Tag

, ,

House of Sampoerna (Gendhuk Limbuk dan Nyonyah Siem Tjiang Nio)

House of Sampoerna

House of Sampoerna

Memasuki bangunan megah berpekarangan luas, Gendhuk Limbuk menata langkah seraya mengingat pesan simbok Cangik untuk mengoptimalkan indera pembelajaran. Pelan diketuknya pintu depan berhiaskan kaca pateri timah yang dibuka dengan sigap oleh petugas yang menyapa ramah. Mengedar pandang mata tertambat pada foto sepasang toewan dan nyonyah.

Pintu berkat

Pintu ‘berkat’ House of Sampoerna

Ibu dan Bapak Liem Seeng Tee

Ibu dan Bapak Liem Seeng Tee

‘Panggil saya Ibu Siem Tjiang Nio, perkenalkan ini suami saya, Liem Seeng Tee. Hari ini Gendhuk Limbuk menjadi tamu keluarga kami, saya akan mendampingmu biar kita bisa bicara antar perempuan’ ‘Untuk catatan museum dan sejarah, bukankah sahabatmu Monda Siregar telah meramunya dengan piawai?’

Ibu Siem Tjiang Nio menggandeng tangan Limbuk menuju almari koleksi kebaya beliau. Binar bahagia melumuri sinar mata seorang ibu saat menunjukkan dokumentasi keluarga di ruang tengah, perusahaan keluarga yang berkembang menjadi perusahaan raksasa dengan pimpinan antar generasi hingga kini menjadi bagian perusahaan multi nasional di tangan PT Philip Moris Indonesia. Dokumentasi seragam marching band Sampoerna yang legendaris. Beliau tersenyum maklum saat keponakan Limbuk bergaya bak mayoret. Pun saat Limbuk minta time out sejenak berpose sebagai Rara Mendoet gadungan di warung rokok.

Saat Limbuk membatin betapa enaknya dilahirkan sebagai kongomerat serba ada, dengan lembut ditariknya si gendhuk ke lantai atas. Secara wadag di areal ini disajikan aneka merchandise Sampoerna, dinding yang mewadahi naluri selfie pun ruang tinjau pabrik di lantai bawah. Sayang kami berkunjung di hari Minggu sehingga aktivitas buruh linting rokok lewat dari amatan. Ibu Siem Tjiang Nio menuntun Limbuk ke replika wejangan Semar kepada anak-anaknya Gareng, Bagong dan Petruk, ‘Bapak Liem Seeng Tee juga belajar dari Ki Lurah Semar’ bisiknya dalam kebanggaan seorang istri. Jari lentik beliau menunjuk ke ruang pabrik, ‘kemakmuran datang dari kebersamaan dan seyogyanya kemakmuran untuk kebersamaan’ demikian pesan yang coba Limbuk sarikan.

Wejangan Semar

Wejangan Semar di House of Sampoerna

Kemakmuran bersama

Kemakmuran bersama

Melihat sinar mata Limbuk yang tidak mudheng,  Ibu Siem Tjiang Nio mengajak ke gedung samping di galeri seni di belakang kafe. Ditatanya dingklik agar Limbuk duduk sejenak di belakang para punakawan, ‘dengarkan ndhuk kisah Rama Semar’

Gendhuk Limbuk nyantrik

Gendhuk Limbuk nyantrik

Dibabarnya kisah awal perjalanan Liem Seeng Tee cilik hingga sebatang kara di negeri orang. Pasangan muda Liem Seeng Tee – Siem Tjiang Nio yang memaknai garwa (sigaraning nyawa – belahan jiwa) yang saling mendukung terlihat dari replika warung, sepeda armada transportasi beliau, pernik tembakau dan racikannya hingga berkembang menjadi seraksasa kini.

Museum

Museum Sampoerna

Museum bergaya kolonial (1862) yang menjadi milik Liem Seeng Tee pada tahun 1932 ini laksana visualisasi proses dan kejayaan dari biografi mereka. ‘Kerja keras dan kerja sama, masih ingat petuah Tatag-Teteg-Tutug kan ndhuk hasil melimpah semisal Rolls Royce bagian dari bonusnya’ demikian pesan pamungkas Rama Semar. Terima kasih Ibu Siem Tjiang Nio, kehebatan suami terjalin dengan dukungan istri….

Catatan:

*model postingan kehabisan gaya, karena House of Sampoerna ngetop dan diulas banyak penulis

*Wisata sejarah yang mengutamakan profesionalitas layanan dan sangat layak dikunjungi ini web site resminya. http://houseofsampoerna.museum/