Tag

, , ,

Melongok Stasiun Bedono Yook

Sahabat kebun RyNaRi, apa khabar? Kangen menyapa pembaca yang mampir di kebun ini. Kali ini Bersama melongok Stasiun Bedono yook…

Stasiun Bedono Jawa Tengah

Kembali perjalanan ke Yogyakarta. Kangen melalui jalur Ambarawa-Magelang-Yogya. Jalur yang relatif dihindari karena sering macet. Kebanyakan memilih jalur via Kopeng mendaki Merbabu, Magelang Yogya. Ada pula yang memilih melalui tol keluar di Boyolali atau Kartosura baru ke Yogya.

Pilihan Simbok memang nyleneh. Berangkat pk 11 mari selusuri Salatiga Ambarawa melalui jalur Banyubiru. Menyusur sela tebing perbukitan dan tepian Rawa Pening. Banyak ampiran menawan bila mau. Kawasan dolan Banyumili yang memadukan kuliner dan wisata. Begitupun wisata Pemandian Muncul dan Rawa Pening di Bukit Cinta yang kini berdandan makin cantik.

Kami melaju dan baru singgah sejenak usai Banyubiru. [Yuup jalur Banyubiru Salatiga adalah jalur mobilisasi prajurit antar Salatiga dan satuan Banyubiru sejak masa Belanda berkuasa.] Lansekap titik singgah adalah dataran yang sering menjadi luapan Rawa Pening saat air berlimpah. Kini sudah sangat jarang terjadi rob salah satu indikasi penyusutan air.

Intip Merbabu dari Banyubiru

Melongok ke kiri adalah jajaran bukit. Terlihat puncak Merbabu mengintip dari ketinggian melongok Rawa Pening. Sebelah kanan terlihat hamparan sawah yang merupakan tepian Rawa Pening. Beberapa pemancing menikmati kegiatan di tepian kali pemasok air Rawa Pening. Hmmmm… mematerikan rasa perubahan bentang alam.

Tepian Rawa Pening dari Banyu Biru

Lanjut, melaju ke kiri di jalur lingkar Ambarawa. Kini jalur Bawen Magelang lumayan terhindar dari pasar tumpah di pusat kota Ambarawa. Jalur ini sangat memanjakan penikmat bentang alam. Perpaduan rawa, sawah dan jajaran bukit membuat mata terbelalak takjub.

Berbekal panduan GPS, usai SPBU Jambu menatap sigap ke arah kiri tuk belok ke stasiun Jambu yang tanpa tanda arah. Baiklah, sedikit menyusur jalan pemukiman 200an meter. Olala terlihat bangunan mungil bercat putih di tengah sawah.

Stasiun Jambu di Tengah Sawah

Berdiri tegak stasiun Jambu. Stasiun kecil perhentian dari jalur kereta api Ambarawa-Secang pada zamannya. Pernah diaktifkan kereta uap jalur wisata Ambarawa-Bedono melewati stasiun Jambu. Sayang kini jalur wisata kereta uap tinggal jalur Ambarawa-Tuntang.

Stasiun Jambu Menatap Bukit

Sejenak melongok stasiun dengan penanda pelestarian. Bangunan mungil dengan ruang tunggu dan loket tiket. Di hadapan terpampang deretan bukit, melongok ke kiri arah stasiun Ambarawa dan ke kanan arah punggung bukit stasiun Bedono.

Mari lanjut….. mendaki perbukitan, berbagi jalan dengan aneka kendaraan besar jalur ramai Magelang-Semarang. Melipir tepian tebing di sisi jalan raya yang terlihat jalur rel kereta. Mengikuti insting saya minta tolong minggir dan mendaki jalur semen.

Rel Bergerigi Jalur Jambu Bedono

Amboi apiknya… inilah jalur rel bergerigi khas jalur perbukitan. Rancangan lebar rel yang disesuaikan dengan derajat kemiringan jalur. Lansekap jalur melengkung bersebelahan dengan jalur jalan raya. Saat saya tunjukkan kepada sobat kebun pelintas jalur tersebut, beliau menyeru bukankah itu pengkolan yang dekat dengan kios buah local?

Hehe… selama ini pada asik borong buah tanpa menyadari di atasnya ada permata sejarah teknologi perkeretaapian. Beruntung berjumpa dan ngobrol dengan 2 bapak yang sedang istirahat. Beliau dari tegalan di bawah bukit mendorong rumput pakan sepanjang rel bergerigi. Yuup kreativitas penduduk sekitas membuat peralatan dorong ala troli di supermarket dengan modifikasi memanfaatkan rel bergerigi.

Setelah melewati Kopi Eva yang legendaris mari bersiap melongok stasiun Bedono. Nah kalau stasiun Bedono terlihat plang penandanya, ancar-ancar juga mudah berhadapan dengan Ponpes Syeh Puji. Stasiun terlihat begitu kita belok jalur masuk. Loh koq ya selama ini simbok belum terbersit mampir ya.

Sedikit ragu melihat jalur masuk yang tertutup. Keramahan penduduk sekitar yang mempersilakan masuk menepis keraguan. Alamak cantiknya bangunan stasiun Bedono ini. Bangunan berumur lebih dari seratus tahun yang tetap berdiri kokoh juga terawat bersih.

Stasiun Bedono Mari Singgah

Apresiasi atas dedikasi petugas, sayang tidak berjumpa bertepatan dengan waktu sekitar sholat Jumat. Bangunan stasiun anggun dengan fasad depan khas stasiun bangunan lama. Ruang tunggu lumayan luas dengan loket tiket bersebelahan dengan kantor kepala stasiun. Tulisan ini tanpa dilengkapi sumber Pustaka seperti biasanya (hehe simboknya lagi males ngulik).

Mari ke emplasemen…. Terlihat tuas sinyal di emplasemen berlantai kotak-kotak mungil berwarna kuning. Menurut bacaan ubin didatangkan dari Belanda. Ubin dengan kekasaran tertentu untuk menghindari licin disesuaikan dengan pola curah hujan.

Stasiun Bedono Bagian Sejarah

Kereta yang melintas bersumber energi uap dengan bahan bakar kayu. Terlihat tandon air di hadapan emplasemen, corong penuang air di perlintasan. Juga meja putar arah lokomotif.

Pembelajaran rancangan holistik ekologis daerah tropis berbukit. Pastinya menjadi laboratorium studi rancang transportasi pun sipil bangunan yang tak lekang zaman. Penanda Cagar Budaya kiranya bukan sekedar label. Pengetahuan dan kearifan lokal dasar perakitan teknologi. Sekian menit menjadi pelongok tunggal, disusul oleh 2 pemudi yang juga singgah.

Waktu melongok cukup sudah. Kembali melaju kini menyusur perkebunan karet, juga kebun kopi dan rest area Banaran. [Kereen loh ada pabrik kopi, wisata kopi hingga museum kopi juga ada sajian batik Gemawang dengan corak kopi] Berkali mampir dan menyajikan pada beberapa tulisan di blog ini pun Kompasiana.

Integrasi antara potensi hasil bumi dan rancangan transportasi. Transportasi menjadi dasar distribusi hasil bumi sarana kesejahteraan.

Jalur selanjutnya menuju Magelang. Biasanya melongok ke kanan disapa ramah oleh tampilan duo Sindoro-Sumbing yang gagah. Sayang saat melintas tertutup awan. Saatnya makan siang nih. Magelang saatnya sop senerek ya. Eh teringat pastinya penuh yak arena bertepatan dengan waktu maksi. Rela menunda sejenak ah demi mampir ke sini…. Apaan ya?

Nah ini sudah melewati perbatasan Jateng-DIY. Ini loh tampilan maksi yang pengin dicoba. Brongkos daging bisa ditambah tolo dan tahu. Tampilan agak mirip dengan rawon (minus kluwak). Campuran daging, kulit buah mlinjo, ada kacang tolo alias kacang merah dan tahu. Kalau ditambah telur asin dan karak gendar tambah maknyus.

Brongkos daging-tolo-tahu

Nah sahabat kebun dapat menerka kan alasan simbok mampir ke warung ijo ini? Hiks kesamaan nama yang bikin penasaran. Kami duduk di warung lawas yang bercat hijau. Bagian belakang disambung dengan ruang luas bernuansa kayu jati. Bila mau santai dapat memilih di sebelah kanan warung, ada tempat parkir masuk, kulineran bernuansa pepotoan dan istirahat sejenak.

Mampir Stasiun Jambu dan Stasiun Bedono

Nah lanjut ya usai maksi tanpa mampir lagi. Jarum jam menunjukkan pk 15 saat sampai di tujuan utama alias 4 jam perjalanan. Membandingkan dengan peta google yang semestinya membutuhkan 3 jam perjalanan. Baiklah tambahan waktu 1 jam sangat seimbang dengan aneka ampiran kali ini utamanya jumpa Stasiun Bedono. Sahabat kebun penyuka Stasiun?

Salam sehat sukacita selalu.