran besar dilekatkan dengan label Bangkok.

Penelusuran lebih lanjut, sawo Afrika alias Synsepalum dulcificum yang di daerah asalnya Afrika Barat disebut agbayun, taami asaa dan ledidi ini termasuk anggota famili Sapotaceae keluarga sawo. Lantas dari mana predikat si buah ajaib?

Konon setelah makan buah ini, indera pengecap kita diblok oleh rasa manis. Ampuhnya rasa manis ini menyebabkan rasa buah yang sangat asam semisal lemon atau jeruk pecel yang kita cicip setelah makan sawo Afrika, terasa manis di lidah. Jadilah sensasi yang ‘miracle’. Penjelasan lanjutnya buah ini mengandung glikoprotein yang disebut miraculin. Pada pH netral miraculin memblok reseptor di lidah kita, pada pH yang rendah atau asam saat kita mengkonsumsi lemon atau jeruk pecel yang asam, ikatan miraculin di reseptor mengaktifkan sensor rasa manis sehingga rasa asam dipersepsikan dengan rasa manis. Fenomena ini berlangsung selama hampir satu jam hingga glikoprotein larut oleh ludah kita.

Miracle fruit

Miracle fruit (Synsepalum dulcificum) by Inglett

Inglett dkk. (1965) meneliti tentang Taste Modifiers, Taste-Modifying Properties of Miracle Fruit (Synsepalum dulcificum) yang dipublikasikan dalam J. Agric. Food Chem.196513 (3), pp 284–287. Tulisan ini menjadi dasar dari banyak penelitian berikutnya ditandai dengan sitasi sebanyak 45 kali. Secara pabrikan buah ini juga telah diolah dan dikemas dalam bentuk tablet untuk meningkatkan kepraktisan konsumsinya.

Synsepalum dulcificum-insulin resistance

Synsepalum dulcificum-insulin resistance

Tak hanya itu, penelitian selanjutnya Chen dkk. (2006) tentang Improvement of insulin resistance by miracle fruit (Synsepalum dulcificum) in fructose-rich chow-fed rats, mengupas peluang pemanfaatan sawo Afrika ini sebagai materi pengobatan. Tulisan ini telah disitasi 25 kali. Semoga semakin berkembang penelitian untuk mengoptimalkan pemanfaatan buah ini sehingga keajaiban buah ini tak hanya berhenti di sensasi lidah tetapi juga mendukung dunia farmasi alami.

Saya pribadi belum memiliki tanaman ajaib ini namun nampaknya cukup mudah mengembangbiakkannya, cukup dari bijinya yang masak tumbuh tanaman baru. Tanaman ini seolah mengajarkan, mari taruhlah rasa manis di hati, sehingga semua terasa manis dalam hidup. manis pahit kehidupan yang menjadi manis dengan miraculin jiwa rasa syukur, bukankah hati girang oleh syukur adalah obat. Siapa mau mencoba menanamnya, bisa di pot tanah ataupun pot jiwa kita?