Tag

, , ,

Pulang…..

Kata pulang sungguh sederhana, terdiri dari 2 huruf hidup/vokal dan 4 huruf mati/konsonan. Entah berapa kali sehari kita mengucapkannya. Kata pulang selalu menceriakan susuh keluarga saat anak burung menceriapkannya ke induk mereka. Tak perduli betapa sering dari jadwal mingguan hingga berjalin bulan. Tak peduli pula seberapa singkat dari semingguan hingga waktu singkat di Sabtu subuh hingga Minggu siang memanfaatkan liburan akhir pekan saja. Singkatnya waktu maupun panjangnya jeda kejadian terulang tak mampu mengubah terminologi pulang menjadi tilik atau menjenguk. Kata pulang mampu memompakan semangat, meniupkan rasa tenteram, kembali ke rumah, kembali ke asal, meringkuk di susuh yang membesarkannya dalam keluarga.

Ini nukilan kisah saat menemani Mas Tengah saat pulang dengan sejenak menikmati sore di tepian Rawa Pening di area pintu air keluar seputar Jembatan Tuntang. Hanya duduk di warung panggung, menikmati aktivitas di ekosistem rawa. “Mari induk kita pulang….” Mungkin itu yang dikatakan oleh ayam jago dan ayam putihpun mematuhinya, melompat dari satu sampan ke sampan lain untuk melangkah bersisian pulang ke kandang….

Induk...mari kita pulang...4.38 pm

Induk…mari kita pulang…

Perhatian mengamati nelayan di karamba sesaat terpecah saat seruan dengan nada lega gembira terucap dari seorang ibu muda, “mbah kung pulang….” Ujarnya sambil melambaikan tangan mungil kanak-kanak yang digendongnya. Tawa lebar dan lambaian tangan hangat dikirimkan oleh lelaki kekar berkulit gelap oleh tempaan panas matahari. Saatnya mbah kung pulang entah dari sawah di tepian rawa, atau menengok karamba ataupun memancing ikan. Mbah kung diiringi putri dan cucunya pulang ke keluarga yang menantinya.

Mbahkung pulang....4.44 pm

Mbahkung pulang….

Giliran pria bercaping mengayuh sampan ke tepian, menambatkannya dengan cermat diantara kawanan sampan, lalu haap…..  melompat ke bantaran rawa dan bergegas pulang kepada keluarga yang dikasihinya.

Pulang ke keluarga

Pulang ke keluarga

Belum semua bergegas pulang, bapak bercaping hijau seolah berkata. “Pulang….. sebentar lagi ya, Nak…. Jaring bapak belum meraup ikan, sebentar bapak melaju ke bagian tengah berharap sejumlah perolehan dari berkah Rawa untuk kita serumah. Tunggu bapak di rumah…”

Pulang sebentar lagi ya Nak...

Pulang sebentar lagi ya Nak…

“Induk.kita pulang….” Yuup kamipun beranjang meninggalkan panggung warung kopi. “Kita menyusuri Rawa Pening ya…” Oke artinya perjalanan cukup panjang nih melingkar Rawa Pening melintas dari Kecamatan Tuntang, Kecamatan Ambarawa, Kecamatan Banyubiru dan kembali pulang ke Kota Salatiga. Pulang selalu menghadirkan kehangatan, saatnya rehat melepas penat. Alangkah indahnya saat kami pulang di ruas Tambakboyo, mentaripun memberi aba-aba melalui pendar jingganya…masuk ke peraduan, pulang ke rumah ibu alam ketatawian kosmis senjakala penanda waktu pulang.

Pulang ke peraduan..5.02-5.13 pm

Pulang ke peraduan..