Tag

, , ,

Belajar dari Kisah Kambing

Kambing etawa

Kambing etawa

Ini kisah di cangkruk kebun, saat saya menuntun sepasang kambing eh kisah sepasang kambing di hadapan teruna kebun. Saya salin plek ketiplek narasinya dari kamus mas Kuka:

“Dua ekor kambing—satu menghadap ke Utara, satu ke Selatan. Di antaranya ada makanan. Terikat sedemikian rupa, keduanya tidak bisa membalikkan badan. Lalu, agar bisa makan?”

Setelah jeda sejenak memberi kesempatan mencerna cerita, saya minta sukarelawan untuk memperagakan posisi sepasang kambing. Peraga pertama menata diri, sepasang kambing yang saling ungkur ungkuran alias bertolak belakang dengan tatapan mata saling bingung. Peraga kedua mengambil blocking persis peraga pertama dengan tampilan lebih ekspresif masing-masing menandak-nandakkan tangan, memperjelas informasi tidak mungkin saling menemukan keranjang pakan.

Suasana cangkruk semakin riuh, cukup banyak yang penasaran. Teruna lain mencoba menjelaskan dengan narasi yang cukup panjang, lalu saya minta maju dan menunjukkan gerakannya. Pasangan ini saling membelakangi, lalu saling berjalan mundur untuk bergantian ‘menyantap pakan’ seraya menjelaskan, “kan situasinya hanya terikat sedemikian rupa sehingga tidak bisa membalikkan badan, tapi bisa maju mundur kan, Bu”

Kemudian peraga keempat dengan semringah unjuk jari menarik pasangannya yang kebetulan sesama mengenakan hem merah sehingga temannya bersorak ini mah sepasang banteng. Dengan sangat yakin mereka mengambil posisi saling berhadapan dan memperagakan nyam..nyam..dari keranjang pakan dengan wajah berseri. Persis dengan gambaran isi komen mbakyu Lois di postingan mas KK. “Kan ceritanya sepasang kambing, satu menghadap ke Utara, yang lain menghadap ke Selatan, tanpa ada keterangan saling bertolak belakang”

Tanpa pernyataan salah versus benar. Cangkruk kebunpun semakin semarak dengan paparan argumen kekuatan imajinasi interpretasi kisah sepasang kambing yang menurut Mas Kuka adalah olah raga imajinasi dengan lateral puzzle. Luar biasa, dengan ajian diam sejenak, boleh tutup mata atau keluar sejenak dari pokok informasi. Berolah imajinasi pola dengan merentang benang merah agar tidak terjerat alias kejiret fakta yang ‘seolah’ saling silang.

[edisi postingan ATM amati-tiru-modifikasi dari postingan sahabat]