Tag

,

TEHO Tresna TIA

Ini bukan kisah cinta berlumuran romantika serta banjir air mata, namun kisah cinta lokal di petak kebun antara thole TOHE dengan gendhuk TIA. TOHE dengan penampilan oke nan kece selaras sepadan dengan TIA nan sintal dengan pipi meranum semburat tomat. Keduanya adalah warga tlatah MGA yang diwengku oleh Bapak Mulyono Herlambang.

Benih produk anak bangsa

Benih produk anak bangsa

Di tengah maraknya bisnis benih import, kiprah pebisnis benih lokal ini sungguh menghibur. Dengan bendera MGA (Multi Global Agrindo) yang bermarkas di Kabupaten Karanganyar, pemulia dan penangkar benih ini menggerakkan banyak petani hortikultura. Bertemu beliau dua kesempatan, saat presentasi di Ungaran dan mengunjungi kebun beliau di Karangpandan postingan ini diramu.

Karyanya fenomenal banyak varietas yang dihasilkannya telah dilepas oleh Kementerian Pertanian menambah kekayaan varietas unggul diantaranya thole TEHO alias Terong Enak Hasil Oke. Pun gendhuk TIA (Tomat Indonesia Asli) sahabat BUBA (Buahnya Banyak). Penamaan hasil persilangan beliau unik, mari simak melon MAI (Melon Asli Indonesia),  LADIKA (Lahir di Karanganyar) maupun SUMO (Suka Usaha Melon). Timun ini Enak Rasanya (TERA) ataupun TINA (Timun Ini Naksir Anda).

Terong hitam vs ungu

Terong hitam vs ungu

Tomat karya anak bangsa

Tomat hasil persilangan anak bangsa

Usaha ini tentunya tak semudah membalik tangan, berawal di tahun 1993 koleksi indukan, persilangan, seleksi hasil silang dan pemantapan hasil hingga diperoleh SK pelepasan varietas sejak 2004 dan selalu dibarengi dengan pendampingan lapang. Kerja keras beliau menghantar beliau melanglang buana termasuk diundang demo hasil karya di hadapan RI1, menu makan siang RI1 terong teho dan tomat Titanikpun sempat dilansir sebagai apresiasi pemerintah. Pak Mul menganalogikan MGA ibarat perancang mode yang mencakup koleksi materi dasar, penelitian dan pengembangan, produksi barang jadi hingga pemasaran (plus layanan pasca jualnya).

Tidak selamanya usaha pemuliaan ini mulus, semisal saat melepas pare jamrud, beliau membagikan benih gratis kepada banyak petani calon konsumen untuk menjajalnya. Penasaran tidak banyak petani yang ingin menanam kembali, investigasi dilaksanakan. Olala … butiran jamrud yang menghias tubuh pare ini sebagai pengganjalnya. Lho?… Memang hasil panen tinggi, penampilan eksotik namun penanganan pasca panen petani yang masih sederhana, pare masuk karung dalam transportasipun tak jarang menjadi sofa mbakyu bakul walhasil butiran jamrud berguguran dan tampilan pare di tangan konsumen tak lagi indah. Yah diramulah sahabatnya si bintang hijau (green star) pare dengan badan mulus hijau segar yang lebih user friendly.

Ini bukan postingan iklan, semata apresiasi atas kerja keras pemulia tanaman. Selamat terus berkarya.

Iklan