Lusin dan Gros

Hari ini Rabu 1 Februari 2012, ada yang menulis 1-2-12. Muncul berbagai interpretasi.

Versi satu. Lho koq nadanya mirip nyanyian pagi hari di pasar, mari …. silakan dilihat … ditawar, selusin piring cantik bonus selusin sendok dengan harga paket-an piring plus sendok. 1-2-12 mirip juga 12-12 alias 12 lusin (selusin lusin) yang juga 1 gros.

Menurut Jeng Wiktionary 1 lusin adalah satuan jumlah  yang terdiri dari 12 unit, 12 buah. Satuan ini biasanya digunakan untuk barang pecah belah ataupun barang-barang yang tidak dijual eceran atau bijian. Sedangkan 1 gros adalah satuan jumlah 12 lusin alias 12×12 yaitu 144 buah. Misalnya penjualan kancing hias dengan paket kemasan 1 gros.

Penjual skala grosir tidak melayani pembelian eceran namun partai besar mirip dengan satuan gros. Penjual batik di Pasar Klewer ataupun Pusat Grosir Solo (PGS) umumnya menjual batik dalam partai besar (dengan satuan kodian, 1 kodi = 20 lembar/helai/potong) meski juga melayani pembelian eceran. Saat ini satuan lusin  apalagi gros semakin jarang digunakan. Untuk pembelian mobil yang akan digunakan sendiri tentunya tidak menggunakan satuan lusin apalagi gros, kecuali hendak dibagi-bagi. Bagaimanakah kisah lusin dan gros di kota sahabat?

Versi dua.  1-2-12 merupakan untaian waktu, adakah merujuk 12 peristiwa dengan 12×12 fakta bermakna? Atau adakah yang mengingat peristiwa tepat 12 tahun yang lalu?

Orang tua menuturkan menghitung usuk penyangga genting (sekarang tertutup plafon di atap ya)  menjelang tidur dengan hitungan 1, 2, 1, 2, 1 dst membuat cepat tertidur dengan  senyum tersungging di bibir. Menghitung usuk sebagai simbul dari ‘menghitung’ dan mensyukuri berkat sehingga tertidur dalam buaian syukur. Atau seperti Eda Monda yang berkenan membagi selusin info? Bagaimanapun, lusinan peristiwa berharga dan ber gros-gros kebahagiaan menyertai dan menanti kita.